Minggu, Januari 26

Perihal Janji

Kepalaku telah jadi rumah bagi kebisingan dan sekaligus bagi keheningan. 

Aku terus melihatmu dan memahatmu dalam keinginan-keinginan besar, tanpa sadar mengalahkan apa yang aku punya. Tidak mampu kujelaskan apa yang ingin kuberikan atas nama rasa lantaran aku sendiri kalah dengan ingin yang menawan, terlalu melawan diriku hingga hilang pada batas resah dan mungkin nyaris kalah. 

Kejadian yang tidak kita harapkan dan terjadi adalah kelahiran tragedi dalam perjalanan waktu kita. Adalah cerita yang masih kita rajut pelan-pelan, perlahan kita eratkan namun kadang kita tarik kembali hingga kusut dan butuh perasaan tenang untuk menyambung keinginan itu. Aku tak tahu bilamana kau masih berkunjung di sini. Namun kuharap, kau masih bisa melihatku dan juga apa yang sedang kuhancurkan dalam diriku. 

Apa yang ingin kuciptakan mungkin akan menyakitkan atau tidak sama sekali, entahlah. Aku berupaya untuk tidak kalah dengan apa yang kumiliki. Dan juga belajar untuk lebih dari semua yang kau pikirkan dari apa yang aku punya. 

Di pertemuan kita selanjutnya, biarkan aku terus menjadi apa yang kau inginkan dengan inginku yang kuberikan kepada inginmu. Belajarlah aku pada keheningan dan kebeningan air mata yang mengalir dalam jiwaku, menangislah rasaku yang tak mampu menyampaikan sepatah kata yang sesungguhnya pada telinga di hatimu. Maafkan. 



Maafkan. 

Ini perihal janji pada diri sendiri yang ingin bunuh diri.