Senin, September 17

Berani Itu Ajaib

Aku tak pernah berani memperkenalkan perempuan kepada ibuku, kecuali kau.

Apakah kau pernah mengerti kenapa aku punya keberanian itu?

Tak lain karena kau sendiri yang mengajarkanku. Hingga aku kemudian menyatakan bahwa berani itu ajaib.

Dan beberapa minggu terakhir ini, aku sering melontarkan tiga kata itu. Meski aku belum bisa menjelaskan mengapa berani itu kusebut ajaib.

***

Aku punya banyak janji di masa depan, yang entah akan kutepati atau tidak. Kau rajin tersenyum saat mendengarnya, bahkan tak jarang kau tertawa. Bahkan kau mungkin sudah pernah merasa kecewa dengan sikapku yang kadang memberikan janji namun teringkari oleh berbagai hal.

Saat ini, aku tak berani berjanji apa-apa kepadamu. Aku mulai belajar untuk berjanji kepada diriku sendiri. Karena aku sadar, dengan aku berjanji pada diriku sendiri otomatis kau akan lebih tenang. Janji itu adalah keberaniaan, yang mesti menjadi penerang dalam ruang yang pernah gelap gulita.

Beberapa hari terakhir ini, aku sering melontarkan pertanyaan yang tak berkualitas. Tak jarang alismu berkerut, wajahmu kusam, senyummu terbenam oleh kecewa yang kuundang sendiri. Bukan bermaksud untuk membuat seperti itu, hanya saja aku tengah berusaha untuk menenangkan diriku. Perasaan ini, baru pertama kali kualami. Debaran yang suaranya kadang hadir di malam yang kemudian membangunkanku tiba-tiba. Kau, serasa ingin pergi dan aku tak punya kekuatan untuk menahan.

Setiap kali perasaan itu datang, aku membaca tulisan-tulisan yang kau tujukan untuk hatiku. Perasaanku kuat untuk selalu bersamamu.

Kupikir, ini hanyalah efek dari waktu yang mengundang peristiwa. Perasaan ini, bukan lagi perasaan yang biasa.

Aku ingin kau menemaniku untuk senantiasa merawat rindu setiap kali jarak menghadirkannya, atau waktu menuntutnya.

Akupun demikian, senantiasa akan menuturkan rindu dalam kata. Agar lebih menenangkan dan menyenangkan.

Beberapa hari yang lalu, aku egois karena memintamu untuk selalu bersama.

Maafkan permintaan itu, tak ada maksud untuk mengganggu aktivitasmu. Seolah hanya aku yang ingin menang sendiri, tanpa membiarkanmu bebas.

Beberapa hari yang lalu, aku masih rajin bertanya tentang jalan demi jalan, arah demi arah. Lalu kau menegur dengan nada yang sedikit tinggi. Kau sering menegurku, dan aku senang dengan caramu.

Aku hanya ingin bilang, jika beberapa hari kedepan aku terlihat aneh. Itu adalah caraku untuk mengeja waktu yang mulai melemparkan resah.

Dimana kau?

Kau dimana?

Aku berterima kasih atas segala hal yang kau berikan.

Caramu menemaniku, selalu membuatku rajin merindu.

***

Ketika ibuku kemudian mulai bertanya, bagaimana jika dia meninggalkanmu (menikah dengan orang lain?) ?

Aku menjawabnya dengan acuh, sebab aku paham betul bahwa kau telah memantapkan ruang itu untukku. Aku juga sudah tak pernah berpikir jikalau kau akan seperti itu.

Bukan bermaksud tak peduli, namun aku telah menempatkan harapan pada hati yang kau hadiahkan. Aku berani mengatakan kepada ibuku, bahwa kaulah perempuan yang akan menjadi menantu yang baik baginya.

Pilihanku selalu baik, terlebih memeilihmu.

Aku berani, karena berani itu ajaib. Jika kau belum mengerti tentang tiga kata itu. Akan kujabarkan padamu, di satu jam setelah acara resepsi pernikahan kita selesai.

#optimism

Rabu, September 12

Jejak Bahagia


Mengikuti berbagai kegiatan dan menemukan hal-hal baru adalah hadiah Tuhan yang tak terhingga. Di beri kesempatan untuk menginjakkan kaki ke beberapa tempat menjadi pengalaman tersendiri yang bisa membuat kita belajar banyak hal untuk memperbaiki pribadi. Berkunjung dari satu persinggahan ke persinggahan baru, menikmati udara yang berbeda, desiran angin di berbagai tempat selalu berbeda di telinga.


Aku menikmati segalanya dan selalu bersyukur. Tuhan selalu memberi hadiah untuk kita. Bahkan dalam kejadian terburuk pun selalu ada bingkisan yang bisa kita buka dan pelajari dengan lebih bijak.

Beberapa tahun yang lalu, aku selalu merasa perjalanan ini adalah jejak-jejak kesepian. Di setiap persinggahan kadang aku mengeluh, kesendirian kadang mengundang sedih dan beberapa orang melihatku tertatih.

Aku menikmati dan tersenyum. Dan beberapa orang menilai aku tersenyum dalam luka.

***

Sekarang, kau telah berani untuk mengambil keputusan. Maafkan untuk segala hal yang telah kujalani dan yang telah kuberikan. Yang membuatmu masih terkesan ragu, tidak menjanjikan, tidak ada konsisten, kadang aku berubah, masih dipahamkan berulabg kali, kadang masih sulit percaya, dan berbagai hal yang telah membuat wajahmu kusam.

"Niscaya, kamulah..."

Aku menuliskannya diatas hamparan doa yang wajib kita sentuh bersama. Disana ada persinggahan  yang Tuhan sediakan untuk kita.

Keyakinan itu semakin keras, menggilas pesimis.

Kita punya jejak bahagia, dan akan selalu bahagia.

Kita adalah kita, sepasang hati yang terpaut dalam beberapa untaian kata.

Kau pasti mengeri...