Senin, April 23

Inilah Dimensi

Pukul 2.00 WITA kutuliskan pesan ini dalam keadaan gundah yang mungkin tengah membuncah. Hingga mataku enggan terpejam, pikiran dan perasaanku mungkin tengah bergeser pada dimensi yang berbeda.

Sebelumnya, aku telah menuliskan beberapa halaman namun saat ingin mempostingnya tiba-tiba terhenti oleh jaringan. Mungkin terlalu banyak rahasia yang terungkap, ketika kau belum harusnya mengetahui apa yang saya pahami. Berkali-kali ingin mencoba memposting tulisan yang kata demi kata kurangkai dengan perasaan haru, namun tak bisa.

Sepertinya, alam tak mengizinkan aku menuliskan semuanya bebas dan mampu kau baca dengan mudah. Ada banyak hal yang kutuliskan, seakan ada seseorang yang berbisik hingga aku mengalirkan kata dengan sangat deras. Kesalahanku dalam menulisnya adalah, karena aku tidak menuliskannya di word, langsung di blog, anehnya tak tersimpan di draft ketika gagal terposting. Maka kusimpulkan, sepertinya postingan itu harus kubiarkan saja menghilang dengan sendirinya.

Dalam tulisan itu, aku mengakui bahwa aku egois. Kadang tak ingin membiarkanmu sebebas apa yang kau inginkan. Tapi bukan berarti aku tak menerimamu apa adanya. Terkadang aku serasa jauh, dan kau kian pergi dengan mudahnya,

Aku akui, aku penuh dengan berbagai kekurangan yang mungkin kadang memberatkanmu, semoga kaulah perempuan dalam doaku semenjak SD kelas 6.

#istriku nanti orang sabar, bisa mengerti saya meskipun saya banyak bicara.

Kurang lebih seperti itu ketika aku memanjatkan doa pada Tuhan, kala mereka menganggap takkan ada seseorang yang akan tahan bersamamu. Aku terlalu egois, dan sangat membosankan.

Namun, bersama dirimu aku punya banyak alasan penguat. Bahwa Tuhan telah menjawab doaku,

Aku bahkan berani untuk berjanji pada diriku sendiri, sekaligus ini jebakan pribadi dari saya untuk batin dan ragaku. Kau mengertikan janji yang terdengar extreme itu.

Dulu, aku sempat berpikir untuk mengajakmu untuk mengatakan hal yang sama denganku. Namun, kau terlalu indah, dan saya kurang yakin kau sanggup. Dan jika aku memintamu seperti itu, seakan saya terlalu banyak aturan, dan kaku.

Banyak yang ingin kutuliskan, namun terhalang.

#Aku hanya ingin kau mengingat cerita yang kemarin sering kuungkapkan,

Jika aku bisa membaca dan melihat masa depan, kemudian melihat kau memilih jalan bersama orang lain, dan berhasil melupakanku. Aku akan tetap berjuang, berusaha untuk mengubah masa depan. Dan kuharap kau membatu, ada banyak alasan yang kadang membuatku terlalu posesif.

Malam ini, aku gundah. Terlebih kau sepertinya yang akan pergi, memasuki masa yang menuntutmu untuk lebih tegas terhadap pilihanmu. Proposalmu siap untuk diajukan, selamat bertarung, dan aku siap menemani. Aku tidak ingin mengantarmu menemui cinta lain, tapi...

Kau tau siapa aku?

Aku siap pergi jauh, ketika berhasil menemukan sosok yang lebih siap dibandingkan aku, dan kau merespon dengan baik. (terulang 1000 kali)

Memperjuangkanmu itu selalu, namun ketika kau tak menyadari bahwa aku tengah berjuang maka arti perjuanganku berubah menjadi, “membiarkanmu bahagia bersama dengan orang lain dan menepati janjiku sendiri, ajarkan kesetiaan”.

Aku rapuh, apa kau tak sadar dengan pribadimu?

Kau mudah memberikan ruang yang bersahabat, ketika kau sedikit saja lengah dan lupa bahwa aku ada, maka arti usahaku akan melebur.

Malam ini aku meminta maaf, jikalau terlalu banyak inginku. Dan tak ada sesuatu hal berharga yang bisa kuberikan, kuhadiakan,

Terakhir, sadari sisi gelapku, sebelum kau meninggalkan aku dalam gelap. Aku takkan punya resiliensi lagi, dalam hal cinta. Harapanku ada pada sepi, jikalau kau siap mengabaikan semuanya. Dan itu pun cukup,


Paling Terakhir, Jika aku bisa membaca dan melihat masa depan, kemudian melihat kau memilih jalan bersama orang lain, dan berhasil melupakanku. Aku akan tetap berjuang, berusaha untuk mengubah masa depan. Dan kuharap kau membatu, ada banyak alasan untuk kita selalu bersama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar