Jumat, September 20

Tentang Batuk Kita


(Jakarta, 19 Sept 13)


Batuk ini serupa dengan isyarat, untuk membiarkan kita semakin merayakan rindu. Juga isyarat pertemuan antara cemas dan keinginan bergegas tuk saling bertemu, tertawa.


Bila kau melihatku saat kau batuk di sebuah letak yang nyaris berdekatan, maka hidupkan aku melalui segala rasa yang sudah kau jaga. Bila kau telah merasa aku, maka dimensi kita sudah semakin jauh atau bahkan semakin dekat, sebab dekat atau jauh kita punya ruang yang sama. Kita selalu bersama.



*

(Makassar, 11 Sept 13)

Saya batuk, selang beberapa menit kamu juga ikut batuk. Kemudian kita batuk dalam waktu yang bersamaan.
Dan kemudian, kita tertawa bersama. Menertawakan batuk kita, yang suaranya nyaring karena rindu.
Kita kembali tertawa. Bersama tentunya.



*

(Jakarta, 20 Sept 13)

Di dua kota yang berbeda, kita saling menciptakan rumah bagi kerinduan kita. Kau selalu menjadi penghuni di rumahku, yang juga selalu aku tunggu untuk pulang. Di dua kota yang berbeda, bila kita kembali membaca telaah teori relativitas Einsten, aku merasa mampu menemukan dan menghapus batas antara ruang dan waktu.

Di bukunya, aku senang mengenal waktu. Tiga Minggu sebelum kau berpindah kota demi tujuanmu yang baik, aku membeli buku itu tidak lain untuk mengenal dan mampu merasakan waktu lebih baik. Bahkan, selalu berharap mampu menciptakan mesin waktu yang bisa membawaku ke mana saja. Aku selalu ingin bertemu, tapi marilah kita menikmati rindu dengan saling bersua melalui dimensi yang kita temukan. Ruang dan waktu, adalah penjelasan yang menarik. Semoga aku mampu menjelaskannya kepada rinduku, atau bahkan kepada rindumu sekaligus.

Tentang batuk kita, adalah pertanda bahwa dimensi kita akan semakin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar