Jumat, Maret 23

Waktu yang merindu

Semua akan berhenti pada detik yang telah ditentukan. Aku belum kehilangan detik, saat kepercayaanku masih ada. Waktuku belum kugunakan seperti apa yang kupinta padaNya. Doaku selalu menjadi kebahagian.

Maaf jika TUBUH ini kian merapuh bahkan mulai hancur, kuharap esok kau akan tetap megerti akan hadirku. Setiap kali kau memberi komentar, aku tersenyum.
Kumohon berhentilah, semakin kau berkomentar itu semua akan menjadi lebih parah. Inilah hal yang tak akan pernah kau pahami.

Ini teguran tertulis yang harusnya kau pahami. Dan jangan pernah tanyakan satu tulisan ini. Kecuali, kau menginginkan semuanya buyar di istana malam pukul 2.14 WITA. Semakin membingunkan mungkin,

Dan, semoga esok selalu ada mentari, yang siap menghangatkan hadirmu, ketika hadirku tak hangat lagi bahkan beku dan dingin, kaku, dan tampak tak berwarna seperti kemarin.
Bersandarlah pada bahu yang mulai surut, tataplah mata yang kian sayu dan sebentar lagi terpenjam lelap. Sedikit demi sedikit akan menghilang dengan cahaya yang berbeda. Isyaratku tak akan pernah berarti apa-apa. Hingga waktu memegang kemudi mengintai rasa yang akan haru. Di tulisan ini, dengan segala tanya yang kan membuncah biarkan mereka keluar, namun jangan biarkan bibirmu menghantam tanya pada hariku.

Jelas tubuhku mulai merapu, bisa saja ingin kembali ke asalnya. Nafasku berlari dengan nada yang tak berirama harmoni lagi. Terima kasih telah berada di sampingku. Selalu...., kuharap kau bisa hingga waktu......

Aku lemah, benar apa yang mereka katakan sejak aku terlahir di bumi ini. Aku berbeda dengan harapan yang mereka inginkn. Disana, aku melihat ruang tengah menanti untuk membiarkanku lebih bebas dengan kondisi yang semu. Entah ruang apa itu.

*apakah kau sadari, syarat demi syarat yang kutitip?

Keinginan demi keingainanlah yang selalu menguatkan aku. Dan membiarkan ruhku berdamai dengan tubuh rapuh ini. Jika tidak, ruh itu akan mendobrak dada, lalu melompat ke atas dan pergi meninggalkn semuanya.

It’s the power of hope.

Kini kusadari, di masa yang kian mendekat. Kehadiranmu menambah harapan besar, tetaplah yakin. Jika keraguanmu kembali tiba, jangan sungkan-sungkan untuk berkata secara nyata. Jangan sebatas pikiran.

Ini tentang nafas yang mendamba kebebesan di alam lain. Bimbang dan kau wajib tersenyum, tanpa harus menghapus harapanku. Kendali, dan kau punya kendali. Bisa saja kau menguatkan, bahkan melemahkan. Beri aku sedikit waktu, kuharap kau tetap setia menemaniku. Maaf jika kebodohanku sering membuatmu risau, namun sejatinya kaulah yang mampu mengubah segalanya. Aku bisa lebih kuat, dan bertahan pada kondisi yang seharunya aku pergi menuju ruang yang berbeda.

Dimana senyum lebih bercahaya, dimana udara lebih sejuk nan menenangkan. Aku selalu rindu akan hari dimana kau benar-benar menguatkan keyakinanmu, dimana kita telah menyatukan cerita dengan kuat. Tidak selamanya rindu akan terjawab, namun semoga rindu ini akan terjawab. Amiin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar