Jumat, September 13

Pertama Kali



Tulisan ini untukmu, tentang hari pertama dan rasa kehilangan pertama darimu. Selanjutnya, aku sering merasa kau hilang hingga akhirnya aku memanggilmu di sini. Aku menuliskanmu di sini, untuk tidak hilang, bahkan ketika waktu menyembunyikan atau memanggilmu. Aku tidak akan lagi merasa kau hilang. 

Sebab rasa ini bukanlah tentang kehadiran, tetapi pas. Memang untuk rasa.

*
 
Aku mulai kalah menahan kantuk yang datang menyerang. Sejak malam kemarin, aku merasa kekurangan tidur karena lelah mengerjakan tugas di tempat ini. Aku juga sedikit lelah dengan materi itu, entahlah materi kualitatif atau kuantitatif. Aku benar-benar tidak peduli, teman yang ada di sampingku sepertinya tak jauh berbeda denganku. Dia mulai mencoba menahan rasa kantuknya, bahkan sesekali dia memejamkan mata, sepertinya dia tertidur. 

Kuperhatikan di sekitarku, hanya beberapa orang yang masih fokus dengan materi. Sisanya, tengah berperang melawan kantuk. Malam itu, aku tak tahu siapa yang salah. Apakah kami yang gagal membagi waktu, antara istirahat dan mengerjakan tugas. Atau mungkin pemateri yang gagal menghidupkan kelas, atau panitia yang gagal merancang acara menjadi menyenangkan. 

Salah satu caraku menghilangkan kantuk adalah dengan menulis dan memperhatikan suasana sekitar.  Aku menoleh kebelakang, beberapa panitia tengah sibuk berdiskusi dan beberapa orang lagi tengah membaca, dan juga ada seorang perempuan berjilbab hitam mengenakan kemeja putih dengan rok hitam tengah menyusun dan merapikan buku. Buku yang disediakan panitia di perpustakaan mini. 

Perempuan yang tengah merapikan buku itu, adalah kau. Aku serasa mendapatkan bala bantuan untuk mengalahkan kantuk seketika. Pandanganku dan segalanya kemudian berusaha mencari jelas wajahmu, manis senyummu. Baru kuubah posisi duduk, tiba-tiba kau keluar sambil memegang handphonemu. Kuangkat tangan kananku, member tanda pada panitia bahwa aku ingin keluar sebentar. 

Aku keluar melalui pintu yang sama, pintu yang kau lewati keluar. Aku menoleh ke arah kanan dan kiri, tapi aku tidak menemukanmu. Aku berkeliling, mencarimu sekaligus mengalahkan rasa kantuk ini. Tapi, saying aku tak menemukanmu malam itu. 

Aku pergi ke mushalla dan menyalakan kran air, membasuh muka sambil berkata,
“Tuhan, bolehkan aku bertemu lagi dengannya. Atau malam ini, aku hanya bermimpi?”



 Di dalam catatan ini, aku berharap mampu menuliskan beberapa kenangan. Semoga!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar