Sabtu, Februari 18

17 Februari 2011

Kali ini aku mencoba mengulas masa yang menjadi landasan awal hingga aku melangkah untuk semakin mengenal cin(T)a, dan segala hal yang memberikan warna dalam hidup ini. Baiklah, sengaja kuungkap sesederhana mungkin agar kau bisa memahami dengan mudah. Meskipun terkadang aku bilang sederhana, tapi kadang kata yang sulit untuk dipahami muncul tiba-tiba. Anggap saja itu mainan yang biasa kau temukan disini.

Ok, cerita dimulai....

Ketika aku mengikuti Pelatihan Metode Penelitian (PMP) Lembaga Penelitian Mahasiswa Penalaran Universitas Negeri Makassar, aku terlalu disibukkan dengan materi-materi penelitian. Tugas yang silih berganti berdatangan, dan jadwal yang begitu padat. Seperti itulah PMP sebagai salah satu proses seleksi LPM Penalaran.

Namun, semua itu kunikmati dengan caraku sendiri. Kesulitan apapun akan selalu kunikmati, sebab saya selalu percaya bahwa ketika kita melewati kesulitan itu, akan ada kemudahan yang akan datang. Kesedihan yang menghadang wajib untuk dilalui, sebab dibalik semua itu ada kebahagian yang menanti.

Mulai dari pagi, hingga malam jadwal pelatihan sudah terjadwal dengan sistematis. Kupikir, PMP 2011 ini ibarat sebuah karya tulis ilmiah yang sangat sistematis. Jika diikutkan lomba, kemungkinan akan dapat juara.

Baik, aku tidak akan menceritakan segala hal tentang PMP. Namun berawal dari PMP ini, aku akan mulai menceritakan segalanya tentang harapan untuk memiliki.

Menulis kata pertama untuk menceritakan hadirmu kadang membuatku kaku, harus dimulai darimana. Mungkin aku grogi, hahahahha. Engkau mempesona dan berhasil mengacaukan lintas kata yang hendak bertemu di dalam pikirku, yang hendak melompat nan berlari, otakku menyimpan ruang besar untuk hadirmu. Terlebih hatiku, entah bagaimana luas atau besarnya. (Bukan gombal, tapi bisa disinyalir sebagai gombal yang berusaha jujur)

17 Februari, kenapa bukan 14 Februari? Andaikan 14 Februari, bisa saja aku nekat untuk memberimu hadiah dengan alasan menyambut hari kasih sayang.

Meskipun aku bukanlah golongan yang mendewakan tanggal itu sebagai hari kasih sayang, sebab hari demi hari yang saya lalui selalu saya taburkan dengan kasih sayang. Termasuk tanggal 17 Februari 2011, di tengah pemberian materi PMP aku menemukanmu. Di tumpukan kekasih sejati, (kekasih sejatiku itu “buku”).

Sepertinya kalimatku salah, tapi biarlah. Aku mulai malas untuk menekan delete/backspace untuk mengedit kalimat itu. Sederhananya, aku melihatmu berdiri di dekat perpustakaan yang dibuat panitia. (Kalau bisa simple, kenapa dipersulit? Pertanyaan itu, aku yakin kamu bisa jawab sendiri)

Kuperhatikan dan aku terpaku, (percaya atau tidak!) itu bukan gombal. Kau boleh bertanya pada teman yang ada di sampingku malam itu.

Aku bukanlah orang yang mudah terjebak dengan situasi pandangan pertama, namun malam itu sepertinya aku terperangkap. Nah., ketika aku terperangkap aku mencoba menyadarkan diriku sendiri dengan teori sederhana, bahwa pada umumnya perempuan sepeti kamu (manis, senyumnya khas nan menawan) 99,12 % pasti sudah ada yang punya. Ini survei yang saya lakukan, dengan beberapa teman.

Seperti itu awalnya, dan malam itu saya hanya hanya mengenal wajah dan senyummu saja. Tanpa nama dsb., dan setelah malam itu. Kau menjadi salah satu alasan yang menguatkan aku untuk segera menyelesaikan proses seleksi anggota baru LPM Penalaran ini. Setelah PMP, akan ada Orientasi Anggota Baru, dan aku berniat lulus dan bergabung aktif.

Singkatnya, malam itu berlalu dengan beberapa pertanyaan yang kusimpan dengan rapi. Berharap, hari esok akan memberiku kesempatan untuk menanyakannya secara langsung kepadamu. Kemudian, PMP selesai, dan aku hanya berhasil melihatmu malam itu. Satu kali dalam PMP, dan selanutnya di OAB.

OAB agak lebih bebas dan lebih asyik dibandingkan PMP, jika PMP adalah karya tulis yang sistematis, maka OAB adalah cerpen yang diksinya menghanyutkan pembaca. Aku tidak akan bercerita OAB, tapi aku hanya akan bercerita tentang kau dan OAB.

Di OAB, aku belum punya kesempatan untuk bisa dekat dan berkenalan langsung denganmu. Bahkan sebaliknya, aku melihatmu akrab dengan orang bahkan senior lainnya. Kupikir, dikumpulan senior itu, ada kekasihmu. Semenjak itu, cerita antara kau, aku dan OAB menjadi cerpen yang singkat padat dan masih kurang jelas. Namun, karena ketidakjelasana dan lingkungan yang memperlihatkan, fakta, saya pikir cukuplah.

Setidaknya, aku mulai menyusun rencana untuk mengenalmu, Setelah aku dikukuhkan sebagai anggota baru. Cukup mengenalmu, tanpa harus berharap lebih. Hahahahaha.....

Dulu, singkatnya seperti itu, entah bagaimana hari ini! Esok selalu punya ruang tersendiri untuk kita maknai.!!!

Namun, yakinku,,,

*Kau akan kumiliki seutuhnya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar