Selasa, November 13

Catatan Kecil


Di suatu malam ketika aku tengah menanti. Aku masuk dalam kamar yang telah kau susun beberapa buku, beberapa catatan, dan hiasan-hiasana yang menjadikan semua terlihat menyenangkan. Menelusuri lalu melihat satu per satu, mencoba meyakinkan bahwa kau juga pernah berdiam dengan tenang menunggu di ruangan itu. Tanpa sengaja aku melihat catatan yang kau tuliskan beberapa waktu lalu, 

Aku tersenyum membacanya, lembar demi lembaran aku buka. Hingga sampai pada titik yang tak bisa kulanjutkan, namun tetap kucoba lanjutkan membacanya. Aku senang membaca, sedih atau senang tulisan itu akan kubaca hingga aku mengerti isi dari semuanya.  

Di suatu malam aku mengirim surat, berkunjung dan duduk termenung menatap kotak-kotak surat. Berharap akan ada pesan yang kau kirim, aku kurang mengerti mungkin. Kurang perhatian dan tak memberikan sebuah hal yang kau inginkan. Atau dalam suratku terlalu banyak permintaan hingga aku tak pernah mendapatkan balasan. Aku menunggu, selalu menunggu. 

Kau mungkin sibuk dengan harimu yang sebentar lagi akan menjadi baru. Kejadian ini menginatkanku tentang peristiwa itu, seminggu kau disibukkan dengan urusanmu lalu aku tak bisa menyusun cerita darimu. Aku sendiri dan tak bisa melanjutkan paragraf di setiap cerita yang kutulis. 

Aku menulis cerita ini karena merasa sangat lemah untuk kau hiraukan. Memberiku waktu atau beberapa pargraf untuk bisa menenangkan aku disini. Di ruangan yang penuh dengan tanya yang menyatu. Di tambah dengan hari yang selalu aku khawatirkan. 

Aku membendungnya, perasaan yang mungkin menyulitkanmu.

Saat ini, aku masih takut melihat hari setelah kau menuju mimpi barumu. Takut kau hiraukan dengan kesibukan barumu, meski aku coba untuk terbiasa seperti itu. Bisakah kau membantuku sedikit saja, kalau pun tidak kuharap kau mengirimiku paragraf yang rindu. Bukan sekedar kata yang melayang begitu saja. 

Aku merasa, aku terlalu lemah.

Belum bisa tenang, bagaimana jika aku seperti ini? 

Mungkin inilah ketakutanku, ketika kau memilih jalan baru yang kemudian lupa untuk mengirimkan surat untukku. Malam ini aku menahan rasa itu, namun saat menemukan catatan kenanganmu yang kau buka kembali aku tak bisa menahannya.

Aku kalah dengan diriku sendiri, 

Surat yang kutunggu sejak kemarin tak juga datang, surat lamamu malah membuatku sedikit tenggelam dalam ketakutan, lagi dan lagi.

Aku juga takut kau mengeluh dengan semua tingkahku, 

Maaf jikalau kata ini pun tak beraturan, mungkin karena suratmu belum datang sejak kemarin. Seolah kau membiarkanku berdiri di gurun, lalu menunggu turun hujan. Entah kapan?

Maaf, ini salahku.

Kau mengeluh dengan tingkahku, maaf.

Satu hal yang paling kutakutkan adalah kebosananmu menghadapi pikiranku yang kaku. Dan banyak hal, lagi dan lagi, aku membuat keningmu berkerut. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar