Rabu, Agustus 1

Sekilas Cerita Tentang Rasa

Terima Kasih untuk teman-teman dunia maya yang telah menyempatkan hadir dan membaca tulisan-tulisan dalam blog ini. Awalnya, tulisan-tulisan blog ini hanya akan saya berikan kepada seorang perempuan. Namun saat membuat blog ini setahun yang lalu, tepatnya 19 April 2011 saya malu dan mengerti dengan kondisi yang ada. Tak ada rasa jujur yang menguatkan kala itu, dan sepertinya perempuan itu sibuk dengan berbagai masalah dan aktivitas yang ia tengah jalani. Jika harus membaca dan melihat blog ini, kupikir dia hanya akan mengabaikan semuanya.

Suatu hari kemudian, ada seorang perempuan yang selalu bertanya tentang isi dari tulisan-tulisan blog tersebut, dan dialah orang pertama yang bertanya seperti itu padaku.

“Tulisan itu untuk siapa?”

“Untuk dijadikan novel!” jawabku sebagai bentuk defense mechanism. Bertahan dalam kepura-puraan. Seperti itulah saya,

Saya belum punya langkah yang tepat, belum tahu jelas apa dia pas dan bisa mengerti dengan apa yang kurasakan. Saya tak mengerti sedikitpun. Memahami perasaan atau pikiran perempuan itu bukan pekerjaan yang mudah. Betulkan?

Perempuan itu punya lesung pipi yang selalu menghias senyumnya, hingga semua tersa menjadi lebih sejuk. Tapi sayang, sejuk sebenarnya itu adalah milik seseorang laki-laki yang bisa membuat tangisnya seketika berubah menjadi tawa yang bersanding dengan senyuman. Dan sayangnya, laki-laki itu bukanlah saya. Setahun yang lalu seperti itu,

Sepertinya, rasa yang saya miliki bertepuk sebelas tangan.

Tapi, bagaimanapun kondisinya. Ketika saya berani menyebut rasa itu adalah cinta, maka wajib untuk kutelusuri. Entah dia akan mengerti atau tidak. Benar kata orang, memasuki cinta punya dua kemungkinan kau akan sakit atau bahagia. Itu saja pilihannya, peluangnya menjanjikan 50:50. Hidup ini hanya milik orang-orang yang berani. Termasuk saya yang berani sakit sesakit-sakitnya.

Ada satu hal yang bisa merubah peluang itu, 50:50 dalam kondisi normal, dalam langkah yang saya jalani ada kondisi yang agak sedikit merisaukan. Perempuan itu dua tahun lebih tua dibandingkan saya, langkahnya lebih maju sedikit di banding langkah saya. Maka saya wajib berlari untuk setara atau bahkan melebihinya sejengkal. Tapi, waktu berlalu membuatku kembali berani untuk berusaha melewatinya beberapa langkah lagi. Dengan cara itu, saya bisa menjadikan semua lebih nyata dan jauh lebih meyakinkan.

Awalnya, saya hanya mengenalnya sebatas senyuman. Pertama saya menemukan senyum itu, di malam berlangusungnya kegiatan pelatihan menulis pada tanggal 17 Februari 2011. Saat saya tengah mengikuti seleksi anggota baru untuk bergabung dalam organisasi tersebut. Hingga akhirnya frekuensi senyumku dan senyumnya agak bertambah setelah saya diterima di organisasi tersebut. Hanya sebatas senyum, dan karena saya memang lebih suka senyum daripada berkata-kata.

Hari berlanjut dan saya takut. Perempuan itu sepertinya semakin jauh...

Entah kemana dia, saya tak pernah menanyakan. Hingga pada tanggal 20 Maret 2011, saya melihat namanya ada dalam daftar obrolan facebook saya. Saya mengirimkan link blog saya dan meminta agar dia membaca sejenak. Perempuan itu membalas, dengan mengirimkan link blognya juga. Saya katakan, chat itu iseng-iseng saja, saya follow blognya dan dia ikut follow blog saya. Postingan itu berisi tentang doa dan harapan saya, saya menulis keinginan untuk membaca buku Habibie dan Ainun, saya memberi judul postingan itu “Wawan dan ....”

