Rabu, Oktober 10

Kata dan Gula

Teruntuk kata yang kau lahirkan dari hati. Dalam diam kata-katamu tertanam rapi tanpa pernah aku pahami sedikit pun. Maafkan segala hal yang luput dari semua tingkahku, dari semua kabar tanpa tanya yang memperlihatkan bahwa aku tengah memperhatikanmu. 

Sejujurnya, sebelum kita mengalami kondisi seperti ini. Aku selalu ada di dekatmu, hampir menikmati seluruh jam dalam sehari. Perhatianku, atau segala hal yang saat ini kau rindukan ada pada saat- saat kita bersama. Entah, hari ini aku salah menempatkan sikap atas hari yang seperti ini. Satu hal yang mungkin menjadi kesalahanku, dan kemudian aku tersadar setelah membaca rentetan kalimat yang kau tuliskan. Sebelumnya, aku mencoba untuk hanya bertanya kabar dan bagaimana? Sekedar bertanya, tak lebih dalam. Kupikir dengan itu kau bisa sedikit bebas, dan merasa bahwa aku telah percaya padamu. Sebab kau tahu, bahwa kadang aku banyak tanya dan permintaan yang tak jelas hingga aku merasa aku telah mengurungmu dalam keinginan yang kadang kau tak pahami.  

Perhatian itu, MAAF. Aku sadar aku salah, dengan kesibukan yang ada hari ini. Dengan kondisi seperti ini, aku masih bisa untuk selalu memberimu kabar. Terlebih untuk perhatian, tegur aku kala kau tak mendaptkan apa yang kau inginkan. Aku akan mengambilkan gula, hingga teh hangat yang kau sedu kembali manis. Aku berharap agar kau tak menyuruh orang lain untuk memberi gula. 

Disini, aku tengah berusaha untuk lebih dekat denganmu. Jarak akan membuat rasa itu semakin kuat, jauh lebih kaut. 

Esok, aku mulai menuju persinggahan baru. Entah ada wifi atau tidak. Namun ketahuilah, disini aku selalu berpikir untuk segera memilikimu seutuhnya. 

Semoga beberapa harapan dalam surat ini, bisa menjadi gula.
:D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar