Minggu, Desember 23

Jadilah Waktu

menamai waktu sebagai bola kecil
lalu di genggam erat seolah tak membiarkan seorang pun melihat
menjadi seorang anak penyuka mainan serupa bumi
orang tua kita mengajarkan kita mengulur-ngulur waktu
hingga lepas malas menjadi kulit

berikan nama apa saja kepada waktu
hingga akhir-akhir ini, aku memanggil waktu dengan banyak nama
hingga namamu kupikir waktu

jadilah waktuku,
dan kemudian kita menjadi dua bocah kecil mungil
yang bermain waktu dengan senang
saling melempar menangkap bola
kecil-kecil sederhana, tanpa pikir kita akan dewasa esok



Jumat, Desember 21

Aku menginginkan kamu

-1-

Lamat-lamat kita teramat rindu
terhadap petang
dan seluruh warna sebelum gelap
hingga kita memilih untuk
berdiam atau ikut mengatup

kita masih senang untuk duduk di teras
menuntaskan resah kemarin
kemudian selalu mencoba
mengalahkan cerita di buku pertama
yang aku pinjam darimu
saat usiaku benar-benar tak pernah kau sentuh
namun rinduku selalu ingin memeluk
sejak dulu,

lagi, masa lampau
dan kau terlampau risau untukku

-2-

Dering nada pesan menjadi panggung tempat aku berdoa
perihal nama yang kutulis sebelum aku meninggalkan asa
berbagai keinginan

aku menginginkan kamu

terbesar, menebar,
kau menjadi kabar yang selalu kuinginkan


-3-

terlampau dalam kalau seluruhnya aku tulis
maka separuh dari kata dalam tulisanku
kukatup tanpa redup
di suatu puisi

pucuk dari puisiku
ada alamat tempat aku menyimpan
seluruh resah,
seluruh rindu
dan seluruh


kau menjadi puisi teramat hikmat
sebab
aku menginginkan kamu

Senin, Desember 10

Mayat

Aku telah mengira kau akan gembira sebelum tidur

tapi aku salah melangkah
tapi aku mati dan menjadi mayat

yang tersenyum dan sedikit lagi tertawa

mertawakan diri sendiri
mayatku adalah kepunyaanmu

yang telah mengajakku selalu berharap

sebelum aku gembira memeluk mayatku sendiri

Sabtu, Desember 1

Nama Yang Terlupakan dalam Sajak

Tepat saat aku menduga sore itu, kau tengah sibuk memandang
Ini, atau itu dengan segala hal di sekitarmu yang menjadi tamu
Sementara aku, merasa tak pernah kau pandang
Mungkin aku benar atau perasaanku tengah keliru
Inti daripada kekeliruan bukanlah diam, melainkan...

Diam sekali, aku sering diam
Ingin banyak bicara tapi aku senang menyembunyikannya
Pelan-pelan, aku yang memandangmu,
Agar aku tak merasa sendiri, dan hilang
Lain kali, aku akan berteriak menjenuhkan pikiranku sendiri
Atas perasaan dan pandanganmu yang masih sibuk
Yang nyatanya, keliru berguguran menjadi teguran, setelah
Aku menjadi pusat pandanganmu yang sebenarnya

hendaknya aku ingin menulis sajak, dimana namamu selalu ada
kau memandangku, tanpa mesti aku panggil berulang
hingga kata-kataku lalu lalang tanpa rambu

sebab nama yang terlupa dalam sajak
adalah deretan rindu yang selalu membuatku diam

diam karena,
rindu punya suara yang tak perlu diperdengarkan