Minggu, Februari 23

Hari Melepas Cemas


Meninggalkan keinginan sendiri dan pergi menemukan diri sendiri adalah hal yang menyakitkan untuk diri kita sendiri. Aku ingin menuliskan kesendirianku agar kau merasa bahwa apa yang sendiri telah datang menemani dirinya hingga tak ada lagi pertanyaan tentang bagaimana semua akan berakhir dan bermula dari ada hingga sekarang ini.

Dan pada mulanya, aku melihat diriku berada di bayang-bayang yang terlampu melambungkan dirinya bersama cemas. Menarik segala perkara cemas dalam kemasan yang belum pernah kita temukan. Suatu hari nanti, aku ingin memberikannya padamu atau mungkin akan membiarkannya terkemas rapi selamanya. Aku ingin kecemasan yang kukemas itu dikuburkan bersama jasadku. Di bulan Maret beberapa tahun ke depan setelah kutulis suara dalam surat kematian yang selalu kurindukan dan kusampaikan padamu.

Mungkin aku selalu menjaga niat untuk ingin bunuh diri dan lari dari hidup yang terlalu ramai. Di bawah pesan Tuhan dan di dalam catatannya malaikatnya, aku bersembunyi dan memohon kepada diriku sendiri, bila waktuku tiba akan ada seorang yang mengajariku untuk mengampuni diri sendiri yang berusaha untuk bunuh diri.

Seorang lain dalam pikiranku mungkin telah percaya pada apa yang pernah dikatakan Nietzche, dalam On The Advantage and Disvantage of History of Life bahwa manusia adalah satu-satunya binatang historis. Manusia tidak akan mampu melupakan sejarahnya, manusia telah tumbuh dari sejarah dan sejarah akan selalu menghantui masa depan manusia.

Tapi, seorang lain dalam cemasku selalu berpesan untuk berhenti merayakan cemas dengan mengemasnya dengan cara lain. Kau juga akan bertanya padaku, dengan mencemaskan diriku yang selalu dihantui dengan pertanyaan dari dalam diri yang berwujud duri. Di hari yang setengah gelap ini, aku menuliskan surat kematian untuk cemasku.

Masa lampau yang selalu aku anggap adalah wujud masa depan adalah kutukan dalam diriku. Perangai yang senang menerka jiwa dalam kebimbingan hari tak menentu. Ketakutan dalam diri yang berbeda dari hari ke hari adalah cerminan cemas yang telah aku rayakan sejak kelahiranku tertulis dalam lembar langit hingga dijatuhkan oleh hujan. Di tanamkan pada tanah dan ditumbuhkan waktu hingga berwujud seperti yang kau baca dan kau lihat.

Aku ingin meninggalkan diriku sendiri dan tak memikirkan apa-apa selain datang dan pergi pada penghabisan harapan yang disusun sedemikian rupa. Aku menuliskan sejarah pada malam yang kau inginkan, pada malam yang kita harapkan menjadi damba dari segala apa yang kita tuju.

Suara kepak sayap kupu-kupu mungkin menyimpan cemas saat menjaga angin yang setia menjaga bumi. Daun-daun yang jatuh diikuti reranting kering cemas setelah sebagian tubuhnya terpisah oleh pijakan seorang sepi pagi tadi. Seorang anak kecil memanggil-manggil ibunya yang telah dimakamkan seminggu yang lalu saat hujan deras malam kemarin, cemas telah memeluknya sangat erat.   

Perkara cemas ini hanyalah tulisan dari seorang dari dalam diriku yang berusaha berpisah dengan cemasnya, melupakan masa lampau yang terlalu penuh dengan perasaan kalah pada diri sendiri.

*
Jika kau ingin belajar tentang cemas, mungkin aku akan mengatakankan bahwa yang perlu kau cemaskan, tak lain adalah kecemasan itu sendiri. Kau belajar mencemaskan dirimu, yang sebenarnya cemas itu telah menjelma dalam dirimu, cemas itu berani mencemaskan dirimu sendiri.

Selepas ini akan kuikuti cemas itu, melihatnya bermain sejenak dengan bayangan diriku sore ini. Bila dia memanggilku tuk ikut bermain di dalam alamnya yang nyata, maka akan kuikuti bila kesimpulanku menyatakan hidup hanya pemaknaan cemas yang telah dikemas Tuhan, bersamaan dengan kelahiran kita di bumi. Dan melepasnya di hari kematian kita masing-masing.


Tapi, ini sekedar kemungkinan yang selanjutnya melahirkan cemas pada masa lampau yang kalau saja adalah benar masa depan yang senang memandang kita menjadi seorang yang selalu cemas.  


Hari Melepas Cemas, 23 Februari 2013