Minggu, Juli 29

penyakit

harapanku satu-satunya malam ini, adalah kau masih memanggilku esok hari. tak mengapa jika esok kau tak memanggilku, kuharap lusa kau memanggilku. suaraku untuk memanggilmu sepertinya hilang, aku tak berani lagi. sedari tadi aku memanggilmu, namun sedikit pun kau tak mendengarnya.

jemariku ingin menyentuh pundakmu, tapi malam ini tak sampai. aku benar-benar mengecil, tak tahu kapan akan kembali. tak ada obatnya, ini sakit yang langkah yang baru malam ini kutemui, namun aku menyukainya, karena seperti inilah sakitku sebenarnya.

pulsaku habis sejak tiga puluh lima menit yang lalu. aku tak bisa mengirimkan pesan apalagi menelfon. kalau pun ada, aku masih malu karena malam ini aku telah seperti ini. tak lagi punya apa-apa, aku sakit dan aku menyukai sakit ini.

mungkin sejak kemarin kau sadar dengan siapa aku. namun masih dapat tertahan. malam ini pun sama. aku yang tidak pernah ingin sembuh. maka kau bisa untuk bergegas. merapikan semua harapanmu yang kau simpan.

semua yang berbau harapan. tak lagi seharum kemarin mungkin. aku terima jika kau seperti itu. karena memang aku seperti itu.

malam ini aku takut.

tak ada yang bisa kuceritakan. apalagi memberi harapan. aku tak pernah sederhana untuk harapan. kecuali malam ini.

tapi apapun itu, jikalau masih berbau harapan. kau boleh anggap angin lalu.

aku tak pernah dapat nilai A untuk mata pelajaran mengabulkan harapan. selalu error. itu penyakitku.

tapi kau selalu menunggu nilai A, bagaimana kalau kau menunggu nilai C atau C/D saja? atau kau ingin...

tak tahu apa lagi. takut kau akan sakit jika hanya menunggu, maka malam ini aku membiarkan nafasku menemui tanah yang kemarin masih dipijak.

mungkin esok pagi, nafasku akan lebih cepat berhembus. tapi bukan aku yang menghembuskannya.

mungkin pesan yang kutitip, akan sampai beberapa tahun lagi. karena aku tak sempat kirimkan isyarat pada pengirimnya. untuk memberikannya kepadamu malam ini.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar