Minggu, Februari 3

Secarik Kertas


Februari tiba dengan secarik kertas yang kupenuhi dengan keinginan, termasuk menemuimu.

Aku hampir saja bergelut dengan takut yang datang silih berganti. Namun jalan adalah jalan yang mesti harus di lewati. Memilih jalan bersamamu, salah satu daftar dari sekian kata yang kutulis di secarik kertas.

Perjumpaan adalah obat dari segala jarak dan penundaan temu selama ini. Kadang aku kaku dalam menikmati rasa itu, rasa yang kau sebut-sebut setiap malam sebelum tidur dan terbangun lagi di pagi.

Februari tiba, mari merayakan hari-hari sebelum Maret.

Sebab di sana, aku dan kau berencana untuk mengisahkan pertemuan lebih bersahaja. Sebab di sana, aku dan kau akan menikmati pesta Ulang Tahun bersama.

Selamat pagi, kau akan menyentuhku dalam tulisan ini. Kau mendengar aku, kau membaca aku dalam BLOG ini. Terjemahkan aku sepenuhnya kau merasa diriku ada pada kata yang kulahirkan sebelum matahari melahirkan bayangan untuk kita.

Aku akan kembali banyak kata tanpa banyak bicara, kau mengerti itu.

Terima Kasih atas surat-surat yang ada.
Mari menanti Maret, dengan mengirimkannya doa dan ucapan penantian yang damai.
Mari kembali berkirim surat, dengan kata yang lebih santun daripada suara.

Di secarik kertas, namamu penuh, di temani dengan kata-kata yang tak pernah mengalahkan indahnya namamu, dan seluruh rasamu. Untuk itu, jadilah kertas dalam lembar-lembar hati yang akan jadi buku bersamamu. Kau dan aku...

1 komentar: