Minggu, September 1

Kota September

Waktu berjalan, kita kadang tak sadar diri dan tertinggal. 
Ini ingin kulontarkan jauh melampaui batas-batas waktu yang Tuhan ciptakan. 

Aku ingin datang berkunjung lagi di Kotamu, mungkin dengan mesin waktu. 
Yang kusebut dapat melampui batas-batas. 

Kuharap kau selalu setia untuk datang di sini, di tempat saya menyulam kenangan dan cerita yang ingin kujadikan sebuah. Sejatinya, rangkaian huruf-huruf ini adalah doa-doa yang juga akan ikut berdoa. Lamunanku pun juga doa, Tuhan akan mendengar semua doa. Maka mari mulai berdoa dengan kata yang disesuaikan dengan ingin dan perasaan kita saat ini. 

Aku berdebar-debar di bulan September, aku ingin datang berkunjung di Kotamu, mungkin dengan baling-baling bambu. Sebelum pergantian bulan dari Agustus ke September, aku memasang sebuah pengaman di HPku dengan latar Doraemon. Anak kecil di dalam diriku keluar dan memintaku untuk membeli latar Doraemon. Sedikit, aku juga berharap dia bisa melemparkan aku sebuah baling-baling bambu. Atau mungkin "pintu ke mana saja". 

Aku ingin melihat Kota September, yang ibukotanya adalah rindu dan gedung-gedung tinggi yang tumbuh atas nama kata-kata. Aku ingin berjalan di alun-alun kotamu, bersamamu. 

Waktu berjalan, aku mengikut di belakangnya. Tanganku kugantungkan pada tangan waktu, tapi inginku terikat di suatu tempat yang jauh. Jauh pada kedalaman waktuku sendiri. Menjelang bulan ini tiba, tepatnya akhir Bulan Agustus, aku merasa sedikit lemah dan kurang mampu menang melawan diri sendiri. Aku merasa bersalah, takut kepada waktu. Aku tidak menghasilkan apa-apa yang bermakna sesuai dengan targetku dua bulan yang lalu. 

Beberapa naskah belum saya rampungkan, tulisan masih terbengkalai, kamar berantakan, dan semuanya ikut berantakan.
Bulan ini, aku ingin menuju kotamu. Kota September, yang kulangkahkan dengan niat mampu menjadi lebih dari kemarin. 

Di bulan yang mengurung aku dengan cemas. 

*

Aslan Abidin dalam puisinya;

Andai Kau Tahu Tentang Cemas 

-andai kau tahu tentang cemas
rasa lebih pedih dari jantung direnggut lepas-

kau mungkin akan
paham: perihal gumam igauan
burung hantu saat tengah malam di pohon
randu belakang rumah, yang dulu aku impikan
membuat kita terjaga dan saling terburu eratkan pelukan

kau mungkin akan
paham: di bangku-bangku pojok halaman,
tempat aku pernah mengharapkan kau duduk
anggun menatap dua anak manis yang suntuk
bermain, aku mengenangmu dan menyeka 
air mata

-andai kau tahu tentang cemas
rasa lebih pedih dari urat nadi dikerat putus-

hingga datang genting kemarau
berkobar membakar hangus jasadku,
rumah, dan seisi halaman. juga impian akan
pelukan yang saling terburu dieratkan 
dan bangku bambu yang masih termangu
menunggu kedatanganmu

abunya dikubur penghujan,
yang menumbuhkan rerumputan, pepohonan,
dan sebagian bunga yang dulu aku
tanam untuk menyambutmu

Juga memanggil kembali
burung-burung yang mulai tahu tentang sepi, mati
dan rahasia mengapa kedua sayapnya mesti
mengepit warna api

suatu waktu, mungkin kau
melintas lewat, tersenyum terpukau
menatap sebuah kembang merah mekar tengah
dibuahi matahari-yang sengatan teriknya telah
memperabukan seorang lelaki.-

juga kau dengar jerit kicau burung
yang pulang membawa kekasih setelah terbang
jauh ke negeri asing. di kepak sayapnya akan
kau lihat warna api: jiwaku yang berpegangan
rapuh, berlindung dari kutuk bumi dan langit


*
andai, aku bisa menggambarkan cemasku dengan sedikit rapi. 

Di bulan September ini, mari kembali bertemu. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar