Selasa, September 3

Seperti Terkubur

Malam ini saya tertidur dan seperti terkubur. Hingga pagi, saya masih seperti terkubur. Saya menulis ini sebagai usaha untuk menggali kuburan yang lebih nyaman. Tuhan menggetarkan nadi yang belum sempat menyempit dan menyebabkan nafas-nafas mulai meminta lepas. Sekali kau memandang wajahku, mungkin kau akan tertawa atau sebaliknya. Saya menunggumu hadir di sepi pagi dan di tepi gelisahku malam kemarin. Bila ruas waktu telah dipatahkan dan suara-suara terdengar parau, mungkin ada jejak yang kemudian mulai menamakan dirinya dengan kerinduaan perih.

Sementara itu, ada lagi jejak yang menapakki tubuhnya sendiri. Saya ingin.

Bila saja saya mampu menuju ke titik - titik yang nyaris membuatmu sempurna dalam merasa cinta, maka jiwaku siap kulepaskan dan kutunggangi sendiri. Tak peduli apa dan siapa yang melarang, mungkin kamu akan melarang.

Saya masih seperti terkubur, di pagi yang meleburkan seluruh kabar.

Bila saya tak mampu merasa seperti lagi, jadilah batu nisan dengan tangis yang mendamba, tak lebih dari sekedar kenangan. Saya tidak ada, dan saya seperti terkubur.

Saya menulis ini sebagai usaha untuk menggali kuburan yang lebih nyaman.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar