Rabu, Maret 28

28 Maret

#aku menyapamu setahun kemarin lewat lukisan malammu, dan kau mengenalku dengan sederhana.

Ditengah lelapnya tidurku, setelah seharian bermain-main dengan mimpi serta usaha. Tiba-tiba kuterbangun dan kembali memulai kebiasan seperti ini, menikmati malam sambil mendengar suara alam yang kiam mesra. Kuhanya ingin menulis tentangmu, sebelum waktu berpindah.

Dalam tulisan ini, kuucapkan terima kasih atas segala hal selama ini. Tak terasa waktu bisa tiba pada detik ini, pada tanggal yang menjadi kramat untukku.

Kini aku menuntun arahku menuju batas waktu yang telah mendewasakan, dan segala hal tentangmu.

Disini, aku juga mengingatkan bahwa kau punya janji, dan aku punya janji besar untukmu. Maaf kiranya jika kemarin ada banyak hal yang membuat emosi negatifmu membuncah, mengalahkan rindumu kala hujan turun.

Kisah ini indah, namun kita punya visi untuk selalu berbagi. Ada banyak hal yang ada dalam benakku. Ada banyak hal yang wajib kita pelajari bersama. Ada banyak hal yang belum kutulis.

#menulislah juga!

“aku ingin hidup lebih dari hidup yang diinginkan Chairil Anwar”

Ajari aku untuk hidup selamanya dalam dimensi yang pernah kujelaskan padamu. Pahamilah.

(Seindah Biasa, St.Nurhalizah)
“Takkan mungkin kita bertahan, hidup dalam kesendirian. Panas terik hujan badai kita lalui bersama”

Bersama kita Bisa!

Terima Kasih.!

Jumat, Maret 23

Waktu yang merindu

Semua akan berhenti pada detik yang telah ditentukan. Aku belum kehilangan detik, saat kepercayaanku masih ada. Waktuku belum kugunakan seperti apa yang kupinta padaNya. Doaku selalu menjadi kebahagian.

Maaf jika TUBUH ini kian merapuh bahkan mulai hancur, kuharap esok kau akan tetap megerti akan hadirku. Setiap kali kau memberi komentar, aku tersenyum.
Kumohon berhentilah, semakin kau berkomentar itu semua akan menjadi lebih parah. Inilah hal yang tak akan pernah kau pahami.

Ini teguran tertulis yang harusnya kau pahami. Dan jangan pernah tanyakan satu tulisan ini. Kecuali, kau menginginkan semuanya buyar di istana malam pukul 2.14 WITA. Semakin membingunkan mungkin,

Dan, semoga esok selalu ada mentari, yang siap menghangatkan hadirmu, ketika hadirku tak hangat lagi bahkan beku dan dingin, kaku, dan tampak tak berwarna seperti kemarin.
Bersandarlah pada bahu yang mulai surut, tataplah mata yang kian sayu dan sebentar lagi terpenjam lelap. Sedikit demi sedikit akan menghilang dengan cahaya yang berbeda. Isyaratku tak akan pernah berarti apa-apa. Hingga waktu memegang kemudi mengintai rasa yang akan haru. Di tulisan ini, dengan segala tanya yang kan membuncah biarkan mereka keluar, namun jangan biarkan bibirmu menghantam tanya pada hariku.

Jelas tubuhku mulai merapu, bisa saja ingin kembali ke asalnya. Nafasku berlari dengan nada yang tak berirama harmoni lagi. Terima kasih telah berada di sampingku. Selalu...., kuharap kau bisa hingga waktu......

Aku lemah, benar apa yang mereka katakan sejak aku terlahir di bumi ini. Aku berbeda dengan harapan yang mereka inginkn. Disana, aku melihat ruang tengah menanti untuk membiarkanku lebih bebas dengan kondisi yang semu. Entah ruang apa itu.

*apakah kau sadari, syarat demi syarat yang kutitip?

Keinginan demi keingainanlah yang selalu menguatkan aku. Dan membiarkan ruhku berdamai dengan tubuh rapuh ini. Jika tidak, ruh itu akan mendobrak dada, lalu melompat ke atas dan pergi meninggalkn semuanya.

It’s the power of hope.

Kini kusadari, di masa yang kian mendekat. Kehadiranmu menambah harapan besar, tetaplah yakin. Jika keraguanmu kembali tiba, jangan sungkan-sungkan untuk berkata secara nyata. Jangan sebatas pikiran.

Ini tentang nafas yang mendamba kebebesan di alam lain. Bimbang dan kau wajib tersenyum, tanpa harus menghapus harapanku. Kendali, dan kau punya kendali. Bisa saja kau menguatkan, bahkan melemahkan. Beri aku sedikit waktu, kuharap kau tetap setia menemaniku. Maaf jika kebodohanku sering membuatmu risau, namun sejatinya kaulah yang mampu mengubah segalanya. Aku bisa lebih kuat, dan bertahan pada kondisi yang seharunya aku pergi menuju ruang yang berbeda.

