Rabu, Desember 11

Pulang


Bila kita bertemu hari ini, tentu akan menyenangkan.

Hari ini tanggal yang unik, meski demikian itu tak jadi masalah. Semua hari yang kau bagi untuk cerita ini, jauh lebih unik. :)

Kau akan segera pulang, dan menemui rindu yang kusimpan. Hari yang kutunggu dan cerita yang akan kau bagi satu per satu. Kita butuh waktu untuk berdiskusi dan berbagi, waktu yang tentunya tidak akan cukup. Namun, semua akan berjalan dengan lancar di Kota ini.

Kota ini punya banyak cerita untuk cerita kita.

*

"Oh baby, I wil take you to the sky
forever you and I, you and I
Our love will last forever
and forever you'll be mine, you'll be mine" -petra s, mine

*

Surat ini sebagai pintu pertemuan kita, lebih tepatnya rindu kita untuk bersama di Kota ini. :)

Minggu, November 24

Akhir Pekan

Akhir pekan ini kamu lalui dengan keren. :)

Saya tersenyum setiap kali mendengar kau bercerita tentang tugas statistik, saya juga selalu rindu mendengarkan penjelasanmu tentang statistik. Kamu adalah guru yang baik untuk mengajarkan saya tentang angka-angka itu. Penelitian saya sebelumnya, sudah kau jelaskan dengan baik, dengan analisa yang baik. 

1.

Belajarlah terus dengan angka-angka itu, tugas akhirmu akan indah dengan hiasan dari semua itu. 

2. 

Kita belum menemukan topik yang pas untuk tugas akhirmu, namun saya yakin hasilnya akan menyenangkan. Karyamu selalu membuat aku iri dan ingin sekali mengalahkanmu. Kau mungkin adalah lawan yang tangguh, di kepalamu menyimpan berbagai hal yang menakjubkan. Beruntung, kau selalu rajin membaginya padaku. Saya bersyukur.

3. 

Kelak, jika kau ahli, kau wajib mengajarkannya padaku. Saya juga mulai memikirkan tugas akhir, nantinya kita akan saling mengingatkan. "Hei, tugas akhirnya bagaimana?"

4.

Waktu yang selalu memanjakan kita, seharusnya sudah mampu kita lawan dan kalahkan. Saya kadang-kadang hanya jadi seorang ustadz yang tidak henti-hentinya berceramah tentang ini kepadamu, tapi tanpa tidak sengaja saya juga memperingati diri saya sendiri untuk belajar menggunakan waktu dengan baik. 

5. 

Saya ingin menemanimu di perpustakaan, berdiskusi bersama. 

6.

Saya suka melihat buku-buku yang kau hamburkan di sekitarmu. Itu mungkin caramu mengingat saya, [ saya izin GR dulu ]


*

Selamat untuk akhir pekan ini. Maaf tak bisa ada di sampingmu. Tapi percayalah, saya selalu ada di ruangmu. :)


Sabtu, November 16

Saya Pesan Jus Alpukat

sewaktu mereka memetik buah alpukat
telah disimpan susu cokelat dalam lemari es
dan gelas - gelas telah menanti, menjadi titik
di mana pertemuan itu menjadikannya ada

hingga di daftar menu sebuah cafe
telah dituliskan hadirnya "jus alpukat"
untuk bersiap-siap jadi takdir
bagi para pengunjung

"saya pesan jus alpukat"

segelas jus alpukat
dan seluruh penat
telah dihidangkan bersama

sewaktu  pesanan itu tiba di meja
telah disimpan "ada" dari Tuhan
dan waktu-waktu yang menanti 
di mana pertemuan itu menjadikanku
"ada"

hingga di daftar hari Tuhan
telah dilukiskan hadirnya
untuk bersiap-siap menjadi ada
yang malam ini sesungguhnya menjelma rindu

"saya penyuka jus alpukat, kau juga penyuka alpukat"

sewaktu-waktu Tuhan mempertemukan kita
kemudian menikmati jus alpukat bersama
hingga di sebuah cafe,
pertemuan kita jadi takdir 

takdir sederhana bagi alpukat
dan penat yang dituangkan
pada sebuah meja hitam di cafe
pada sepenggal rindu tak sendu

sewaktu-waktu Tuhan akan ikut memesan
jus alpukat dan menghabiskan penat
di daftar menu kehidupan kita yang ramai
di hati kita yang rajin rindu
pada pertemuan dan kepastiaan


Cafe Ogi, Makassar 16 Novemeber 2013

Sabtu, November 9

Surat Pertama

Setelah kukirimkan suratku, aku senang duduk di teras rumah. Aku tahu, bila suratku belum tiba di kotamu. Aku juga tahu, bahwa butuh beberapa hari untuk membalas surat itu. 

Rumah ini, adalah kumpulan surat untukmu. Dari jauh sebelum aku mendekat menyatakan seluruh pernyataan rasaku padamu, aku mengurungkan niatku untuk berkirim surat bahkan di sini sekalipun. Tapi aku tak bisa menahan keinginan itu, aku wajib menyuratimu. Mengabarkan dan menenangkan perasaanku yang berkecamuk sendiri. 

Apakah kau masih menginat pembicaraan-pembicaraan kita tentang ruang istimewa itu? Tempat kita menyimpan dan merayakan kenangan-kenangan kita nantinya. Aku membayangkan lembar-lembar surat itu hadir dan punya ruang tersendiri. 

Baiklah, aku ingin kau membacanya pelan. Sebab disetiap spasi ada perasaan yang kubiarkan tumbuh dan lukiskan dalam ketiadaan. Ada yang tiada serta tiada yang ada. Aku masih belajar melukis ditulisanku, surat itu tulisanku sekaligus lukisanku untukmu. 

Aku ingin belajar menjadi pelukis, apa ini karena kamu seorang pelukis malam?


Minggu, Oktober 27

Menjaga Kita

Pada sebuah tanggal yang kita simbolkan
aku dan kau ada pada jam yang Tuhan ketuk
dengan pelan dan perlahan kita merapal doa
adakah Tuhan di dalam doa kita?

Pada sebuah tanggal yang kita lingkari
aku dan kau ada pada warna paling terang
dengan mencoba perang dengan waktu
adakah kita jadi pemenang?

Lagu apa yang kau nyanyikan di hari kita menjadi?
aku paling senang dan menyukai senyummu selepas kau bernyanyi
ada yang istimewa
adakah Tuhan di dalam senyummu?

Waktu itu, kita menjadi semua
dalam semua

tapi ada waktu
yang kita menjadi hampa
dan lupa pada kehadiran

Tuhan, adakah pada kita?

Pada tanggal yang kita inginkan,
kita percaya dan berdoa seraya
Tuhan akan mengabulkan
adakah Tuhan di dalam doa kita?

Kita, aku dan kau
adalah kehendak Tuhan
menjadikan kita
adakah kita pada Tuhan?
adakah Tuhan pada kita?

kita akan terjaga pada Tuhan
menjaga Tuhan menjaga KITA.

Labessi, 27 Oktober 2013

Rabu, Oktober 9

Sejumlah Rindu

Kepadamu yang pagi ini ada di kepalaku. Dan selalu ada,

Aku menulis surat untuk bertemu denganmu di tempat dan pada dimensi yang berbeda. 
Juga untuk memberikan kabar kepadamu, bahwa aku adalah lelaki yang akan menyukai segala jarak. 
Bahwa kita tidak akan kalah dengan apa yang telah terjadi hari kemarin.

Bulan ini, setahun yang lalu. Aku pergi jauh, di kepalaku selalu ada rasa cemas yang membuatku selalu berpikir, cara untuk menjagamu dan menjaga kita tepatnya. 

Kau selalu mengajarkan aku tentang keyakinan, tentang rasa percaya dan cara menjadikannya semua menjadi menyenangkan. Jika bukan karena kau, aku tidak akan bisa seperti ini.

Oktober kembali, aku tak menyangka jika di bulan ini kita kembali merasakan rasa tentang jarak dan rindu.

Sejumlah pertanyaan yang kemudian berharap kau beri jawaban:

Adakah kau mengingat hari itu?
Apakah aku atau kau mampu melewati hari itu?
Adakah suratmu datang kembali dan mencari kata manis untukku?
Adakah kau akan menunggu suratku lagi?


Adakah surat ini mendapat balasan darimu?

Ini adalah sejumlah rindu dalam pertanyaan sepi kepadamu. 


Selasa, Oktober 1

Terbangun

saya terbangun kepada malam
untuk menceritakan banyak hal tentang kau

saya terbawa dan paling jauh
menjauh dari kaki mimpi, mungkin

ada waktu yang dengan sengaja meminta mataku
mencarimu saat ini
tepat saat kupejam rapat dan mencoba merasamu dengan nyata

saya terbangun kepada malam
untuk mencari banyak hal
kepada mimpi yang mengusap pikiranku, lembut.

memintaku untuk berpindah tanpa menjauh kepada sepi

saya mengira kematian telah mengusap kedua hati kita
untuk tertidur dan saling memeluk rindu

saya menjauh dari kaki mimpi yang malam.

sebab kita adalah harapan di sepasang hati, yang akan bersama di atas batu nisan

(Subuh, 1 Oktober 2013)

Sabtu, September 28

Buku dan September

Saya baru saja menyelesaikan beberapa halaman draft buku itu. Buku yang selalu kuceritakan padamu. Hari ini sekiranya akan kukirim, tapi tadi pagi ada kabar perpanjangan untuk itu. Saya merasa, wajib untuk mengedit kembali dan memperbaiki tulisan saya.

Di bulan September ini, saya merasa kurang produktif dalam menulis. Saya juga merasa kebingungan dengan cara saya menulis. Sedikit demi sedikit saya mulai mencari kedalaman kata yang kupilih untuk menjelaskan semua yang ada di kepalaku. Menghabiskan waktu dengan laptop, atau pun buku-buku yang ada di kamar atau di perpustakaan, menjadi menyenangkan. Saya selalu merasa kau ada menemani, tersenyum dan tertawa.

Di bulan ini juga, saya merasa kurang sehat, agak sakit-sakitan. Mungkin “malarindu” katamu. Di bulan ini juga, kadang saya terbangun tengah malam dan kemudian tak bisa tidur lagi, “lovesomnia” mungkin. Kesulitan tidur yang diakibatkan rasa. Saat itulah saya bangun dan menuliskan paragraph demi paragraph untuk buku yang tengah saya susun. Di bulan ini, maaf tak sempat datang ke kotamu. Tapi rinduku telah kuterbangkan menuju langit kotamu. Saya berharap hujan membiarkannya jatuh dan menjadi rindu yang basah. Lalu kau rasa lebih dekat. Apa di kotamu hujan memanggil namaku?

Saya menulis surat ini, saat kesehatan saya masih dalam kondisi yang belum maksimal, kupikir kau juga demikian. Sehat itu penting, jaga kesehatan dan selamat menjadi mahasiswa kembali. Saya mulai menyentuh skripsi, sama sepertimu dulu.

 Selepas buku ini selesai, skripsi juga akan saya selesaikan.

*
Ini surat, saya tuliskan untuk kau rasa dan baca. Selamat 28. Topik tulisan ini acak dan kurang beraturan, mungkin karena apa yang ingin kuceritakan tidak mampu mengalahkan inginku untuk bertemu denganmu. Saya merasa ingin mengirimkan buku itu untukmu, dan biarkan buku itu kau peluk lebih dulu dibandingkan penulisnya sendiri.


“Saya menulis buku dan berharap kau peluk lebih dulu dibandingkan penulisnya sendiri”

Makassar, 28 Agustus 2013

Minggu, September 22

Dompet

Seperti ini, bandara ini
jauh datang dekat pergi dan...

waktu bersua kepada
hadir dan tiada
Semua bermuara pada titik
yang melengkapi semua
hingga datang kembali
di hadapan waktu

dompet dan bandara;
kulipat uangku lalu kuterbangkan
jauh melayang, hilang

Tapi tidak,
hilang hanyalah pergi
dan datang akan segera kembali
kuhilang pada lipatan untukmu
bila kemudian aku datang
aku pergi dan kemudian menetap
Selamanya

Kulipat uangku
jadikan pesawat di bandara
aku datang
lalu menyatakan waktu dan kehilangan padamu

Menyatakan maaf.
atas hilang yang datang

Aku ingin hilang dalam kecemasanmu, dan mati

Lalu terlahir kembali dan tenggelam di senyummu.
kau juga langit untuk semua rindu yang kuterbangkan.

Jumat, September 20

Tentang Batuk Kita


(Jakarta, 19 Sept 13)


Batuk ini serupa dengan isyarat, untuk membiarkan kita semakin merayakan rindu. Juga isyarat pertemuan antara cemas dan keinginan bergegas tuk saling bertemu, tertawa.


Bila kau melihatku saat kau batuk di sebuah letak yang nyaris berdekatan, maka hidupkan aku melalui segala rasa yang sudah kau jaga. Bila kau telah merasa aku, maka dimensi kita sudah semakin jauh atau bahkan semakin dekat, sebab dekat atau jauh kita punya ruang yang sama. Kita selalu bersama.



*

(Makassar, 11 Sept 13)

Saya batuk, selang beberapa menit kamu juga ikut batuk. Kemudian kita batuk dalam waktu yang bersamaan.
Dan kemudian, kita tertawa bersama. Menertawakan batuk kita, yang suaranya nyaring karena rindu.
Kita kembali tertawa. Bersama tentunya.



*

(Jakarta, 20 Sept 13)

Di dua kota yang berbeda, kita saling menciptakan rumah bagi kerinduan kita. Kau selalu menjadi penghuni di rumahku, yang juga selalu aku tunggu untuk pulang. Di dua kota yang berbeda, bila kita kembali membaca telaah teori relativitas Einsten, aku merasa mampu menemukan dan menghapus batas antara ruang dan waktu.

Di bukunya, aku senang mengenal waktu. Tiga Minggu sebelum kau berpindah kota demi tujuanmu yang baik, aku membeli buku itu tidak lain untuk mengenal dan mampu merasakan waktu lebih baik. Bahkan, selalu berharap mampu menciptakan mesin waktu yang bisa membawaku ke mana saja. Aku selalu ingin bertemu, tapi marilah kita menikmati rindu dengan saling bersua melalui dimensi yang kita temukan. Ruang dan waktu, adalah penjelasan yang menarik. Semoga aku mampu menjelaskannya kepada rinduku, atau bahkan kepada rindumu sekaligus.

Tentang batuk kita, adalah pertanda bahwa dimensi kita akan semakin.

Jumat, September 13

Pertama Kali



Tulisan ini untukmu, tentang hari pertama dan rasa kehilangan pertama darimu. Selanjutnya, aku sering merasa kau hilang hingga akhirnya aku memanggilmu di sini. Aku menuliskanmu di sini, untuk tidak hilang, bahkan ketika waktu menyembunyikan atau memanggilmu. Aku tidak akan lagi merasa kau hilang. 

Sebab rasa ini bukanlah tentang kehadiran, tetapi pas. Memang untuk rasa.

*
 
Aku mulai kalah menahan kantuk yang datang menyerang. Sejak malam kemarin, aku merasa kekurangan tidur karena lelah mengerjakan tugas di tempat ini. Aku juga sedikit lelah dengan materi itu, entahlah materi kualitatif atau kuantitatif. Aku benar-benar tidak peduli, teman yang ada di sampingku sepertinya tak jauh berbeda denganku. Dia mulai mencoba menahan rasa kantuknya, bahkan sesekali dia memejamkan mata, sepertinya dia tertidur. 

Kuperhatikan di sekitarku, hanya beberapa orang yang masih fokus dengan materi. Sisanya, tengah berperang melawan kantuk. Malam itu, aku tak tahu siapa yang salah. Apakah kami yang gagal membagi waktu, antara istirahat dan mengerjakan tugas. Atau mungkin pemateri yang gagal menghidupkan kelas, atau panitia yang gagal merancang acara menjadi menyenangkan. 

Salah satu caraku menghilangkan kantuk adalah dengan menulis dan memperhatikan suasana sekitar.  Aku menoleh kebelakang, beberapa panitia tengah sibuk berdiskusi dan beberapa orang lagi tengah membaca, dan juga ada seorang perempuan berjilbab hitam mengenakan kemeja putih dengan rok hitam tengah menyusun dan merapikan buku. Buku yang disediakan panitia di perpustakaan mini. 

Perempuan yang tengah merapikan buku itu, adalah kau. Aku serasa mendapatkan bala bantuan untuk mengalahkan kantuk seketika. Pandanganku dan segalanya kemudian berusaha mencari jelas wajahmu, manis senyummu. Baru kuubah posisi duduk, tiba-tiba kau keluar sambil memegang handphonemu. Kuangkat tangan kananku, member tanda pada panitia bahwa aku ingin keluar sebentar. 

Aku keluar melalui pintu yang sama, pintu yang kau lewati keluar. Aku menoleh ke arah kanan dan kiri, tapi aku tidak menemukanmu. Aku berkeliling, mencarimu sekaligus mengalahkan rasa kantuk ini. Tapi, saying aku tak menemukanmu malam itu. 

Aku pergi ke mushalla dan menyalakan kran air, membasuh muka sambil berkata,
“Tuhan, bolehkan aku bertemu lagi dengannya. Atau malam ini, aku hanya bermimpi?”



 Di dalam catatan ini, aku berharap mampu menuliskan beberapa kenangan. Semoga!

Rabu, September 11

Mencintaimu dengan Sederhana

Bagaimana kau yakin akan cerita yang dulu aku tulis? Aku terkadang ingin mengetahui cerita itu lebih dalam, lebih jelas dan lebih dari apa yang aku tahu hari ini. Mungkin, saat aku belajar menulis dan bersembunyi, aku juga berharap kau menjadi orang yang kelak menemukan aku di sini. Dan pada akhirnya, kejadian itu terjadi seketika. Lantas, sekarang aku merasa pada dunia yang dulunya tidak pernah kupikirkan akan ada. 

Sapardi menuliskan rangkaian kata dalam puisi "aku ingin" sekiranya mampu menjelaskan apa yang ingin aku katakan sejak lama, hingga hari ini. 

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
kepada hujan yang menjadikannya tiada

Sesungguhnya, aku ingin menuliskan puisi yang serupa. Namun sepertinya waktuku untuk berbenah masih kurang, banyak hal yang mesti kupelajari. Buku-buku yang menumpuk segera kuhabiskan, mungkin di sana, di lembaran itu aku mampu berbenah. Aku juga senang berada di sini, sebab di tempat inilah saya belajar mencintaimu dengan sederhana. Bila saja ka tak menemukanku hari itu, mungkin aku telah jadi abu yang dipeluk tanah dan lahir melebur menjadi sesuatu yang baru. 

Di sini, tempat aku terus merasa bahwa kau pernah menjadi kesunyian yang paling aku rindukan. Kebisuan yang paling membuat aku rindu, dan segala tanya yang tumbuh di kepalaku. Membuat aku selalu rajin untuk berbenah dan melihat waktu sebagai pintu. Pintu yang diberikan Tuhan kepada kita, yang selalu merindu akan perjalanan dan kepulangan.


Di sini, aku kemudian rajin menuliskan rasa. Tidak lain sebagai upaya yang mengajarkan aku untuk menjadikan segala daya kembali kepada ketulusan. Lebih tulus dari isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada. 

Sesungguhnya, aku ingin mencintaimu dengan sederhana. 

Kutulis surat ini, beberapa menit sebelum menjelang adzan subuh di Kotaku.  

Rabu, September 4

Sembuh

Subuh ini
jauh kita terpisah
seperti dulu
sebelum kau atau aku
saling kenal dan memanggil

subuh ini
aku berharap kau sembuh
dari batuk
dan flu

semoga rindu
adalah obat mujarab
bagi penyakit seperti itu

subuh ini
kulanjutkan puisi

dari waktu sebelum aku dan kau saling merindu hingga akhirnya dipeluk waktu.

Selasa, September 3

Seperti Terkubur

Malam ini saya tertidur dan seperti terkubur. Hingga pagi, saya masih seperti terkubur. Saya menulis ini sebagai usaha untuk menggali kuburan yang lebih nyaman. Tuhan menggetarkan nadi yang belum sempat menyempit dan menyebabkan nafas-nafas mulai meminta lepas. Sekali kau memandang wajahku, mungkin kau akan tertawa atau sebaliknya. Saya menunggumu hadir di sepi pagi dan di tepi gelisahku malam kemarin. Bila ruas waktu telah dipatahkan dan suara-suara terdengar parau, mungkin ada jejak yang kemudian mulai menamakan dirinya dengan kerinduaan perih.

Sementara itu, ada lagi jejak yang menapakki tubuhnya sendiri. Saya ingin.

Bila saja saya mampu menuju ke titik - titik yang nyaris membuatmu sempurna dalam merasa cinta, maka jiwaku siap kulepaskan dan kutunggangi sendiri. Tak peduli apa dan siapa yang melarang, mungkin kamu akan melarang.

Saya masih seperti terkubur, di pagi yang meleburkan seluruh kabar.

Bila saya tak mampu merasa seperti lagi, jadilah batu nisan dengan tangis yang mendamba, tak lebih dari sekedar kenangan. Saya tidak ada, dan saya seperti terkubur.

Saya menulis ini sebagai usaha untuk menggali kuburan yang lebih nyaman.


Minggu, September 1

Kota September

Waktu berjalan, kita kadang tak sadar diri dan tertinggal. 
Ini ingin kulontarkan jauh melampaui batas-batas waktu yang Tuhan ciptakan. 

Aku ingin datang berkunjung lagi di Kotamu, mungkin dengan mesin waktu. 
Yang kusebut dapat melampui batas-batas. 

Kuharap kau selalu setia untuk datang di sini, di tempat saya menyulam kenangan dan cerita yang ingin kujadikan sebuah. Sejatinya, rangkaian huruf-huruf ini adalah doa-doa yang juga akan ikut berdoa. Lamunanku pun juga doa, Tuhan akan mendengar semua doa. Maka mari mulai berdoa dengan kata yang disesuaikan dengan ingin dan perasaan kita saat ini. 

Aku berdebar-debar di bulan September, aku ingin datang berkunjung di Kotamu, mungkin dengan baling-baling bambu. Sebelum pergantian bulan dari Agustus ke September, aku memasang sebuah pengaman di HPku dengan latar Doraemon. Anak kecil di dalam diriku keluar dan memintaku untuk membeli latar Doraemon. Sedikit, aku juga berharap dia bisa melemparkan aku sebuah baling-baling bambu. Atau mungkin "pintu ke mana saja". 

Aku ingin melihat Kota September, yang ibukotanya adalah rindu dan gedung-gedung tinggi yang tumbuh atas nama kata-kata. Aku ingin berjalan di alun-alun kotamu, bersamamu. 

Waktu berjalan, aku mengikut di belakangnya. Tanganku kugantungkan pada tangan waktu, tapi inginku terikat di suatu tempat yang jauh. Jauh pada kedalaman waktuku sendiri. Menjelang bulan ini tiba, tepatnya akhir Bulan Agustus, aku merasa sedikit lemah dan kurang mampu menang melawan diri sendiri. Aku merasa bersalah, takut kepada waktu. Aku tidak menghasilkan apa-apa yang bermakna sesuai dengan targetku dua bulan yang lalu. 

Beberapa naskah belum saya rampungkan, tulisan masih terbengkalai, kamar berantakan, dan semuanya ikut berantakan.
Bulan ini, aku ingin menuju kotamu. Kota September, yang kulangkahkan dengan niat mampu menjadi lebih dari kemarin. 

Di bulan yang mengurung aku dengan cemas. 

*

Aslan Abidin dalam puisinya;

Andai Kau Tahu Tentang Cemas 

-andai kau tahu tentang cemas
rasa lebih pedih dari jantung direnggut lepas-

kau mungkin akan
paham: perihal gumam igauan
burung hantu saat tengah malam di pohon
randu belakang rumah, yang dulu aku impikan
membuat kita terjaga dan saling terburu eratkan pelukan

kau mungkin akan
paham: di bangku-bangku pojok halaman,
tempat aku pernah mengharapkan kau duduk
anggun menatap dua anak manis yang suntuk
bermain, aku mengenangmu dan menyeka 
air mata

-andai kau tahu tentang cemas
rasa lebih pedih dari urat nadi dikerat putus-

hingga datang genting kemarau
berkobar membakar hangus jasadku,
rumah, dan seisi halaman. juga impian akan
pelukan yang saling terburu dieratkan 
dan bangku bambu yang masih termangu
menunggu kedatanganmu

abunya dikubur penghujan,
yang menumbuhkan rerumputan, pepohonan,
dan sebagian bunga yang dulu aku
tanam untuk menyambutmu

Juga memanggil kembali
burung-burung yang mulai tahu tentang sepi, mati
dan rahasia mengapa kedua sayapnya mesti
mengepit warna api

suatu waktu, mungkin kau
melintas lewat, tersenyum terpukau
menatap sebuah kembang merah mekar tengah
dibuahi matahari-yang sengatan teriknya telah
memperabukan seorang lelaki.-

juga kau dengar jerit kicau burung
yang pulang membawa kekasih setelah terbang
jauh ke negeri asing. di kepak sayapnya akan
kau lihat warna api: jiwaku yang berpegangan
rapuh, berlindung dari kutuk bumi dan langit


*
andai, aku bisa menggambarkan cemasku dengan sedikit rapi. 

Di bulan September ini, mari kembali bertemu. :)

Rabu, Agustus 28

28 Agustus 2013


Buku ini hadir sebagai hadiah sederhana untuk kisah kita.
Saya telah mengirimnya di email. Selamat membaca, menikmati.

SELAMAT 28 

Jumat, Agustus 23

Selamat

Selamat,

Tuhan menjawab doa-doa ini.
saya senang mendengarnya, sungguh.

Selamat

Tuhan punya jalan yang indah,
saya melangkah, boleh saya menemani? Dan kau tertawa dan menjawab.

Selamat

saya ucapkan selamat kepada kamu.

saya ingin selalu hingga saya hilang dan tenang menuju Tuhan

Tapi

aku sesak dan tersesat.

tapi aku air mata, pipi tak akan menepi dari jejakku.

Selasa, Agustus 20

Seminggu Ini

Tulisan ini datang menagih,
anak kecil yang ada dalam diriku selalu menyuruhku untuk banyak meminta.

Tapi, tulisan ini juga seperti hadiah untuk anak kecil di dalam diriku.
Agar dapat bersabar dan belajar untuk tidak rajin menyalahkan diri

Tulisan ini juga ingin menjadi tulisan itu, yang kau istilahkan kanvas biru.
agar ada rumah untuk cemas berkemas menjadi lebih damai.

Tapi, tulisan ini juga datang seperti menghadang ingin-inginku.

*

Seminggu ini, aku masih menunggu surat untuk kubacakan pada anak kecil dalam diriku.

Surat itu, ada pada jarak dan letak kau merasakan jauh
atau antara rindu dan kehilangan waktu


Sehingga yang tak menentu kadang tidak dapat dituntut
seperti surat misalnya.

Seminggu ini, saya yakin kau baik di sana. Dan selamanya, kau baik di sana.

Sesekali, kita bertemu dalam tulisan.
Ingatlah untuk pulang,!!!

*
Mungkin menjelang KITA ulang tahun.
atau saat KITA ulang tahun
Aku ingin merayakannya bersama-sama, di sini.


Sabtu, Agustus 17

Hari Keempat dan Kelima

Hari Keempat

Kau terdengar dan terasa,

di telinga;aku ingin kau jadi kabar dan debar atas dunia
di mata; aku melihat dunia, kau dan aku. Semoga

Bila aku tiba, dan kau menanti

Semua akan semakin,

menjadi lebih
baik, dan indah.


*

Hari Kelima

Segeralah, kita segera merdeka.

sebelum aku dijajah cemas
dan matahari mengajak waktu menyilang nasib

________________

aku berharap, senja
mampu kita kalahkan dengan indah
bersama indah

mencintai waktu
dan bersama

aku selalu terkenang
atas kau yang berjanji
dan waktu yang menepati
lalu menjadi KITA

bila aku datang di masa depan

kuberi kau selamat dan selamat pada diriku sendiri
atas seluruh yang MERDEKA, antara kau dan aku.

aku, mengajakmu sedikit mengenang hari Lahir bangsa ini.
tempat kita memadu mimpi dan seluruh kisah

Merdeka. Doa segera Merdeka


Kamis, Agustus 15

Hari Ketiga

Hari yang mengurung banyak keinginan namun membebaskan banyak hal.
Aku mencarimu di tempat yang sama, di waktu yang sama,
di dalam kenangan kemarin.

