Jumat, November 30

"Menulislah"

Kabari aku, di hari kau merasa sulit untuk bisa memberi kabar.

Aku hanya terbiasa dengan hadirmu di setiap saat, hingga ketika kau hilang tiba-tiba maka semua menjadi ganjil. 

Semisal kemarin aku menyuruhmu menuliskan "tombol otomatis". Itu adalah caraku untuk mendamaikan perasaan yang menyerang tiba-tiba. 

"Menulislah"

Kau mesti ada, namun di kala kau tengah tak ada, aku bisa membacanya berulang-ulang. Aku bisa terdiam dalam waktu yang cukup lama, untuk berulang-ulang kali membaca hadiahmu. Sesekali aku ingin membaca tulisan yang memperlihatkan semua baik-baik saja. Sama ketika aku melihatmu video buatanmu berulang-ulang, aku meminta untuk dibuatkan yang beraroma lebih bahagia. Sebab, aku takut bayangan masa lalu hadir dari hadiahmu untukku. Visualisasi masa lalu itu menakutkan, namun untuk mengemas rinduku lebih rapi sebisa mungkin aku melihatnya atau membacanya berulang-ulang. Memandang paras wajah yang kau kirimkan, dan senyum demi senyum yang rajin kurangkai menjadi bahagia.

Menulislah, aku lebih senang membaca dari pada banyak berkata-kata. Aku lahir sebagai seorang pemalu, yang selalu ingin terlihat sempurna. Namun tak punya apa-apa dan tak bisa berbuat banyak. Jika aku menulis, aku bebas menciptakan diriku yang baru. Sedikit mencoba memperbaiki diri, disini duniaku. Aku ingin mengajakmu, mencariku di belantara kata yang kadang mengurungku.  

Sebisa mungkin aku mengemas rindu dengan rapi, namun yang kurasa lebih dari semuanya. Ceritamu, adalah cerita yang kupunya. Jika aku sepi disini, semoga kau merasa.

"apakah kau menghadiahkan sepetak tanah sepi untukku? Yang mungkin akan menjadi kuburanku hari ini"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar