Selasa, April 17

Persinggahan Hati

Secerah dan seindah sinar matahari yang tiap pagi menetapkan berkas cahayanya pada cinta yang terjaga, memberi kehangatan pada rindu yang kian mengusik. Singkatnya, aku bisa lebih dari apa yang cinta inginkan pada cinta yang terjaga. Bak matahari yang tak pernah berhenti berbagi, hidupku akan menjadi ruang untuk mereka yang siap untuk bermain dengan kesederhanaan.

Hidup bukanlah tumpukan masalah yang menjadikan kita lemah, dan berhenti melangkah pada lintasan nasib. Kita punya kendali untuk menjadi bahagia, kita punya sikap untuk berani menjawab keraguan, dan kita punya harapan besar untuk melakukan semua itu, harapan itu bebas tak terpenjara. Kutemukan harapan itu pada senyummu yang kian hari semakin meyakinkan aku untuk berani menghapus ketakutanku sendiri.

Jikalau malam menyediakan kegelapan, maka hadirmu menyediakan energi positif pada setiap hariku. Persinggahan hati menjadi cerita-cerita yang terangkun dan tertata rapi dalam memori yang mendamba cinta sebenarnya. Dan aku berani mengatakan persinggahan hati terakhir itu adalah ruang yang selama ini kau janjikan dan selalu akan kau jaga, cintamu adalah persinggahan terakhir untukku, kuharap kau pun demikian.

Persinggahan hati sebelumnya hanyalah dongeng untuk manusia aneh sepertiku, hidupku hanya untuk mereka yang telah memberiku kekuatan. Kemarin aku punya beberapa cerita tentang perempuan, persinggahan hati, setia, bohong, cemburu, perih, sakit, bahagia, kesetiaan, dan masih banyak lagi. Cerita kemarin sempat membuatku muak dengan alur kisah yang sama saja dan sepertinya terulang, dari bahagia hingga akhirnya kekecewaan. Siklus ceritaku seakan seperti itu, alam mendesainnya dengan warna pedih, nafasku sesak jika harus menjalani pola yang seperti itu lagi.

Disaat bersama dirimu, aku bisa mendapatkan ruang serta dimensi yang berbeda dari sebelumnya. Kau mengerti dan bisa menerima aku apa adanya, sederhananya seperti itu. Kadang aku merasa sangat beruntung bisa bersamamu, dan disatu sisi kadang aku berpikir, apakah kau bukan perempuan yang begitu merugi, harus mendapatkan cerita bersama manusia seperti aku.

Kujalani semuanya, dengan selalu percaya pada harapan. Esok bukanlah mimpi lagi, semua wajib menjadi kenyataan, termasuk memilikimu seutuhnya. Memberimu bahagia, dan menepati janji yang kian menguatkan aku. Kini, aku mencoba senantiasa berani melawan keraguan serta kehampaan hari yang kadang mendesak batin untuk terluka dengan rapi.

Sejujurnya, kau menjadi dimensi yang kian sempurna dari hari ke hari. Hanya saja, kadang ego dan pribadi anehku muncul dan membuatmu bersedih dan terluka, maafkan hari yang mewarnai kisah ini menjadi gelap. Mendung tak berarti hujan, jika hujan, maka aku akan menikmati hujan dan senatiasa menanti matahari menyapa hati yang rapuh.

Maafkan kesalahanku yang jelas berdosa seakan tak menghargai segala hal yang kau berikan padaku. Maafkan atas hidupku yang masih meragukan orang di luar sana. Aku tak punya apa-apa yang bisa menegaskan bahwa aku akan membuatmu bahagia selalu, bagiku kau pemberani dengan berharap pada manusia sepertiku. Namun karena itulah, aku akan menjadi lebih dan bisa mengubah hariku menjadi jauh lebih cerah. Kau telah menguatkan aku untuk memilih langkah yang berani.

“Kupastikan kau cinta, yang menjadi persinggahan terkahir untuk hatiku”

Esok bisa menjadi bahagia dan jelas bisa menjadi sedih. Bahagia itu kewajiban, aku berani, tapi aku bukanlah pengendali hari esok. Namun saat ini, ketika aku menuliskan ungkapan perasaanku, aku berani mengatakan,

“Jika esok kau pergi, entah kau meninggal dunia lebih awal, atau malah menemukan hati yang lebih indah, maka akan kunikmati kesendirianku dengan rindu yang senatiasa menjaga cinta tulus itu”

Makassar, 17 April 2012

23.53

Tidak ada komentar:

Posting Komentar