Rabu, Maret 21

LIHAT, RASAKAN, DAN RESAPI

Berbahagialah waktu yang menghimpun rasa di suatu dimensi.

Persinggahan hati tertuntun di alam imajinasiku kemarin, sebelum kata tak lagi bertutur meraih kalimat. Hanya kegundahan kala itu yang menusuk jemari, sembari membekukan dunia yang belum kusenyumi. Di balik warna pelangi, masih ada nyanyian hujan menyudutkan sepiku. Aku masih nyaman dengan segalanya, terlebih karena aku hanyalah seorang biasa. Dunia mengenalku dengan sederhana, inginku.

Menjadikan segalanya bersahabat, membingkai rasa demi rasa yang pernah menyiasatkan perih pada kesalahan, membuatku semakin bersahabat untuk mengenal duniaku.

Ini duniaku, tak seorang pun kupercaya untuk mengenalnya.

Ini imaji yang kumainkan dengan kebebasan yang liar, tak seorang pun memegang kendali itu kecuali mereka ingin terbungkam.

Waktu masih berbahagia, dan selalu berbahagia

Kehidupan menuju persinggahan abadi bukan tidak mungkin hanya menjadi rekayasa. Kalau aku mengenalnya, dan kau memahaminya, SEBENARNYA *kemarin aku terlalu damai dalam imajiku sendiri. Hingga aku mengakuinya, aku sebenarnya imaji.

Kupikir, kau dan segala hal yang berani menumbuhkan harapan, tidak akan pernah ada.

Kemarin, waktu menjadi puzzle yang menjadikankan fokusku memecahkan mainanku sendiri. Aku lebih memilih bermain dengan puzzleku sendiri, tanpa menginginkan seorang pun menggangu. Sendiri, menjadikanku lebih memaknai kehidupan.

Kadang waktu punya detik yang bisa merubah dimensimu, dan kadang kau akan terhipnosis dengan pererubahan yang kau alami.

Meresapi segalanya, hingga menunda kau untuk bisa lebih baik dengan harapan sebelumnya. Awalnya, aku hanya ingin menemuimu di sebuah kebahagian yang sebelumnya kau cerita dengan penuh luapan emosi. Kutangkapnya, kau telah menitipkan harapan besar padanya. Inilah imaji yang sempat menguasai ruangku, aku hanyalah sandaran sederhana yang bisa menguatkanmu, yang bisa membuatmu menarik nafas dengan nyaman. Sebelum kau menguji dan kembali berjalan bersama duniamu.

Cukup itu saja, dan aku bahagia.

Meski, sebuah dimensi memecahkan seluruh warna dalam imajiku. Disaat kau tengah bercerita tentangnya, disaat kau menceritakan segalah hal tentangnya. Hening memetik dawai dengan nada-nada yang lukiskan not-not putih.

Inginku, kau menemaniku

***

Hari esok benar menjadi ???

?

Kau bertanya, dan selalu bertanya pada segala hal yang bisa menjadikanmu percaya pada waktu. Disaat-saat seperti itu, aku menahan rasa yang masih kupikirkan tentang kisah yang kemarin kau lukiskan lewat pesan demi pesan.

Entah, senyum dan sapaan apa yang kau hadiahkan hingga aku berjalan mengutarakan apa yang sejatinya ingin kuungkapkan. Meski awalnya, kuyakin kau mengerti. Tapi, aku masih merajakan imajiku sebelum kau bersedia menemaniku dengan harap yang sebelumnya tak pernah ada.

Di waktu yang tak menyuarakan rindu, membenamkan ego, dan aku terlelap menuntun doa. Jika doa menuntunku, kuakan menemuimu, menemui keyakinan yang selalu kau bahasakan lewat hari yang menguatkanku. Kuingin dekati hati yang telah menjagaku, memberikan apa yang sepantasnya kuberikan. Keyakinan bukanlah hal yang biasa, namun sebuah kekuatan. Kelak, kau akan menantang keyakinan itu, tapi kuharap kau menang dengan yakinmu hari ini. Entah apa yang menjadikan segalanya kuat, kecuali kau pahami keyakinanmu.

Di doa, dan langkahku kuat bersama keyakinan. Memenangkan imajiku, opss,….,,, kini aku tak lagi dalam imaji. Seperti apa yang kau ungkapkan di komentar yang kurindu sejak aku memulai menuangkan rahasia yang berbuah bahagia. Aku bahagia, saat komentar itu hadir, terima kasih.

Hingga kini, kau menutup imajiku, mengantarkan jiwaku berdiri di ruang yang jauh lebih indah. Temani aku, kuharap aku tak lagi kembali di masa lalu.

Doakuu, dan kuharap menjadi doamu, ada pada password dokumen ini.

:D

Waktu jelas berbahagia,

1 komentar: