Sabtu, September 28

Buku dan September

Saya baru saja menyelesaikan beberapa halaman draft buku itu. Buku yang selalu kuceritakan padamu. Hari ini sekiranya akan kukirim, tapi tadi pagi ada kabar perpanjangan untuk itu. Saya merasa, wajib untuk mengedit kembali dan memperbaiki tulisan saya.

Di bulan September ini, saya merasa kurang produktif dalam menulis. Saya juga merasa kebingungan dengan cara saya menulis. Sedikit demi sedikit saya mulai mencari kedalaman kata yang kupilih untuk menjelaskan semua yang ada di kepalaku. Menghabiskan waktu dengan laptop, atau pun buku-buku yang ada di kamar atau di perpustakaan, menjadi menyenangkan. Saya selalu merasa kau ada menemani, tersenyum dan tertawa.

Di bulan ini juga, saya merasa kurang sehat, agak sakit-sakitan. Mungkin “malarindu” katamu. Di bulan ini juga, kadang saya terbangun tengah malam dan kemudian tak bisa tidur lagi, “lovesomnia” mungkin. Kesulitan tidur yang diakibatkan rasa. Saat itulah saya bangun dan menuliskan paragraph demi paragraph untuk buku yang tengah saya susun. Di bulan ini, maaf tak sempat datang ke kotamu. Tapi rinduku telah kuterbangkan menuju langit kotamu. Saya berharap hujan membiarkannya jatuh dan menjadi rindu yang basah. Lalu kau rasa lebih dekat. Apa di kotamu hujan memanggil namaku?

Saya menulis surat ini, saat kesehatan saya masih dalam kondisi yang belum maksimal, kupikir kau juga demikian. Sehat itu penting, jaga kesehatan dan selamat menjadi mahasiswa kembali. Saya mulai menyentuh skripsi, sama sepertimu dulu.

 Selepas buku ini selesai, skripsi juga akan saya selesaikan.

*
Ini surat, saya tuliskan untuk kau rasa dan baca. Selamat 28. Topik tulisan ini acak dan kurang beraturan, mungkin karena apa yang ingin kuceritakan tidak mampu mengalahkan inginku untuk bertemu denganmu. Saya merasa ingin mengirimkan buku itu untukmu, dan biarkan buku itu kau peluk lebih dulu dibandingkan penulisnya sendiri.


“Saya menulis buku dan berharap kau peluk lebih dulu dibandingkan penulisnya sendiri”

Makassar, 28 Agustus 2013

Minggu, September 22

Dompet

Seperti ini, bandara ini
jauh datang dekat pergi dan...

waktu bersua kepada
hadir dan tiada
Semua bermuara pada titik
yang melengkapi semua
hingga datang kembali
di hadapan waktu

dompet dan bandara;
kulipat uangku lalu kuterbangkan
jauh melayang, hilang

Tapi tidak,
hilang hanyalah pergi
dan datang akan segera kembali
kuhilang pada lipatan untukmu
bila kemudian aku datang
aku pergi dan kemudian menetap
Selamanya

Kulipat uangku
jadikan pesawat di bandara
aku datang
lalu menyatakan waktu dan kehilangan padamu

Menyatakan maaf.
atas hilang yang datang

Aku ingin hilang dalam kecemasanmu, dan mati

Lalu terlahir kembali dan tenggelam di senyummu.
kau juga langit untuk semua rindu yang kuterbangkan.

Jumat, September 20

Tentang Batuk Kita


(Jakarta, 19 Sept 13)


Batuk ini serupa dengan isyarat, untuk membiarkan kita semakin merayakan rindu. Juga isyarat pertemuan antara cemas dan keinginan bergegas tuk saling bertemu, tertawa.


Bila kau melihatku saat kau batuk di sebuah letak yang nyaris berdekatan, maka hidupkan aku melalui segala rasa yang sudah kau jaga. Bila kau telah merasa aku, maka dimensi kita sudah semakin jauh atau bahkan semakin dekat, sebab dekat atau jauh kita punya ruang yang sama. Kita selalu bersama.