Sebelum aku dan kau menjadi kita.

28, aku ingin tanggal itu jadi musim
yang rindu kita gugur atau mungkin sebaliknya
rindu kita mekar dan aromanya kian menebar
menusuk waktu dan diriku sendiri

Aku mencarimu di balik halaman ceritaku sendiri

Ingat beberapa waktu lalu, beberapa tahun mungkin

Aku ingin segera berada di halaman selanjutnya,
di halaman kau dan aku, benar-benar menjadi kita

yang kenangan inginkan adalah lahir sebagai bukti
dari cinta dan keyakinan yang kita jaga

kita berangan agar angin mudah mengirimnya kepada Tuhan
atau siapa saja, bahkan termasuk halaman ini

aku mencarimu, di malam bahkan di semua hal yang kau berikan


selamat menantiku, menemukanmu

dan kita akan selalu menyukai dan menjaga, satu sama lain. Kau dan aku,

Terima Kasih, aku menyukai rindu, setiap rindu yang jadi hari.


Rabu, Agustus 14

Hari Kedua

Kota ini semakin ramai
tapi aku merasa sangat sepi

Apa di kotamu juga seperti itu?

Jalan-jalan di sini begitu sesak
tapi dalam hati ada yang sesak
atas rindu

Apa di sana seperti itu juga?

Bila aku ke kotamu, akan kuberi jam dinding.

Yang detiknya kau dengarkan berdetak. Serupa jantungku yang makin rajin mengalahkan detik.

Kota ini ingin kujadikan kotak mungil. Di dalamnya, aku ingin jadi kurcaci, sendiri. Penghuni yang sepi. 

Tapi akan hilang bila kau memanggilku jadi ramai.

Ada damai.

Selasa, Agustus 13

Hari Pertama

Hari pertama; pagi merdu saat kicau rindu mulai bernyanyi.

Hari selanjutnya; kita akan saling menjaga, tenang.

Mari menikmati jarak yang akan membuat kita; menjadi kita sebenarnya.

_____

PERPUSTAKAAN Psikologi, saya menulis.

Minggu, Agustus 4

Saatnya Pulang

Pulanglah lebih cepat, tapi tepat.

Kau dan aku akan menjadi kita: iyakan?

Jalan ini, dikemudian hari jadi kenangan.

Hari ini dikemudian hari jadi jalan.

Bersama dan kita tentang cinta.

Melaju, waktu ini dan kau adalah aku.

Iyakan?
Katakan kepadaku berkali-kali. Bahwa aku adalah cinta untuk kau.

Ini terakhir atau tidak sama sekali.

Sabtu, Agustus 3

Surat Kecil

Ruang ini selalu membuatku jauh lebih baik. Juga merasa nyaman, sebab kau jadi pengunjung paling setia.

Selalu dan selamanya, hanya kau.

Malam ini, lewat surat singkat ini. Aku ingin memberitahukan sesuatu hal.

Bahwa: cermin hari ini adalah visualisasi yang kurajut dalam kata dan menjadi doa.

Semoga esok kau membacanya. :)

Jumat, Agustus 2

Rantai Waktu Yang Rindu

sebatang rindu;
tumbuh di kepalaku
menjalar subur
dan tak sabar
ingin merenggut penat

mari merawatnya:
sirami dengan waktu
atas engkau hadir
di dalam titik nadir
"benar, aku menyukainya"
Rindu ini tepatnya.

kepalaku butuh hujan:
esok kau datang
bersama awan
atau langitmu
kau teduh penuh
dan cinta

cinta adalah rindu
rantai atas waktu dalam temu

________________________________
Menjelang Datang 28 Agustus

Rabu, Juli 31

Rumah

Di dunia ini, jadikan aku rumah
yang dengan jendelaku
kau hirup aroma bumi, seluruhnya.

Di jendelaku, ruas langit akan kuperlihatkan sedekat mungkin.

Ada warna selain biru, itu untukmu.

rumah ini punya seribu jendela,
seluruhnya bagi engkau; halaman hati akan lapang selalu untuk harimu.

----------------------------
Agustus menjelang 28

Sabtu, Juli 20

Kelahiran dan Usia 2 Tahun


Cerita Kita, memang menjadi rumah paling sunyi. Untuk keramaian hati atas suara yang berisik karena terus memanggil namamu. Lahir dari segala ragu yang sedikit demi sedikit berusia menjadi percaya.

Saya tersenyum, atas komentar pertamamu yang ingin kau sembunyikan:

teruslah hidup dalam imajinasimu...
karena sejatinya kebebasan itu hanya milik pikiran kita..

"merdekalah dalam pikiranmu"

Namun harus juga kau tau... hidup bukan milik imajinasi semata...ada alam yg begitu keras dan harus dijelajadi.. alam yg akan mengantarkanmu pada titik kedewasaan berpikir, bersikap, dan bertindak.. alam ittu disebut alam nyata...
terkadang alam imajinasi tak seindah alam nyata..
namun alam nyata dapat kau buat seindah imajinasimu.. jika kau mampu melangkah dengan bijak...

;)

_____________________________________________

2 Tahun ini adalah cerita yang penuh rasa. Dunia ini adalah ketulusan.

Selamat berusia, rumah ini tempat saya menertawakan atau menangisi segala hal tentang saya dan kamu.

Mari "MENJADI KITA!"

Kematian

Kesunyian paling indah ada di dunia, sementara keramaian sebenarnya, masih dipertanyakan.

Waktu memberi kesenangan yang membiarkan kita memberi atau meminta apa saja. Pada akhirnya waktu juga yang akan memanggil, segala sesal atas dosa yang perkasa. Saya merasa tersesat amat dalam, setiap kali bulan ini bercampur rasa. Pintu keluar mengecil dan tak lagi bersahabat.

Beberapa tahun yang lalu, seperti cerita sendu di akhir musim. Saya menanggalkan beberapa harapan untuknya, dan mengenangnya dalam setiap doa yang kuharap akan jadi ketulusan. Ketulusan itu di mana, tak ada yang bisa memastikan kecuali waktu. Hari ini, saya ingin berbagi sedikit hal tentang pintu. Bahwa sebenarnya “pintu kita adalah dunia yang sunyi”. Terbukanya keramaian adalah; setelah kematian menghampiri hingga jiwa bebas dari rumah yang sepi. Saya mengingkan pintu untuk saya terbuka di bulan seperti ini. Mungkin akan terkabul.

Rasa haru lawan dari bahagia, dan sahabat dari sunyi, mungkin. Tapi, saya ingin mengucapkan selamat atas duka di awal bulan. Ada pintu yang terbuka membebaskan jiwa yang kukenal singkat, namun tulus dalam memberi. Bila kau merasa kepergiaan adalah luka, biarkan luka menyembuhkan dirinya sendiri. Tanpa butuh bantuanmu, tak seorang pun mengerti rasa selain rasa itu sendiri.

“Senyum membiarkan ketulusan lahir setiap saat, tapi di senyumnya ketulusan mengalir jernih. Bening, membagi damai dan kembali bermuara pada ketulusan”

Mari haturkan doa-doa, kereta Tuhan akan menjemput dan menjaga segala ingin di bulan ini.
*
Pintu ini sudah semakin dekat, aromanya tercium jelas. Bila membayangkan setiap orang yang kita cintai akan pergi esok hari, serasa luka lahir begitu saja.

Pintu waktu bukanlah kematian, melainkan apa saja yang kau inginkan. Sudah kewajiban malam untuk memberi jubah gelapnya pada tubuh bulan, mungkin akan jadi baju bulan, apa itu adalah keinginan? Dalam beberapa paragraf ini, tidak ada ketekunan dalam menuntun arti yang seirama. Bahkan seluruhnya buram, dan kian membingungkan.


Maka, silakan menguburkan catatan singkat dan tidak jelas ini pada waktu. Boleh jadi, keinginan waktu saat ini adalah membuka pintu; pintu untuk dunia sunyi; pintu untuk diri sendiri; pintu untuk ketulusan; untuk hidup dan kematian yang saling beriringan atas kehendak Tuhan. 

Kamis, Juni 27

Pementasan Rindu



Kening

Seberapa lama kita akan hening
selepas kita sadar akan kening
yang rindu akan ciuman

Rindu yang bening.

[2013]

Bayang

Bila bulan berbunga bayangmu
dan tepat saat aku ingin mencuri
setangkai bunga di taman

maka, kupinta
agar bulan menjadikan aku
bulan untuk bayangmu
di malam ini

[2013]


Candu
pembenaran kita
telah dirangkul masa kemarin
Agustus pencetus aku rindu,
Maret menyeret waktu
untuk bersama; lahir dari puisi bumi

pembenaran; agar segala gundah; patah.
Atas segala waktu yang memadu
Jadi candu atas cerita kita, selalu. 

[2013]

Doa

Bulan ini,
beberapa tahun kemarin, (2)
pertunjukan dan panggung yang kurapikan
ada pada rumahku sendiri
tanpa pengunjung atau penonton sama sekali.
aku sendiri, mementaskan kata.

Bulan depan,
dan juga malam ini
aku meminta diriku untuk
mempersiapkan panggung yang lebih
untuk dua orang ; kau dan aku

para kata akan menata dirinya,
menjadi pengunjung dan penonton
dengan tepuk tangan riuh;
setelah menyaksikan kau
membacakan puisi yang kau tulis
untuk aku dan dua tahun yang kumiliki kemarin.
Bersamamu.  

*Tulisan ini, semoga dapat menemanimu malam ini.