Minggu, Februari 26

Puisi Tertinggal dan Meninggal

Sebelum aku mati,
Kukembalikan rahasia di balik kata
kukenang makna dalam kalimat
dan kutuntun rinduku kembali pada muaranya
tanpa kau perlu menikahi rindu

seluruhnya bimbang di batas pengharapan
berbisik sesekali namun terdiam seabad sunyi
malam akan menghuni jiwa
di setiap riuh meneriakkan jejak
hingga kau tuli tak peduli

teriak berkali-kali dan kau menikam waktu
desir janji lapuk dalam dimensi keruh
tertinggal meninggalkan senyum di perpisahan
matilah seluruhya di sebait kalimat
penghuni rindu yang mendamba

terima,
lupakan,
kenang,
tangisi,
lalu berbahagialah,

saat kau temukan kembali inginmu
maafkan jejak putih yang terbalut kafan
kuburanku kelak rindu akan hadirmu
dimensi terlalu rumit untuk kau pahami
dengan sederhan ku ingin kau raih

bersabar,,,

aku bukan tidak bersabar,
kusuramkan lintasan kecil mengikat leherku
tak kala kau membalikkan semuanya
di depan makam tempatku bersandar bahagia merindumu
aku bersabar, mestinya kau bisa lebih bersabar

di jam terakhirku mengintai kesempatan
detik mengundangku mencium dan menggenggam lagi cinta
tapi kubisakan dan aku pergi
keringkan tanahku yang masih basah oleh tangismu, esok

kusuguhkan gembira di alamku,
kutenangkan jiwaku,
kututurkan kata yang mungkin
tak akan pernah kau sentuh lagi,

kau terindah, dan temukan terindah,
kala aku bersandar tertancap suka duka bersamamu
berteman sabit sambil bintang mengajakku
untuk tetap memaknai kalimat-kalimat terakhirku

kali itu,
aku telah tiada dan benar-benar pergi

kala itu,
aku tertidur, dan sangat nyaman

kala itu,
bersabarlah untuk bahagiaku di dimensi yang membahagianku

kala itu,
aku masih selalu ada,


Tidak ada komentar:

Posting Komentar