*

(Makassar, 11 Sept 13)

Saya batuk, selang beberapa menit kamu juga ikut batuk. Kemudian kita batuk dalam waktu yang bersamaan.
Dan kemudian, kita tertawa bersama. Menertawakan batuk kita, yang suaranya nyaring karena rindu.
Kita kembali tertawa. Bersama tentunya.



*

(Jakarta, 20 Sept 13)

Di dua kota yang berbeda, kita saling menciptakan rumah bagi kerinduan kita. Kau selalu menjadi penghuni di rumahku, yang juga selalu aku tunggu untuk pulang. Di dua kota yang berbeda, bila kita kembali membaca telaah teori relativitas Einsten, aku merasa mampu menemukan dan menghapus batas antara ruang dan waktu.

Di bukunya, aku senang mengenal waktu. Tiga Minggu sebelum kau berpindah kota demi tujuanmu yang baik, aku membeli buku itu tidak lain untuk mengenal dan mampu merasakan waktu lebih baik. Bahkan, selalu berharap mampu menciptakan mesin waktu yang bisa membawaku ke mana saja. Aku selalu ingin bertemu, tapi marilah kita menikmati rindu dengan saling bersua melalui dimensi yang kita temukan. Ruang dan waktu, adalah penjelasan yang menarik. Semoga aku mampu menjelaskannya kepada rinduku, atau bahkan kepada rindumu sekaligus.

Tentang batuk kita, adalah pertanda bahwa dimensi kita akan semakin.

Jumat, September 13

Pertama Kali



Tulisan ini untukmu, tentang hari pertama dan rasa kehilangan pertama darimu. Selanjutnya, aku sering merasa kau hilang hingga akhirnya aku memanggilmu di sini. Aku menuliskanmu di sini, untuk tidak hilang, bahkan ketika waktu menyembunyikan atau memanggilmu. Aku tidak akan lagi merasa kau hilang. 

Sebab rasa ini bukanlah tentang kehadiran, tetapi pas. Memang untuk rasa.

*
 
Aku mulai kalah menahan kantuk yang datang menyerang. Sejak malam kemarin, aku merasa kekurangan tidur karena lelah mengerjakan tugas di tempat ini. Aku juga sedikit lelah dengan materi itu, entahlah materi kualitatif atau kuantitatif. Aku benar-benar tidak peduli, teman yang ada di sampingku sepertinya tak jauh berbeda denganku. Dia mulai mencoba menahan rasa kantuknya, bahkan sesekali dia memejamkan mata, sepertinya dia tertidur. 

Kuperhatikan di sekitarku, hanya beberapa orang yang masih fokus dengan materi. Sisanya, tengah berperang melawan kantuk. Malam itu, aku tak tahu siapa yang salah. Apakah kami yang gagal membagi waktu, antara istirahat dan mengerjakan tugas. Atau mungkin pemateri yang gagal menghidupkan kelas, atau panitia yang gagal merancang acara menjadi menyenangkan. 

Salah satu caraku menghilangkan kantuk adalah dengan menulis dan memperhatikan suasana sekitar.  Aku menoleh kebelakang, beberapa panitia tengah sibuk berdiskusi dan beberapa orang lagi tengah membaca, dan juga ada seorang perempuan berjilbab hitam mengenakan kemeja putih dengan rok hitam tengah menyusun dan merapikan buku. Buku yang disediakan panitia di perpustakaan mini. 

Perempuan yang tengah merapikan buku itu, adalah kau. Aku serasa mendapatkan bala bantuan untuk mengalahkan kantuk seketika. Pandanganku dan segalanya kemudian berusaha mencari jelas wajahmu, manis senyummu. Baru kuubah posisi duduk, tiba-tiba kau keluar sambil memegang handphonemu. Kuangkat tangan kananku, member tanda pada panitia bahwa aku ingin keluar sebentar. 

Aku keluar melalui pintu yang sama, pintu yang kau lewati keluar. Aku menoleh ke arah kanan dan kiri, tapi aku tidak menemukanmu. Aku berkeliling, mencarimu sekaligus mengalahkan rasa kantuk ini. Tapi, saying aku tak menemukanmu malam itu. 

Aku pergi ke mushalla dan menyalakan kran air, membasuh muka sambil berkata,
“Tuhan, bolehkan aku bertemu lagi dengannya. Atau malam ini, aku hanya bermimpi?”



