Minggu, November 24

Akhir Pekan

Akhir pekan ini kamu lalui dengan keren. :)

Saya tersenyum setiap kali mendengar kau bercerita tentang tugas statistik, saya juga selalu rindu mendengarkan penjelasanmu tentang statistik. Kamu adalah guru yang baik untuk mengajarkan saya tentang angka-angka itu. Penelitian saya sebelumnya, sudah kau jelaskan dengan baik, dengan analisa yang baik. 

1.

Belajarlah terus dengan angka-angka itu, tugas akhirmu akan indah dengan hiasan dari semua itu. 

2. 

Kita belum menemukan topik yang pas untuk tugas akhirmu, namun saya yakin hasilnya akan menyenangkan. Karyamu selalu membuat aku iri dan ingin sekali mengalahkanmu. Kau mungkin adalah lawan yang tangguh, di kepalamu menyimpan berbagai hal yang menakjubkan. Beruntung, kau selalu rajin membaginya padaku. Saya bersyukur.

3. 

Kelak, jika kau ahli, kau wajib mengajarkannya padaku. Saya juga mulai memikirkan tugas akhir, nantinya kita akan saling mengingatkan. "Hei, tugas akhirnya bagaimana?"

4.

Waktu yang selalu memanjakan kita, seharusnya sudah mampu kita lawan dan kalahkan. Saya kadang-kadang hanya jadi seorang ustadz yang tidak henti-hentinya berceramah tentang ini kepadamu, tapi tanpa tidak sengaja saya juga memperingati diri saya sendiri untuk belajar menggunakan waktu dengan baik. 

5. 

Saya ingin menemanimu di perpustakaan, berdiskusi bersama. 

6.

Saya suka melihat buku-buku yang kau hamburkan di sekitarmu. Itu mungkin caramu mengingat saya, [ saya izin GR dulu ]


*

Selamat untuk akhir pekan ini. Maaf tak bisa ada di sampingmu. Tapi percayalah, saya selalu ada di ruangmu. :)


Sabtu, November 16

Saya Pesan Jus Alpukat

sewaktu mereka memetik buah alpukat
telah disimpan susu cokelat dalam lemari es
dan gelas - gelas telah menanti, menjadi titik
di mana pertemuan itu menjadikannya ada

hingga di daftar menu sebuah cafe
telah dituliskan hadirnya "jus alpukat"
untuk bersiap-siap jadi takdir
bagi para pengunjung

"saya pesan jus alpukat"

segelas jus alpukat
dan seluruh penat
telah dihidangkan bersama

sewaktu  pesanan itu tiba di meja
telah disimpan "ada" dari Tuhan
dan waktu-waktu yang menanti 
di mana pertemuan itu menjadikanku
"ada"

hingga di daftar hari Tuhan
telah dilukiskan hadirnya
untuk bersiap-siap menjadi ada
yang malam ini sesungguhnya menjelma rindu

"saya penyuka jus alpukat, kau juga penyuka alpukat"

sewaktu-waktu Tuhan mempertemukan kita
kemudian menikmati jus alpukat bersama
hingga di sebuah cafe,
pertemuan kita jadi takdir 

takdir sederhana bagi alpukat
dan penat yang dituangkan
pada sebuah meja hitam di cafe
pada sepenggal rindu tak sendu

sewaktu-waktu Tuhan akan ikut memesan
jus alpukat dan menghabiskan penat
di daftar menu kehidupan kita yang ramai
di hati kita yang rajin rindu
pada pertemuan dan kepastiaan


Cafe Ogi, Makassar 16 Novemeber 2013

Sabtu, November 9

Surat Pertama

Setelah kukirimkan suratku, aku senang duduk di teras rumah. Aku tahu, bila suratku belum tiba di kotamu. Aku juga tahu, bahwa butuh beberapa hari untuk membalas surat itu. 

Rumah ini, adalah kumpulan surat untukmu. Dari jauh sebelum aku mendekat menyatakan seluruh pernyataan rasaku padamu, aku mengurungkan niatku untuk berkirim surat bahkan di sini sekalipun. Tapi aku tak bisa menahan keinginan itu, aku wajib menyuratimu. Mengabarkan dan menenangkan perasaanku yang berkecamuk sendiri. 

Apakah kau masih menginat pembicaraan-pembicaraan kita tentang ruang istimewa itu? Tempat kita menyimpan dan merayakan kenangan-kenangan kita nantinya. Aku membayangkan lembar-lembar surat itu hadir dan punya ruang tersendiri. 

Baiklah, aku ingin kau membacanya pelan. Sebab disetiap spasi ada perasaan yang kubiarkan tumbuh dan lukiskan dalam ketiadaan. Ada yang tiada serta tiada yang ada. Aku masih belajar melukis ditulisanku, surat itu tulisanku sekaligus lukisanku untukmu. 

Aku ingin belajar menjadi pelukis, apa ini karena kamu seorang pelukis malam?