Sebelum saya posting tulisan itu, saya sudah berdoa semoga yang memberi komentar pertama di tulisan kali ini, adalah jawaban pelengkap dari judulku. Dan bisa seperti Habibie dan Ainun, jika Habibie dan Ainun, maka dialah perempuan itu. Perempuan yang memberi komentar pertama di tulisan penuh harapan itu.

Saya heran, perempuan yang pertama memberi komentar adalah dia. Perempuan yang selalu kurindukan sejuk senyumnya. Kupikir ini bukan kebetulan. Apakah ini jawaban doa? Semoga! Terlebih dia ingin meminjam buku itu, dia menjawab harapanku sedikit demi sedikit. Maka, niscaya senanglah diriku. ^^

Ada sedikit langkah yang hendak menyusul, namun masih jauh. Seperti itulah langkahku, sangat terbata-bata, kadang di landa musim sepi dan kecewa menanti esok. Bisa saja badai tiba-tiba menghadang dan membuat hilang entah kemana.

31 Maret 2011, ada Cinematica, nonton bareng film dokumenter Suster Apung. Disinilah, saya duduk pas disampingnya. Dan saya ajukan pertanyaan aneh, hingga keadaan menjadi sedikit cair, bahkan meleleh karena tawa yang tak tertahankan. Sekitar pukul 18.07 sampai 22.13 langkah sedikit mendekat, harapku semakin besar. Lalu, saya masih ingat hari itu, tanggal 3 April 2011 pesan singkat yang dia kirim di nomorku. Ada lomba yang dia ikuti, dan masih kekurangan anggota. Dia bertanya, dan saya merasa sangat kaku. Mungkin grogi...Langkah demi langkah kucoba hingga saya yakin bisa mendapatkan apa yang ada dalam harapanku. Dan saya bisa.!

Sekarang dan tahun kemarin, bulan ini adalah bulan yang penuh perjuangan. Bulan Ramdhan 1433 H, kita berjuang meraih kemenangan. 67 tahun yang lalu, para pahlawan berjuang mati-matian merebut kemerdekaan Bangsa Indonesia, dan setahun kemarin saya berjuang meyakinkan rasa yang memang mesti diperjuangkan hingga mati.

“Hidup Atau Mati, Niscaya dialah perempuan itu!”

Pada tanggal 28 Agustus 2011, perjuangan menjadi lebih keras dan lebih menantang. Perasaan kami bertemu, dari titik titik rindu yang memang berada dalam satu kordinat yang sama. Sekarang, saya berjuang menjadikannya, pendamping hidup dunia akhirat. saya yakin, yakin, yakin, yakin Bisa!!!

Empat tahun lagi, saya ingin merdeka, bersamanya. #optimism #BigHope

Perbedaan 724 hari ( 1 tahun 11 bulan 29 hari ) bukanlah menjadi halangan jika itu diperjuangkan. Kita tak pernah takdir akan seperti apa, namun kesungguhan bisa memberikan jawaban akan harapan yang kuat.

Perempuan itu adalah perempuan yang awalnya bertanya,

“Tulisan itu untuk siapa?”

Lalu kujawab“Untuk dijadikan novel!”

Maaf jika saya berbohong waktu itu. Itulah strategi berperang, ^^


Kuharap teman-teman yang membaca curhat saya malam ini, dapat berani serta tulus memberikan doa sebagai kekuatan. Mumpung bulan Ramadhan, Terima Kasih sekali lagi.

Amiin Yaa Rabb



4 komentar:

  1. yaaaa bro!
    hajar terus waktu yang menerjang ini..!

    komitmen jangan lupa.. :)

    BalasHapus
  2. Amiiiin..semangat Wan, smg apa yg diharap terkabulkan.
    salam utk Tismi Dipalaya (nm yg cantik)
    ;-)

    BalasHapus
  3. No comment saya, mampir sobat berkunjung untuk memberi dukungan.

    BalasHapus