Kamis, Agustus 7

Cerita Kata - 6

6.

di dunia apa lagi dan bukan tempat selain bumi
sepasang kepedihan diciptakan
agar mampu melahirkan ujung derita
sepasang kebahagiaan dihadirkan
agar kelak mengenang luka dalam duka

di seberang mata ada kata
ditumbuhkan bulir-bulir waktu
bersama air mata
dan juga yang selalu ingin nyata

kemarin, aku takut dilupakan matamu
juga senyummu,
yang pernah membuat bayanganku
serasa lebih nyata dari pada matahari

hari ini, aku takut merapuhkan pedihku
biar dia tumbuh jadi tali yang menggantung
membelit leherku dan membiarkan tubuhku
dipeluk angin bersimbah sepi

Senin, Agustus 4

Cerita Kata - 5

5.

lalu seluruh yang tertulis adalah lisan
namun membeku dalam kedinginan penuh ingin
setelah yang tak mampu dicapai menjadi
penolakan pada apa yang dihantarkan
engkau dan jiwa yang membawaku pada hari haru

lalu seluruh jawaban adalah raga
yang tak lagi mampu menyimpan ruhnya
setelah seluruh pengharapan menjelma hampa
menuju langit paling tinggi
yang meniadakan dunia dalam kata

Sabtu, Agustus 2

Cerita Kata - 4

4.

hingga hampa kuhimpun menuju hutan
tempat kau menimbun segala resah paling pedih
tempat aku membangun cemas di balik pohon cemara
kemudian tumbuh rindang yang senantiasa berbicara
tentang kerinduaan pagi pada matahari

jalan setapak diletakkan dalam mata
dan kepala, juga tangan serta jemari kita
yang tak lagi mampu merengkuh seluruh
yang di cita-citakan sejak akar mengenal tanah
sejak letak jiwa kita tersesat dalam rimba raya semesta
memenggal kesendirian kata
mengubur sepi memerdekakan perangainya

Cerita Kata - 3

3.

Zonder Jou

melalui surat dan nyanyian pagi kata-kata
telah kulahirkan ruang
yang dipenuhi gelembung-gelembung waktu
pecah satu per satu mengantarkan tubuhnya
kembali pada tiada

nyanyian pagi kata-kata serupa angin
yang ingin bersua pada dedaunan

di suatu kota yang kita mimpikan
dipenuhi tulip yang tulus mengabarkan
dirinya demi angan-angan masa lampau
yang kini benar-benar usang dihalau ketiadaan

Jumat, Agustus 1

Cerita Kata - 2

2.

kita bermukim dalam kata
setelah sekian lama kita curi dengan cara
yang entah bagaimana, dan mengapa
seluruh peluk menjadi kepak-kepak rapuh
menempu jauh jalan menuju rintang

seluruh bermula pada ketiadaan
langkah-langkah yang ditanggalkan bayang-bayang
mengurai perangai yang mencoba
mengumpulkan pikirannya
menikmati keheningan
membangun kenangan