Sabtu, Juni 23

Setahun Kemarin

Kamarku berantakan, mungkin karena aku yang malas memindahkan buku yang belum selesai aku baca.

buku-buku dan kertas laporan berserakan dan sepertinya aku mulai terbiasa. Suasana ini, membuatku lebih mudah bergerak bebas untuk mengambil atau mencatat bahan yang saya butuhkan.

Jendela kamar tertutup tirai menjadikan warna kamar agak gelap, sengaja aku menutupnya.

Dan aku tertidur..., hingga ada seberkas cahaya yang mendekati wajahku.

#Aku terbangun dan mulai menyalakan laptopku, ada banyak tugas yang hendak di sapa. Namun, sepertinya aku prokstinasi.

Aku lebih memilih menjenguk catatan-catatan yang pernah kubuat di dunia maya, entah di blog, status/catatan fb, twitter, dan email. Hingga aku berhenti pada tulisan Malam Singkat Untukku, kubaca kembali dan mencoba menarik masa silam datang di depanku.

Yaaa.., aku ingat alasan tulisan ini hadir pada malam itu.

Tak lain hanya ingin menemaniku, mencoba meramaikan nuansa sepi yang mengguncang.

Setahun berlalu setelah aku menuliskan catatan itu,

dan ada perubahan yang membuat semuanya terasa berbeda, jauh sangat berbeda dari setahun kemarin.

Dulu aku hendak menjenguk jendela hati yang tertutup rapat, namun itu setahun kemarin.

Kupikir jendela itu tertutup rapat untukku, maka kupikir ini mesti dibatalkan.

hingga malam-malam berikutnya mulai ada celah dan angin berhembus mengabarkan suka dan duka.

Aku tersenyum, tapi bukan berarti aku gembira.

Setahun kemarin, aku masih menunggu jendela itu terbuka dan membiarkan pandanganku memanah arahnya.

ada kegamangan yang merdeka setahun kemarin, kau tidak pernah mengenal kepastian dalam perjalanan itu. Bahkan kau ragu dengan kisahmu sendiri, yang masih menutup-nutupi kesedihan. Kemudian aku ragu menemukan celah itu, berpikir bahwa semua itu hanya sebatas dongeng, sama seperti dongeng yang ibuku ceritakan saat aku berusia 6 tahun.

Penantian tidak selamanya dihadiahkan bahagia, kerinduaan tidak selamanya terobati dengan damai.

Atau tangis tak selamanya dikalahkan oleh tawa, entah apa yang bisa membuatku yakin kala itu.., padahal aku mengerti waktu itu, kau masih menunggu orang lain, dan aku menunggumu.

Lintasan kita tak akan pernah bertemu, kita mungkin berlawanan, atau memang berbeda arah. Jauuh..

Setahun kemarin, aku menanti dan sedikit berdosa pada kata yang menjadi doa ragu atau aku memang lemah? Entahlah...

tak terbayangkan hari ini ketika aku kembali menjamah setahun kemarin, kupikir aku hanya menjadi figuran dalam cerita yang mulai kau tata ulang. Dalam setiap kalimat seakan ada kepasrahan yang bergerak bebas memberontak masuk ke nurani. Mungkin itulah yang membuatku masih ada di malam-malam kemarin.

Mencoba menerima, bahwa kata yang kau rindukan tak sepadan dengan kata yang kunanti. Nama yang kau rindu, menjadi angin yang membiarkanku untuk bersabar pada hati. Bersabar pada kata yang tentu setia menerima pikiran dan perasaanku.

setahun kemarin sangat beraat,

menuliskannya saja sempat membuatku sesak, jika saja setahun kemarin aku membantumu bertemu dengan nama yang kau rindukan. Entah apa yang terjadi dengan namaku, hanya sebatas orang biasa yang suka basa-basi dan tak pernah memberi kejelasan. Mungkin...

hadirku setahun kemarin mungkin sedikit berbeda, aku hadir dengan langkah yang lamban, mencoba sangat lamban, sebab aku hanya ingin mengintai langkahmu tanpa berniat esok aku akan melewati langkahmu, atau bahkan langkah kita akan berdampingan.

