Sabtu, November 9

Surat Pertama

Setelah kukirimkan suratku, aku senang duduk di teras rumah. Aku tahu, bila suratku belum tiba di kotamu. Aku juga tahu, bahwa butuh beberapa hari untuk membalas surat itu. 

Rumah ini, adalah kumpulan surat untukmu. Dari jauh sebelum aku mendekat menyatakan seluruh pernyataan rasaku padamu, aku mengurungkan niatku untuk berkirim surat bahkan di sini sekalipun. Tapi aku tak bisa menahan keinginan itu, aku wajib menyuratimu. Mengabarkan dan menenangkan perasaanku yang berkecamuk sendiri. 

Apakah kau masih menginat pembicaraan-pembicaraan kita tentang ruang istimewa itu? Tempat kita menyimpan dan merayakan kenangan-kenangan kita nantinya. Aku membayangkan lembar-lembar surat itu hadir dan punya ruang tersendiri. 

Baiklah, aku ingin kau membacanya pelan. Sebab disetiap spasi ada perasaan yang kubiarkan tumbuh dan lukiskan dalam ketiadaan. Ada yang tiada serta tiada yang ada. Aku masih belajar melukis ditulisanku, surat itu tulisanku sekaligus lukisanku untukmu. 

Aku ingin belajar menjadi pelukis, apa ini karena kamu seorang pelukis malam?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar