Kamis, Februari 28

Kembali ke 28

Mari bermain ingatan, masa lalu, sekarang dan esok.

Selamat mengulang tanggal, ini sesuatu yang berbeda bagi kau dan aku.
Agar kita tetap berada pada frekuensi yang sama.
Surat telah kukirim di email kamu


Penggila Buku



mataku takut bertemu
seluruh angka halaman buku
sebab aku takut
berada di halaman terakhir
dan mengakhiri bacaan

sementara jariku
bergetar menyentuh
dan membuka angka halaman
seluruh hati patuh
kepada cemas tiap halaman

kemudian;
aku masuk ke dalam paragraf
seperti hidup tanpa titik
mengalir tak bermuara
dan tumbuh jadi kalimat-kalimat baru

dari semua itu
aku berdoa
agar engkau menjadi buku dengan
jumlah halaman tak terbatas

dan tanpa aku bertanya
"halaman berapa dirimu akan pergi?"


#
Selamat merayakan Maret

Minggu, Februari 17

terBangun


Terbangun,

aku mendengar; beberapa kali

namaku kau jadikan satu puisi

sebab dalam tidurku

mimpi sepi, kepunyaan aku yang rindu

puisi teman baik sebelum aku bangun

kupejamkan;

sesel kau menaruh aku

atau menghimpun aku

menjadi sunyi di malam

di puisimu aku ingin kau

kau ingin aku

dengan segala hujan di kita

aku menuturkan bening di deras

keras suara hujan agar bangunku

menjadi puisi bertubuh di rindumu

agar puisimu, juga menjadi milikmu

(menunggu subuh)

Kamis, Februari 14

Kepada segala


Tentang engkau di sana;

jarak menjadi perangkap unik untuk kita.
jarak jua yang berbaik hati menguatkan.


Tentang aku di sini;
segala upaya adalah untuk lebih nyata

di harimu
sebab aku tak punya apa yang mereka akan tanya.

di jarak ini kukumpulkan untukmu.

Tentang Kita;
mari cintai jarak yang saling ombang ambingkan rindu


Senin, Februari 4

Perjalanan


di sepanjang kata dengan selisih jarak paragraf dan rindu.

aku menuturkan seluruh apa yang kupunya. Di waktu separuh aku menjadi risau.

Menutup gelisah dengan bertanya, aku bertata diri dengan segala engkau.

Semoga di sana kau menjadi indah. Dengan yang kau punya, dan kita punya.

di pertemuan titik terakhir, aku telah berdiam. Bukankah engkau adalah perjalanan itu?

Minggu, Februari 3

Secarik Kertas


Februari tiba dengan secarik kertas yang kupenuhi dengan keinginan, termasuk menemuimu.

Aku hampir saja bergelut dengan takut yang datang silih berganti. Namun jalan adalah jalan yang mesti harus di lewati. Memilih jalan bersamamu, salah satu daftar dari sekian kata yang kutulis di secarik kertas.

Perjumpaan adalah obat dari segala jarak dan penundaan temu selama ini. Kadang aku kaku dalam menikmati rasa itu, rasa yang kau sebut-sebut setiap malam sebelum tidur dan terbangun lagi di pagi.

Februari tiba, mari merayakan hari-hari sebelum Maret.

Sebab di sana, aku dan kau berencana untuk mengisahkan pertemuan lebih bersahaja. Sebab di sana, aku dan kau akan menikmati pesta Ulang Tahun bersama.

Selamat pagi, kau akan menyentuhku dalam tulisan ini. Kau mendengar aku, kau membaca aku dalam BLOG ini. Terjemahkan aku sepenuhnya kau merasa diriku ada pada kata yang kulahirkan sebelum matahari melahirkan bayangan untuk kita.

Aku akan kembali banyak kata tanpa banyak bicara, kau mengerti itu.

Terima Kasih atas surat-surat yang ada.
Mari menanti Maret, dengan mengirimkannya doa dan ucapan penantian yang damai.
Mari kembali berkirim surat, dengan kata yang lebih santun daripada suara.

Di secarik kertas, namamu penuh, di temani dengan kata-kata yang tak pernah mengalahkan indahnya namamu, dan seluruh rasamu. Untuk itu, jadilah kertas dalam lembar-lembar hati yang akan jadi buku bersamamu. Kau dan aku...