 Di dalam catatan ini, aku berharap mampu menuliskan beberapa kenangan. Semoga!

Rabu, September 11

Mencintaimu dengan Sederhana

Bagaimana kau yakin akan cerita yang dulu aku tulis? Aku terkadang ingin mengetahui cerita itu lebih dalam, lebih jelas dan lebih dari apa yang aku tahu hari ini. Mungkin, saat aku belajar menulis dan bersembunyi, aku juga berharap kau menjadi orang yang kelak menemukan aku di sini. Dan pada akhirnya, kejadian itu terjadi seketika. Lantas, sekarang aku merasa pada dunia yang dulunya tidak pernah kupikirkan akan ada. 

Sapardi menuliskan rangkaian kata dalam puisi "aku ingin" sekiranya mampu menjelaskan apa yang ingin aku katakan sejak lama, hingga hari ini. 

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
kepada hujan yang menjadikannya tiada

Sesungguhnya, aku ingin menuliskan puisi yang serupa. Namun sepertinya waktuku untuk berbenah masih kurang, banyak hal yang mesti kupelajari. Buku-buku yang menumpuk segera kuhabiskan, mungkin di sana, di lembaran itu aku mampu berbenah. Aku juga senang berada di sini, sebab di tempat inilah saya belajar mencintaimu dengan sederhana. Bila saja ka tak menemukanku hari itu, mungkin aku telah jadi abu yang dipeluk tanah dan lahir melebur menjadi sesuatu yang baru. 

Di sini, tempat aku terus merasa bahwa kau pernah menjadi kesunyian yang paling aku rindukan. Kebisuan yang paling membuat aku rindu, dan segala tanya yang tumbuh di kepalaku. Membuat aku selalu rajin untuk berbenah dan melihat waktu sebagai pintu. Pintu yang diberikan Tuhan kepada kita, yang selalu merindu akan perjalanan dan kepulangan.


Di sini, aku kemudian rajin menuliskan rasa. Tidak lain sebagai upaya yang mengajarkan aku untuk menjadikan segala daya kembali kepada ketulusan. Lebih tulus dari isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada. 

Sesungguhnya, aku ingin mencintaimu dengan sederhana. 

Kutulis surat ini, beberapa menit sebelum menjelang adzan subuh di Kotaku.  

Rabu, September 4

Sembuh

Subuh ini
jauh kita terpisah
seperti dulu
sebelum kau atau aku
saling kenal dan memanggil

subuh ini
aku berharap kau sembuh
dari batuk
dan flu

semoga rindu
adalah obat mujarab
bagi penyakit seperti itu

subuh ini
kulanjutkan puisi

dari waktu sebelum aku dan kau saling merindu hingga akhirnya dipeluk waktu.

Selasa, September 3

Seperti Terkubur

Malam ini saya tertidur dan seperti terkubur. Hingga pagi, saya masih seperti terkubur. Saya menulis ini sebagai usaha untuk menggali kuburan yang lebih nyaman. Tuhan menggetarkan nadi yang belum sempat menyempit dan menyebabkan nafas-nafas mulai meminta lepas. Sekali kau memandang wajahku, mungkin kau akan tertawa atau sebaliknya. Saya menunggumu hadir di sepi pagi dan di tepi gelisahku malam kemarin. Bila ruas waktu telah dipatahkan dan suara-suara terdengar parau, mungkin ada jejak yang kemudian mulai menamakan dirinya dengan kerinduaan perih.

Sementara itu, ada lagi jejak yang menapakki tubuhnya sendiri. Saya ingin.

Bila saja saya mampu menuju ke titik - titik yang nyaris membuatmu sempurna dalam merasa cinta, maka jiwaku siap kulepaskan dan kutunggangi sendiri. Tak peduli apa dan siapa yang melarang, mungkin kamu akan melarang.

Saya masih seperti terkubur, di pagi yang meleburkan seluruh kabar.

Bila saya tak mampu merasa seperti lagi, jadilah batu nisan dengan tangis yang mendamba, tak lebih dari sekedar kenangan. Saya tidak ada, dan saya seperti terkubur.

Saya menulis ini sebagai usaha untuk menggali kuburan yang lebih nyaman.


Minggu, September 1

Kota September

Waktu berjalan, kita kadang tak sadar diri dan tertinggal. 
Ini ingin kulontarkan jauh melampaui batas-batas waktu yang Tuhan ciptakan. 

Aku ingin datang berkunjung lagi di Kotamu, mungkin dengan mesin waktu. 
Yang kusebut dapat melampui batas-batas. 

Kuharap kau selalu setia untuk datang di sini, di tempat saya menyulam kenangan dan cerita yang ingin kujadikan sebuah. Sejatinya, rangkaian huruf-huruf ini adalah doa-doa yang juga akan ikut berdoa. Lamunanku pun juga doa, Tuhan akan mendengar semua doa. Maka mari mulai berdoa dengan kata yang disesuaikan dengan ingin dan perasaan kita saat ini. 

Aku berdebar-debar di bulan September, aku ingin datang berkunjung di Kotamu, mungkin dengan baling-baling bambu. Sebelum pergantian bulan dari Agustus ke September, aku memasang sebuah pengaman di HPku dengan latar Doraemon. Anak kecil di dalam diriku keluar dan memintaku untuk membeli latar Doraemon. Sedikit, aku juga berharap dia bisa melemparkan aku sebuah baling-baling bambu. Atau mungkin "pintu ke mana saja". 

Aku ingin melihat Kota September, yang ibukotanya adalah rindu dan gedung-gedung tinggi yang tumbuh atas nama kata-kata. Aku ingin berjalan di alun-alun kotamu, bersamamu. 

Waktu berjalan, aku mengikut di belakangnya. Tanganku kugantungkan pada tangan waktu, tapi inginku terikat di suatu tempat yang jauh. Jauh pada kedalaman waktuku sendiri. Menjelang bulan ini tiba, tepatnya akhir Bulan Agustus, aku merasa sedikit lemah dan kurang mampu menang melawan diri sendiri. Aku merasa bersalah, takut kepada waktu. Aku tidak menghasilkan apa-apa yang bermakna sesuai dengan targetku dua bulan yang lalu. 

Beberapa naskah belum saya rampungkan, tulisan masih terbengkalai, kamar berantakan, dan semuanya ikut berantakan.
Bulan ini, aku ingin menuju kotamu. Kota September, yang kulangkahkan dengan niat mampu menjadi lebih dari kemarin. 

Di bulan yang mengurung aku dengan cemas. 

*

Aslan Abidin dalam puisinya;

Andai Kau Tahu Tentang Cemas 

-andai kau tahu tentang cemas
rasa lebih pedih dari jantung direnggut lepas-

kau mungkin akan
paham: perihal gumam igauan
burung hantu saat tengah malam di pohon
randu belakang rumah, yang dulu aku impikan
membuat kita terjaga dan saling terburu eratkan pelukan

kau mungkin akan
paham: di bangku-bangku pojok halaman,
tempat aku pernah mengharapkan kau duduk
anggun menatap dua anak manis yang suntuk
bermain, aku mengenangmu dan menyeka 
air mata

-andai kau tahu tentang cemas
rasa lebih pedih dari urat nadi dikerat putus-

hingga datang genting kemarau
berkobar membakar hangus jasadku,
rumah, dan seisi halaman. juga impian akan
pelukan yang saling terburu dieratkan 
dan bangku bambu yang masih termangu
menunggu kedatanganmu

abunya dikubur penghujan,
yang menumbuhkan rerumputan, pepohonan,
dan sebagian bunga yang dulu aku
tanam untuk menyambutmu

Juga memanggil kembali
burung-burung yang mulai tahu tentang sepi, mati
dan rahasia mengapa kedua sayapnya mesti
mengepit warna api

suatu waktu, mungkin kau
melintas lewat, tersenyum terpukau
menatap sebuah kembang merah mekar tengah
dibuahi matahari-yang sengatan teriknya telah
memperabukan seorang lelaki.-

juga kau dengar jerit kicau burung
yang pulang membawa kekasih setelah terbang
jauh ke negeri asing. di kepak sayapnya akan
kau lihat warna api: jiwaku yang berpegangan
rapuh, berlindung dari kutuk bumi dan langit


*
andai, aku bisa menggambarkan cemasku dengan sedikit rapi. 

Di bulan September ini, mari kembali bertemu. :)