Tanganku, menggengam kerinduaan di tanganmu, lalu senyummu membiarkan senyumku membuang kehampaan setahun kemarin. Sepertinya, langkah kita telah beriringan... :D

Setahun kedepan, mungkin akan lebih berat...

aku tak tahu bagaimana harus menjadikannya lebih baik, itu pikirku setahun yang lalu.

Hingga, aku benar-benar yakin bahwa kau telah menangkap pandanganku. Merasa apa yang setahun kemarin aku pendam dengan rapi,

cukup tahun kemarin,
melelahkan secara psikis...

aku memilih tahun depan, dua tahun kedepan, tiga tahun kedepan, empat tahun kedepan,

Yaaa., empat tahun kedepan izinkan langkahku sedikit lebih cepat dari langkahmu. Aku ingin melangkah di depanmu, lalu berhenti dan berbalik ke arahmu.

Lalu mengucapkan kata yang hari ini kususun rapi, tapi bisa saja akan berantak karena gugup.

Malam ini akan kulalui tanpa merasa sangat singkat,

kau selalu hadir di malamku, berbeda dengan setahun kemarin.

Di tahun-tahun berikutnya, kau akan benar-benar ada dalam malamku.

#kau tak perlu setia padaku, tapi setialah pada janji yang kau berikan pada janjiku.

Terima Kasih telah mengerti dan memahami semuanya,

Rabu, Juni 13

Ini A(Ku)

Kuatas namakan cinta untuk memperjelas bahagia yang telah kau bagi.

Kuatas namakan bahagia untuk memperjelas keberadaanmu.

Semua telah tertata rapi dengan lembaran yang akan kutuliskan di masa depan. Masa silam cukup mengajarkanku untuk bertahan dan lepas, atau hilang dan mati.

Dalam masalah ini, aku tidak pernah melupakan janji untuk diriku sendiri.

Membuat kau bahagia dan mampu merasa jauh lebih baik, itu saja tak lebih.

Aku pun mengizinkanmu berpaling,
disaat pijakan rapuh dan tak dapat diandalkan lagi
masa dimana aku akan menyalahkan diriku sendiri
tanpa harus kau yang merasa bersalah
inilah a(Ku) yang tenggelam
dalam
perih
namun tersenyum bak bahagia hingga aku mati

disaat pijakan rapuh tiba,
aku tak serta merta melahirkan ucapan untuk kau pergi
hanya melihat dan membiarkan
lalu meretas kesedihan
dan mengundang
masa lalu untuk menghantam dunia

inilah kerapuhan teramat dipenuhi oleh rasa sesal
kala kau tak dapat kuraih dengan cinta

ini kesalahan yang tak pernah akan kumaafkan

kuizinkan kau pergi
untuk mencari bahagia
kala kau dirundung ketakutan berselimut keraguan
akan kepastian yang akan kuberikan

maafkan
aku akan menjenguk rindu di bangku tua
tempat aku pesimis dulu,

dan aku memilihmu dengan cinta,
untuk kujadikan jalan terkahir
atas nama cinta
kunikmati perih
kunikmati tangis
kunikmati senyum
dan semua yang cinta berikan
kepada a(ku)

#maaf...

Pagi Sendu

Ini tentang waktu yang mengekang lalu berniat menghujat, proses yang sulit nan menakutkan untuk langkah yang sepertinya rapuh tidak sama sekali. Sebenar apa janji yang di berikan, dan mungkin kau akan mulai berkata ragu bahkan satu langkah mundur atau lebih. Ini semua adalah kesalahan yang tidak pernah ingin kulakukan, namun terjadi karena kesalahanku dalam memahami.

Aku berlari meninggalkan ruang masa lalu yang hanya berakhir dengan perih, aku mengejar tanpa harus kau tunggu.

Aku bertaruh bukan berarti kau taruhan, tapi untuk diriku sendiri yang kadang lemah. Namun hari ini atau kemarin, dengan ketakutan yang sering kubagikan dalam hari-harimu, mungkin kau akan berniat untuk ragu bahkan menghilangkan semuanya.

Maaf...

Kedamian yang kujanjikan hanyalah sebatas fatamorgana pagi ini, kala aku atau kau kehilangan langkah untuk saling memahami. Ketika terjadi kondisi ini, kusalahkan diriku sendiri yang sebenarnya harus menerima risiko seperti ini. Kala hati tak mampu menahan cemburu, kala langkah terlambat sehasta, lalu aku gagal menggapainya, dan kau pergi.

Maaf... dan terima kasih...

Selagi Tuhan masih mengizinkanku untuk bersamamu, aku berusaha untuk berbenah dan melangkah lebih baik. Kadang kala aku ragu bahwa esok kau akan jauh meninggalkan masaku, dan aku jauh tertinggal. Hingga jarak benar-benar menjadi nyata, tapi semua itu bagiku adalah ketakutan sementara.

Keyakinanku ingin kulebihkan dibanding ketakutanku.

Hari ini atau esok, ketika kau kubagaikan ketidakpastiaan. Kusadar percayamu akan luntur, semoga kau masih menganggap ini proses, tapi ketika kau hilangkan itu, aku tetap jalan pada jalan yang telah kutargetkan.

Sebelum kau mendengar maaf, dan semua yang berkaitan dengan kesalahanku. Selebihnya, kau harus pahami bahwa terkadang cintaku membiarkanmu untuk bebas dan terkadang pula rinduku selalu ingin kau terjaga. Kontras memang,

semua yang kontras akan membuatmu ragu denganku, tapi tidakkah kau ingin jadikan semuanya terlihat lebih baik dengan kau pun yakin dengan proses yang saat ini terdengar sendu.

#Badai pasti berlalu, jika aku yang terkena badai, aku tetap bertahan untukmu. Tapi ketika aku bertanya, kalau kau diposisiku, mungkin jawaban akan berbeda. Tidak heran jika hari ini jawabanmu berbeda, semua itu karena saya.


Senin, Juni 11

Harapan

Kau bisa memberiku harapan, disaat cinta tidak pernah memberiku kepastian.

Perasaan bukanlah hal yang mudah untuk kita pahami. Tapi perasaan bisa menjadikan kita untuk paham lebih jelas akan sesuatu hal yang lebih besar dan berarti.

Persaingan antara pikiran dan perasaan yang terjadi dalam dimensiku senantiasa berlomba dalam jalur yang sama. Hingga aku terkadang khawatir dengan kekhawatiranku sendiri, yang sesekali melampaui batas.

Maafkan, ketika kenyataan itu masih kau rasakan, bukan berarti bahwa aku tak mempercayai apa yang telah kau berikan selama ini.

Tapi, sejatinya aku masih mencari nafas yang hilang dalam batinku.

Sebuah kesyukuran ketika Tuhan menghadiahkan hadirmu untuk mengisi hari yang mungkin akan terlewatkan berat tanpamu. Bisa saja kaulah nafas yang kemarin hilang dalam waktu yang menyudutkan akalku. Disaat pertentangan perasaan dan pikiranku masih beradu di masa lampau.

Kini aku bertahan, meski awal kau memanggil aku "bocah" keraguanku bukan main hebatnya.

Hanya keputus asaan yang mewarnai tahun kemarin, panggilan itu hadir dengan penuh keresahan. Sebatas memainkan rasa yang pikirku tak mungkin akan terwujud, tak mungkin akan terungkap. Melihat dari semua yang kau lalui, di masa lalu, di tahun kemarin dengan kisah yang tengah kau jalani DengANnyD.

Aku menghindar, menutupi, lalu memodifikasi segala perilaku agar resah itu kemudian tak berujung dengan perih. Sebab dari awal, kusadari aku akan terperangkap pada labirin-labirin cinta yang saat itu menyesakkan.

Namun kini, kau bisa memberiku harapan, disaat kuyakin dengan cintaku sendiri, bahwa aku akan memberimu kepastian.

Harapanku, kaulah perempuan terakhir dalam perjalanku yang menjadikanku lelaki terakhir pula dalam perjalanmu.

#Harapan adalah sebuah kewajiban, dia bukan suatu kemewahan. Harapan bukan sebuah impian, tapi harapan adalah kekuatan untuk mengubah impian menjadi sebuah kenyataan.
(Dr. Henry Viscardi)