Sabtu, Oktober 20

Kursi Roda

Tak ada banyak kabar yang kuperdengerkan, kemudian aku terdiam lama. 

Aku memintamu untuk mendorong kursi rodaku mendekat di depan akuarium ruang tamu kita, saat itu aku tak lagi bisa berkata apa-apa. Selain menunjuk ke arah akuarium sebagai bahasa yang mungkin akan segera kau pahami. 

Aku ingin melihat beberapa ikan kecil warna -warni datang mendekat, atau menjauh dan berusaha bersembunyi dari kehadiranku. Saat itu, aku kadang kesulitan untuk tertawa lepas dan nafasku pun mulai sedikit melemah. Tak sekuat dulu, saat aku menunggu dan menjemputmu dengan motor merahku. 

Entah berapa lama aku akan merepotkanmu di kursi roda sederhana ini, sebab aku tak bisa menghibur lagi. Memainkan harmonika, menyulap beberapa kata menjaadi puisi, atau bercerita sudah lenyap termakan waktu. 

Aku ingin kau mengajakku bermain-main, tapi aku tak bisa mengatakannya. Aku ingin kau mengajakku berputar keliling perpustakaan atau di deretan lemari buku yang kita punya. Aku ingin seperti itu, sambil kau tetap tersenyum seperti biasanya. 

Keriputku ternyata lebih cepat darimu, tubuhku lebih rentah dari tubuhmu. Aku sangat lemah, 

Bila musim telah berganti, doa-doa kulantunkan dalam hati untuk Tuhan. Berharap kau atau aku masih bersama, waktu akan selalu menggoda. 

Aku duduk di kursi roda sambil tersenyum dan selalu melihat matamu dalam-dalam. Aku takut jika di matamu terlihat keluh yang akan membuatku merasa bersalah. 

Aku ingin menyentuh sesuatu, tanganmu mungkin. 

Aku ingin mendegarmu bercerita, lalu kau sedikit tertawa. 

Aku tak mengerti mengapa, kondisi jadi seperti ini. Lemah dan seolah hanya menjadi boneka yang bergerak jika tertiup angin. 

Disaat itu tiba, aku ingin kau tetap membiarkan semua yang kau miliki tetap seadanya. 

Aku merepotkan, di beberapa hari terakhir di kursi rodaku. Kuharap kau tak pergi dengan teman-temanmu, dan meninggalkan sendiri di depan akuarium. 

Aku bahagia, dalam diam ataupun suasana yang lainnya. Jikalau kau masih selalu ada, 

dalam kondisi apa pun, 

ini cerita tentang harapan di masa yang akan datang, ketika aku lebih tak berdaya menghadapi waktu. 

di kursi rodaku, aku menjadi anak-anak yang tak bisa menyampaikan keinginanku secara langsung.


di sebuah rumah sederhana, Maret 2084



2 komentar:

  1. Prosanya bagus, membingungkan bukan masalah. Hanya kayak ada yang kurang gitu. Di bagian mana ya?

    Fiksi ya? Kenapa pakai kursi roda? Lumpuh plus bisu ya?

    :D

    BalasHapus
  2. hahahaha, hanya orang yg dtujukan yg bisa mgerti. :D

    BalasHapus