Dimana senyum lebih bercahaya, dimana udara lebih sejuk nan menenangkan. Aku selalu rindu akan hari dimana kau benar-benar menguatkan keyakinanmu, dimana kita telah menyatukan cerita dengan kuat. Tidak selamanya rindu akan terjawab, namun semoga rindu ini akan terjawab. Amiin

Rabu, Maret 21

LIHAT, RASAKAN, DAN RESAPI

Berbahagialah waktu yang menghimpun rasa di suatu dimensi.

Persinggahan hati tertuntun di alam imajinasiku kemarin, sebelum kata tak lagi bertutur meraih kalimat. Hanya kegundahan kala itu yang menusuk jemari, sembari membekukan dunia yang belum kusenyumi. Di balik warna pelangi, masih ada nyanyian hujan menyudutkan sepiku. Aku masih nyaman dengan segalanya, terlebih karena aku hanyalah seorang biasa. Dunia mengenalku dengan sederhana, inginku.

Menjadikan segalanya bersahabat, membingkai rasa demi rasa yang pernah menyiasatkan perih pada kesalahan, membuatku semakin bersahabat untuk mengenal duniaku.

Ini duniaku, tak seorang pun kupercaya untuk mengenalnya.

Ini imaji yang kumainkan dengan kebebasan yang liar, tak seorang pun memegang kendali itu kecuali mereka ingin terbungkam.

Waktu masih berbahagia, dan selalu berbahagia

Kehidupan menuju persinggahan abadi bukan tidak mungkin hanya menjadi rekayasa. Kalau aku mengenalnya, dan kau memahaminya, SEBENARNYA *kemarin aku terlalu damai dalam imajiku sendiri. Hingga aku mengakuinya, aku sebenarnya imaji.

Kupikir, kau dan segala hal yang berani menumbuhkan harapan, tidak akan pernah ada.

Kemarin, waktu menjadi puzzle yang menjadikankan fokusku memecahkan mainanku sendiri. Aku lebih memilih bermain dengan puzzleku sendiri, tanpa menginginkan seorang pun menggangu. Sendiri, menjadikanku lebih memaknai kehidupan.

Kadang waktu punya detik yang bisa merubah dimensimu, dan kadang kau akan terhipnosis dengan pererubahan yang kau alami.

Meresapi segalanya, hingga menunda kau untuk bisa lebih baik dengan harapan sebelumnya. Awalnya, aku hanya ingin menemuimu di sebuah kebahagian yang sebelumnya kau cerita dengan penuh luapan emosi. Kutangkapnya, kau telah menitipkan harapan besar padanya. Inilah imaji yang sempat menguasai ruangku, aku hanyalah sandaran sederhana yang bisa menguatkanmu, yang bisa membuatmu menarik nafas dengan nyaman. Sebelum kau menguji dan kembali berjalan bersama duniamu.

Cukup itu saja, dan aku bahagia.

Meski, sebuah dimensi memecahkan seluruh warna dalam imajiku. Disaat kau tengah bercerita tentangnya, disaat kau menceritakan segalah hal tentangnya. Hening memetik dawai dengan nada-nada yang lukiskan not-not putih.

Inginku, kau menemaniku

***

Hari esok benar menjadi ???

?

Kau bertanya, dan selalu bertanya pada segala hal yang bisa menjadikanmu percaya pada waktu. Disaat-saat seperti itu, aku menahan rasa yang masih kupikirkan tentang kisah yang kemarin kau lukiskan lewat pesan demi pesan.

Entah, senyum dan sapaan apa yang kau hadiahkan hingga aku berjalan mengutarakan apa yang sejatinya ingin kuungkapkan. Meski awalnya, kuyakin kau mengerti. Tapi, aku masih merajakan imajiku sebelum kau bersedia menemaniku dengan harap yang sebelumnya tak pernah ada.

Di waktu yang tak menyuarakan rindu, membenamkan ego, dan aku terlelap menuntun doa. Jika doa menuntunku, kuakan menemuimu, menemui keyakinan yang selalu kau bahasakan lewat hari yang menguatkanku. Kuingin dekati hati yang telah menjagaku, memberikan apa yang sepantasnya kuberikan. Keyakinan bukanlah hal yang biasa, namun sebuah kekuatan. Kelak, kau akan menantang keyakinan itu, tapi kuharap kau menang dengan yakinmu hari ini. Entah apa yang menjadikan segalanya kuat, kecuali kau pahami keyakinanmu.

Di doa, dan langkahku kuat bersama keyakinan. Memenangkan imajiku, opss,….,,, kini aku tak lagi dalam imaji. Seperti apa yang kau ungkapkan di komentar yang kurindu sejak aku memulai menuangkan rahasia yang berbuah bahagia. Aku bahagia, saat komentar itu hadir, terima kasih.

Hingga kini, kau menutup imajiku, mengantarkan jiwaku berdiri di ruang yang jauh lebih indah. Temani aku, kuharap aku tak lagi kembali di masa lalu.

Doakuu, dan kuharap menjadi doamu, ada pada password dokumen ini.

:D

Waktu jelas berbahagia,