Jumat, November 30

I Won’t Give Up


When I look into your eyes
It’s like watching the night sky
Or a beautiful sunrise
Well there’s so much they hold
And just like them old stars
I see that you’ve come so far
To be right where you are
How old is your soul?
I won’t give up on us
Even if the skies get rough
I’m giving you all my love
I’m still looking up
And when you’re needing your space
To do some navigating
I’ll be here patiently waiting
To see what you find
‘Cause even the stars they burn
Some even fall to the earth
We’ve got a lot to learn
God knows we’re worth it
No, I won’t give up
I don’t wanna be someone who walks away so easily
I’m here to stay and make the difference that I can make
Our differences they do a lot to teach us how to use the tools and gifts
We got yeah we got a lot at stake
And in the end,
You’re still my friend at least we didn’t tend
For us to work we didn’t break, we didn’t burn
We had to learn, how to bend without the world caving in
I had to learn what I got, and what I’m not
And who I am
I won’t give up on us
Even if the skies get rough
I’m giving you all my love
I’m still looking up
I’m still looking up
I won’t give up on us
God knows I’m tough, he knows
We got a lot to learn
God knows we’re worth it
I won’t give up on us
Even if the skies get rough
I’m giving you all my love
I’m still looking up…

By:  Jason Mraz

"Menulislah"

Kabari aku, di hari kau merasa sulit untuk bisa memberi kabar.

Aku hanya terbiasa dengan hadirmu di setiap saat, hingga ketika kau hilang tiba-tiba maka semua menjadi ganjil. 

Semisal kemarin aku menyuruhmu menuliskan "tombol otomatis". Itu adalah caraku untuk mendamaikan perasaan yang menyerang tiba-tiba. 

"Menulislah"

Kau mesti ada, namun di kala kau tengah tak ada, aku bisa membacanya berulang-ulang. Aku bisa terdiam dalam waktu yang cukup lama, untuk berulang-ulang kali membaca hadiahmu. Sesekali aku ingin membaca tulisan yang memperlihatkan semua baik-baik saja. Sama ketika aku melihatmu video buatanmu berulang-ulang, aku meminta untuk dibuatkan yang beraroma lebih bahagia. Sebab, aku takut bayangan masa lalu hadir dari hadiahmu untukku. Visualisasi masa lalu itu menakutkan, namun untuk mengemas rinduku lebih rapi sebisa mungkin aku melihatnya atau membacanya berulang-ulang. Memandang paras wajah yang kau kirimkan, dan senyum demi senyum yang rajin kurangkai menjadi bahagia.

Menulislah, aku lebih senang membaca dari pada banyak berkata-kata. Aku lahir sebagai seorang pemalu, yang selalu ingin terlihat sempurna. Namun tak punya apa-apa dan tak bisa berbuat banyak. Jika aku menulis, aku bebas menciptakan diriku yang baru. Sedikit mencoba memperbaiki diri, disini duniaku. Aku ingin mengajakmu, mencariku di belantara kata yang kadang mengurungku.  

Sebisa mungkin aku mengemas rindu dengan rapi, namun yang kurasa lebih dari semuanya. Ceritamu, adalah cerita yang kupunya. Jika aku sepi disini, semoga kau merasa.

"apakah kau menghadiahkan sepetak tanah sepi untukku? Yang mungkin akan menjadi kuburanku hari ini"

Kamis, November 29

Angka 28

"Bisakah kau membagi waktu untukku? Saat kau tengah sibuk dengan harimu"

Kau pernah seminggu mengabaikan aku, disaat aku tengah ingin bercerita banyak. Bila itu terulang, aku akan menggulungnya dengan rapi dan membiarkannya menjadi hiasan ruang tamu di rumahku. Itu telah menjadi trauma untukku, aku menulisnya sebagai cara untuk melepas sedikit demi sedikit. Berharap menjadi obat untuk menyembuhkan semuanya.

Kadang kala kau disibukkan dengan banyak urusan. Dan aku punya banyak permintaan di saat bersamaan.


Tanggal ini menjadi tanggal yang menyenangkan, akan ada banyak cerita yang bisa kita lanjutkan. Maaf aku terlambat mengucapkan, itu karena pagi yang tiba-tiba kau hilangkan. Dengan pergi tiba-tiba, aku YANG SALAH.


Tapi sudahlah, 

+++

Aku membeli sebuah buku hari ini, tidak lain sebagai upaya menghadirkan bayanganmu lebih dekat di hadapanku. 

Buku itu adalah kumpulan puisi dari seorang penulis dari Amerika, aku tengah mencoba menuliskan sajak dalam bahasa yang berbeda. Bahasa berbeda namun rasa tetap sama, aku coba seperti itu namun cukup sulit. 

Biarlah, aku senang berjuang, semua akan menjadi tantangan yang bisa menjelaskan kita arti kemenangan melawan diri sendiri. 

Sekiranya, sudah cukup tiga kali tanggal 28 itu aku lewati tanpa kamu. 

Akan ada empat kali lagi hingga kau dan aku bersama-sama ke Toko Buku. 

Dua angka genap yang indah, sebagai tanda bahwa kita akan selalu di genapkan oleh Cinta dan Rindu yang terjaga. Jumlah 2 dan 8 melahirkan angka 10 yang menyempurnakan angka, kau sempurna. 

Untuk perasaanku, yang selalu terjaga untuk perasaanmu. 

Have a nice day..

Minggu, November 25

Hujan November

Disini aku sering menatap ranting yang telah menjatuhkan daunnya. Melihat kawanan burung yang hinggap di ranting lalu aku mencoba merekamnya dalam sebait sajak. Daun yang jatuh mengabarkan satu kata, lalu angin yang berhembus mengundang sebait sajak. Banyak hal yang membuat sajakku menjadi ingin hidup disini. Terlebih saat bayanganmu hadir bersama hujan, rasa untukmu menjadi pelengkap yang mengutuhkan seluruhnya. 

Di kamarku, aku menuliskan surat-surat kecil yang kusimpan di handphone atau kutuliskan di kertas kecil. Aku mendapatkan rasa yang ingin selalu bermain denganmu, tertawa mendegar candaanmu lalu memikirkan hal-hal sederhana hingga hal tersulit bersamamu. Mengatasnamakan rindu dalam hal ini, namun bagiku lebih dari itu. Ada banyak keinginan yang tak bisa dijelaskan oleh kata Rindu. 

"kadang aku sesak" katamu

aku tak ingin menamai rasa yang kumiliki sesak, meskipun seutuhnya rindu menghadiahkan rasa yang lebih sesak. Anggap ini cobaan termanis, yang kuanggap cobaan termanis sebelumnya jauh lebih sesak. Ceritamu pernah menjadi kumpulan sesak yang menusuk hingga jatung, aku tak bisa mengucapkan kata yang tepat. Namun saat ini, aku bahagia dengan rasa yang ada. Cobaan termanis jilid berapa? Semua hal tentangmu, kupilih untuk menjadi cerita paling indah dalam perjalanaku. 

"Kau hadir dan telah menangkan hatiku" petikan sebuah lagu.

Metamorfosis Rindu menghadirkan rasa yang jauh lebih. Kemarin aku senang berjalan saat hujan, melihat parade kemudian hujan turun, aku lebih memilih berjalan dalam hujan. Mencari bayangan-bayangan yang mungkin ada. Atau berharap hujan menghadiahkan banyak cerita lagi. Hujan seolah melemparkan pikiranku menuju perasaanmu. 

"Ketika hujan, rinduku membuncah" katamu

Menunggu hingga hujan membasahi tepi hati yang ingin menanti. Aku ingin hujan, setiap hari bila hujan bertandang maka aku akan menari dalam kata-kata. Tentunya, tepat saat hujan datang aku bisa menemukan irama untuk tarianku. Sekarang, aku juga selalu ingin meminta hujan pada langit. Sebab lewat hujan, aku akan menemukan beberapa genangan air di perjalanan menuju rumahmu.

Aku senang menatapnya dalam-dalam, sebab kadang senyum atau tawamu muncul tiba-tiba dalam genangan itu. Di perjalanan menuju rumahmu, mungkin rindu menggambarkan perasaanku. Hingga imajinasiku mampu menghadirkan senyum atau paras wajahmu yang indah.  

Sekarang, November tengah menghadiahkan beberapa hujan di Minggu pertama. Namun, semenjak kalimat penolakan itu hadir, aku tak tahu cara menyambut hujan dengan senyum. Seolah lupa pada segala hal sederhana yang telah hujan berikan. .  Kini, hujan menyimpan banyak kenangan tentang cerita kita. Dan membuat aku selalu percaya bahwa akan ada irama yang jauh lebih indah dari hari ini. Sebelum hujan, aku senang membacakan beberapa kalimat cinta yang kupetik dalam sajak-sajak sederhana yang kumiliki. Saat hujan, aku mulai membacakannya padamu. Dan selepas hujan, aku menulisnya kembali di buku  bersampul merah. Buku yang berisikan sajak-sajak sederhana, yang ingin kuhadiahkan di hari ulang tahun kau menemukan aku. 

Aku selalu menuliskan harapan padamu, saat hujan ataupun saat hujan pergi, kemudian aku juga menagih suara yang ingin kujadikan surat. Termasuk hujan pagi yang sebentar lagi pergi. Sebelum aku dan kau dipertemukan rintih-rintih rindu.

Tanpa aku bertanya, kupikir kau bisa merasakan apa yang kutuliskan. Terlebih sebab aku dan kau adalah insan yang mengagumi kehadiran hujan. Aku atau kau bisa jatuh cinta tepat saat hujan ketiga di bulan Agustus. Hingga aku merasa, hujan hadir sebagai pertanda bahwa kau dan aku akan punya banyak cerita. Seperti hujan yang punya banyak kesempatan untuk hadir di bumi ini. Membasuh hati yang kering dan teruka, lalu menjadikannya indah dan sejuk.

Maka, selama hujan masih ada. Perasaanku pun akan selalu terjaga. Begitu pun dengan perasaanmu.  Sebab, aku atau kau adalah kita yang selalu aku satukan dalam surat-surat sederhana untuk Tuhan, agar kita selalu bahagia BERSAMA membaca balasan surat dari Tuhan.

Rabu, November 14

BERSAMA, BERARTI

Memasuki ruangan baru yang kau sediakan membuat aku semakin sadar bahwa semua yang kau berikan BERARTI.




Tanpa banyak kata yang ingin kulontarkan, aku hanya ingin kau tahu setiap malam aku mengemas rinduku sebelum aku tertidur lelap. Berharap kau selalu menyapaku, di ruang baru ini, aku akan sedikit merasakan sesuatu yang berbeda. Mengemas rindu dengan rindu yang lebih banyak, jauh lebih banyak.Semoga Tuhan selalu menjagamu, dan kau menjaga kata-kata yang kutitipkan, bersama menjaga. 

"Berharap kau bisa sedikit bersabar... bersabarlah mengahadapi dirimu.." katamu"Baiklah"

aku atau kau adalah kita yang selalu kusatukan dalam surat-surat sederhana untuk Tuhan, agar kita selalu bahagai BERSAMA membaca balasan surat dari Tuhan. 

Kita Selalu, kau dan aku. :)

Selasa, November 13

Catatan Kecil


Di suatu malam ketika aku tengah menanti. Aku masuk dalam kamar yang telah kau susun beberapa buku, beberapa catatan, dan hiasan-hiasana yang menjadikan semua terlihat menyenangkan. Menelusuri lalu melihat satu per satu, mencoba meyakinkan bahwa kau juga pernah berdiam dengan tenang menunggu di ruangan itu. Tanpa sengaja aku melihat catatan yang kau tuliskan beberapa waktu lalu, 

Aku tersenyum membacanya, lembar demi lembaran aku buka. Hingga sampai pada titik yang tak bisa kulanjutkan, namun tetap kucoba lanjutkan membacanya. Aku senang membaca, sedih atau senang tulisan itu akan kubaca hingga aku mengerti isi dari semuanya.  

Di suatu malam aku mengirim surat, berkunjung dan duduk termenung menatap kotak-kotak surat. Berharap akan ada pesan yang kau kirim, aku kurang mengerti mungkin. Kurang perhatian dan tak memberikan sebuah hal yang kau inginkan. Atau dalam suratku terlalu banyak permintaan hingga aku tak pernah mendapatkan balasan. Aku menunggu, selalu menunggu. 

Kau mungkin sibuk dengan harimu yang sebentar lagi akan menjadi baru. Kejadian ini menginatkanku tentang peristiwa itu, seminggu kau disibukkan dengan urusanmu lalu aku tak bisa menyusun cerita darimu. Aku sendiri dan tak bisa melanjutkan paragraf di setiap cerita yang kutulis. 

Aku menulis cerita ini karena merasa sangat lemah untuk kau hiraukan. Memberiku waktu atau beberapa pargraf untuk bisa menenangkan aku disini. Di ruangan yang penuh dengan tanya yang menyatu. Di tambah dengan hari yang selalu aku khawatirkan. 

Aku membendungnya, perasaan yang mungkin menyulitkanmu.

Saat ini, aku masih takut melihat hari setelah kau menuju mimpi barumu. Takut kau hiraukan dengan kesibukan barumu, meski aku coba untuk terbiasa seperti itu. Bisakah kau membantuku sedikit saja, kalau pun tidak kuharap kau mengirimiku paragraf yang rindu. Bukan sekedar kata yang melayang begitu saja. 

Aku merasa, aku terlalu lemah.

Belum bisa tenang, bagaimana jika aku seperti ini? 

Mungkin inilah ketakutanku, ketika kau memilih jalan baru yang kemudian lupa untuk mengirimkan surat untukku. Malam ini aku menahan rasa itu, namun saat menemukan catatan kenanganmu yang kau buka kembali aku tak bisa menahannya.

Aku kalah dengan diriku sendiri, 

Surat yang kutunggu sejak kemarin tak juga datang, surat lamamu malah membuatku sedikit tenggelam dalam ketakutan, lagi dan lagi.

Aku juga takut kau mengeluh dengan semua tingkahku, 

Maaf jikalau kata ini pun tak beraturan, mungkin karena suratmu belum datang sejak kemarin. Seolah kau membiarkanku berdiri di gurun, lalu menunggu turun hujan. Entah kapan?

Maaf, ini salahku.

Kau mengeluh dengan tingkahku, maaf.

Satu hal yang paling kutakutkan adalah kebosananmu menghadapi pikiranku yang kaku. Dan banyak hal, lagi dan lagi, aku membuat keningmu berkerut. 

Minggu, November 11

Pesta

di suatu pesta
kubiarkan pandanganku menatap
kursi kosong

sementara riuh terus bergelantungan
pada senyum para tamu

perasaan ingin berbincang padamu
hadir tiba-tiba

kupandangi kursi itu dalam-dalam
menempatkan rindu bersandar
setelah waktu mengizinkannya berlayar

di pesta ini, aku terbungkam sepi
setelah aku pahami,
aku tak pernah menyukai pesta,
kecuali pesta kata-kata bersamamu

dimanapun itu, kadang aku berbincang
bersama rindu yang sendu,
mewakiliki ketiadaanmu


kemarin telah kusediakan ruangan yang beraroma hijau,
agar kau tak menggalau
telah kusediakan alunan harmonika, lagu kesukaanmu


aku bebas mengatur pestaku sedemikian rupa
dan aku tak pernah lupa bermain harmonika

aku bebas mengatur pestaku sedemikian rupa
untukmu apalagi.

di pestaku, aku selalu bermain harmonikaa
harmonika
harmonika
harmonika
berharap suatu saat kau kuajak untuk menikah

Charlottetown, 11 November 2012

Sebait Cerita

Ceritaku penuh dengan tanya yang mulai mengusikmu. Di tengah kau tertawa lepas, di tengah kau menikmati hari dan menyusun serangkaian mimpi-mimpi barumu. Tak lain ceritaku hadir hanya untuk membuatmu memahami jikalau aku membutuhkan ceritamu, agar melahirkan kata "Cerita Kita". 

Aku kadang bertanya-tanya, apa aku bisa melahirkan Cerita Kita?

Apa aku dan kau bisa saling bertukar cerita, di tengah jalan dan tempat yang berbeda?

Sementara aku selalu ingin mendengar, namun aku takut mengganggu pestamu. Dalam pestamu, pertanyaanku terkubur hidup-hidup. Aku mesti belajar untuk mempertahankan keinginan untuk bisa lebih menenangkan diri sendiri. 

Ceritaku penuh dengan keinginan, yang mungkin membuatmu lupa satu per satu karena jumlah yang terlalu banyak. Aku tak pernah ingin menjadikan cerita ini milikku sendiri, 

Selalu, keinginan untuk bersama meski kau tak bisa ada disini, atau aku ada di sampingmu.

Di tengah keramaian, aku menulis bait-bait rindu untukmu. 


Sabtu, November 10

Wujudkan Segera

Hari itu kau mengabarkannya lewat pesan. Dan mataku berfokus pada baris-baris yang kau tulis, di saat mataku baru saja terpejam cukup lama, sekitar 5 sampai 6 jam. Senang mendengar kabar itu, akhirnya kau berhasil dengan pencapain yang hebat. Bersyukurlah, 

Namun, cerita yang sering membuatmu bosan tiba-tiba hadir kembali. Mungkin karena kondisi yang cukup sulit untuk ditenangkan. Perihal jalan yang akan kau pilih setelah ini, hari itu, aku merasa bahagiaku sedikit diselimuti ketakutan-ketakuan yang tiba-tiba. Kupikir ini karena perasaan tengah mekar hingga menakar apa saja yang ada. Maaf aku tak mampu untuk lebih berani hari itu, di pikiranku sekumpulan bayangan datang mengacau. Hingga aku sedikit menggalau, :)

Kau tahu mungkin, perihal langkah yang kadang kau pilih berdasarkan pilihan orang lain. Di saat kondisi ini, aku tak bisa menemani dan kadang hilang tanpa kabar. Hingga kutulis surat ini, aku sedikit lebiih tenang. Sebab ini hanyalah pikiran, namun semoga kau bisa kuat untuk hal itu. 

Beberapa postingan kuselipkan kata "KUAT", berharap kau menjadi jauh lebih tangguh. Jalan yang kau pilih semoga tak membuat aku melakukan hal yang aneh. Aku tak banyak bicara, sebab aku paham kau selalu bisa mengerti dengan apa yang ada dalam pikiranku. Tanpa perlu kujelaskan panjang lebar dengan sedikit kata yang berulang. 

Sekali lagi selamat, dan teruslah berjuang bersama. Denganku, denganmu, dan semua harapan yang lahir dari perbincangan sederhana. Sesederhana apapun itu, patut untuk diwujudkan. #optimism

"Kita bisa menjadi lebih KUAT"


Jumat, November 9

Menangkan Dirimu

Sesuatu yang tak nampak belum tentu berarti tak ada, begitupula sebaliknya. Sesuatu yang nampak belum tentu ada. Partikel kehidupan selalu berpisah, atau bertemu untuk menciptakan suatu zat baru atau menguatkan zat tersebut. Jarak dari satu partikel ke partikel lainnya sangatlah dekat, semua yang ada di ruang ini adalah sekumpulan materi yang terhimpun dari partikel yang ada. Sekumpulan energi yang menyergap suatu kondisi, melahirkan bentukan atau perubahan baru. 

Saat kau membaca tulisan ini, tak ubahnya aku tengah duduk di sampingmu sambil membacakan berlembar-lembar sajak rindu. Kau mungkin tak melihatku secara fisik, namun saat aku menuliskan surat ini, ada partikel yang kuselipkan di setiap huruf yang ada. Kubiarkan mereka bebas lepas untuk bertemu dengan matamu, hingga masuk dalam pikiran dan perasaanmu. Sekiranya aku ada di sampingmu dalam kondisi seperti ini, namun bukan tidak mungkin, tulisan ini bisa sebanding dengah hadirku. Aku menulisnya dalam keadaan yang sama denganmu, "keinginan yang membuncah" seperti itu. 

Tarikan nafasmu menguatkan hadirku, setiap kali pandanganmu fokus pada baris-baris haru yang ingin menggenggam tanganmu. Kau bisa menghirup aromaku dengan merasakan lewat perasaanmu yang tengah bimbang dengan hari ini. Kebimbanganmu akan semakin membuatku terasa begitu berarti, bahwa kau telah sepenuhnya merasakan energi yang kutitipkan padamu selama ini. Perihal perasaan, aku berani mengatakan bahwa telah terhubung jembatan yang kokoh untuk mempertemukan titik-titik energi kita. Kusebut itu, "Ketulusan".

Aku ingin kau menjadi jauh lebih kuat setelah membaca serangkain kata dalam surat ini. Kau bisa menjadi lebih dari apa yang kuduga, berikan yang terbaik untuk diriku dan orang sekitarmu. Dari dirimu aku belajar untuk terus berjuang lebih tangguh, dan berusaha mengalahkan ketakutan pada diriku sendiri. 

"Menangkan dirimu, dari dirimu sendiri"

#Optimism ^^v

Rabu, November 7

Harapan Ki(T)a

"Begitu hebatnya rasa yang Tuhan sedang titipkan,
untukku, untukku, untukku,
padamu, padamu hanya padamu" (Lyla, 2012)


Keinginan untuk selalu ada dan bisa bersamamu dalam kondisi apapun.Kusebut selalu.

Kutulis yang sekiranya bisa memulihkan penat disini, kadang kala jarak menghadiahkan rasa yang begitu sulit untuk kuberi nama. Melebihi rasa yang sering kau sebutkan dalam chat, atau pun pesan yang kutitipkan. Tak terasa, sebentar lagi kau akan melangkahkan mimpi barumu. Maaf tak sempat menemanimu dalam meretas asa yang selama ini kau hiraukan. Tinggal menghitung hari, selanjutnya kau bersiap untuk berjalan lebih bebas. Bebas dalam artian, kau akan memilih jalan selanjutnya. Yang menurutmu terbaik untuk kau tempuh, 

Selamat atas perjuangan yang telah kau lalui, meskipun kita sadar bahwa apa yang kita perjuangkan belum maksimal. Kau dan aku, (baca:kita) mesti bersiap untuk lebih mengejar harapan dengan tekad yang jauh lebih kuat dibanding sebelumnya. Kita mesti berterus terang pada dunia bahwa ada harapan yang bisa menjadi cahaya dalam gelap. Aku penuh dengan ketakutan, namun dengan harapan yang terus kubiarkan bersinar, maka aku semakin kuat dan jauh lebih kuat. 

Kebahagiaan  yang dinanti itu, akan datang. #optimism

Bukan kau atau aku, tapi kita.

Jumat, November 2

Bertemu

Sekiranya berat, namun biarkan saja jemari itu mengalirkan rindunya. Entah akan melahirkan berapa cerita atau rasa dalam untaian kata yang selalu kunanti. Seperti yang kau rasa dan apa yang telah Tuhan titipkan.

Matic merahku, dan spion itu. Kabar mereka baik, dan juga menanti.

Sekiranya, aku berniat mengajakmu bermain-main bersama mereka di hari yang telah lama kau nanti. Setelah kurang lebih empat tahun kau menjamah impianmu, dan akan berlanjut ke impian selanjutnya. Kau melangkah, namun aku masih disini. Tak bisa menemanimu di hari yang telah lama kau nanti, keinginan itu telah lama jauh sebelum aku mendapatkan tempat disini. Sebab jelas terlihat, kau yang melangkah lebih dulu dan akan selesai sedikit lebih awal dariku. 

No problem for me, keinginan itu mesti kujalankan. Tunggu setelah aku dan kau dipertemukan disuatu tempat, yang menjadi tempat favorit kita berdua. Semoga kau tetap menunggu hari itu, 

*** 

"Bagaimana rasa menunggu?"

Aku berusaha menghindar dari pertanyaan itu, sebab aku tak pernah bisa menjawab apa yang kau rasakan saat melontarkan pertanyaan seperti itu. Aku bersalah sejak awal, sejak aku mengajarmu untuk rajin menunggu. Hingga aku takut jika faktanya suatu hari kau berani menjawab untuk lelah menunggu. 

Berbagai cara aku coba jalankan, agar kau tetap tersenyum. Dengan tingkahku yang sedikit membosankan, dan kau mulai mengeluarkan pertanyaan yang sulit untuk kujawab.

Maaf, 

Jawaban dengan kata "maaf" pun tak pantas kulontarkan ketika kau merasakan sesuatu yang membuat kau melontarkan pertanyaan itu. Namun aku tak punya pilihan lain, 

aku ingin kau menunggu, dan aku berusaha untuk bertemu hari bahagia dalam waktu secepat mungkin. Aku berusaha, 

lontarkan pertanyaan itu, dan aku tetap menjalankan keinginanku bertemu hari bahagia.

Maaf, 

apapun yang kau lontarkan, jalanku telah kau pahami, dan semoga Tuhan mengizinkan semua itu. 

Sekali lagi,

Tunggu setelah aku dan kau dipertemukan disuatu tempat, yang menjadi tempat favorit kita berdua. Semoga kau tetap menunggu hari itu,