Minggu, Desember 23

Jadilah Waktu

menamai waktu sebagai bola kecil
lalu di genggam erat seolah tak membiarkan seorang pun melihat
menjadi seorang anak penyuka mainan serupa bumi
orang tua kita mengajarkan kita mengulur-ngulur waktu
hingga lepas malas menjadi kulit

berikan nama apa saja kepada waktu
hingga akhir-akhir ini, aku memanggil waktu dengan banyak nama
hingga namamu kupikir waktu

jadilah waktuku,
dan kemudian kita menjadi dua bocah kecil mungil
yang bermain waktu dengan senang
saling melempar menangkap bola
kecil-kecil sederhana, tanpa pikir kita akan dewasa esok



Jumat, Desember 21

Aku menginginkan kamu

-1-

Lamat-lamat kita teramat rindu
terhadap petang
dan seluruh warna sebelum gelap
hingga kita memilih untuk
berdiam atau ikut mengatup

kita masih senang untuk duduk di teras
menuntaskan resah kemarin
kemudian selalu mencoba
mengalahkan cerita di buku pertama
yang aku pinjam darimu
saat usiaku benar-benar tak pernah kau sentuh
namun rinduku selalu ingin memeluk
sejak dulu,

lagi, masa lampau
dan kau terlampau risau untukku

-2-

Dering nada pesan menjadi panggung tempat aku berdoa
perihal nama yang kutulis sebelum aku meninggalkan asa
berbagai keinginan

aku menginginkan kamu

terbesar, menebar,
kau menjadi kabar yang selalu kuinginkan


-3-

terlampau dalam kalau seluruhnya aku tulis
maka separuh dari kata dalam tulisanku
kukatup tanpa redup
di suatu puisi

pucuk dari puisiku
ada alamat tempat aku menyimpan
seluruh resah,
seluruh rindu
dan seluruh


kau menjadi puisi teramat hikmat
sebab
aku menginginkan kamu

Senin, Desember 10

Mayat

Aku telah mengira kau akan gembira sebelum tidur

tapi aku salah melangkah
tapi aku mati dan menjadi mayat

yang tersenyum dan sedikit lagi tertawa

mertawakan diri sendiri
mayatku adalah kepunyaanmu

yang telah mengajakku selalu berharap

sebelum aku gembira memeluk mayatku sendiri

Sabtu, Desember 1

Nama Yang Terlupakan dalam Sajak

Tepat saat aku menduga sore itu, kau tengah sibuk memandang
Ini, atau itu dengan segala hal di sekitarmu yang menjadi tamu
Sementara aku, merasa tak pernah kau pandang
Mungkin aku benar atau perasaanku tengah keliru
Inti daripada kekeliruan bukanlah diam, melainkan...

Diam sekali, aku sering diam
Ingin banyak bicara tapi aku senang menyembunyikannya
Pelan-pelan, aku yang memandangmu,
Agar aku tak merasa sendiri, dan hilang
Lain kali, aku akan berteriak menjenuhkan pikiranku sendiri
Atas perasaan dan pandanganmu yang masih sibuk
Yang nyatanya, keliru berguguran menjadi teguran, setelah
Aku menjadi pusat pandanganmu yang sebenarnya

hendaknya aku ingin menulis sajak, dimana namamu selalu ada
kau memandangku, tanpa mesti aku panggil berulang
hingga kata-kataku lalu lalang tanpa rambu

sebab nama yang terlupa dalam sajak
adalah deretan rindu yang selalu membuatku diam

diam karena,
rindu punya suara yang tak perlu diperdengarkan

Jumat, November 30

I Won’t Give Up


When I look into your eyes
It’s like watching the night sky
Or a beautiful sunrise
Well there’s so much they hold
And just like them old stars
I see that you’ve come so far
To be right where you are
How old is your soul?
I won’t give up on us
Even if the skies get rough
I’m giving you all my love
I’m still looking up
And when you’re needing your space
To do some navigating
I’ll be here patiently waiting
To see what you find
‘Cause even the stars they burn
Some even fall to the earth
We’ve got a lot to learn
God knows we’re worth it
No, I won’t give up
I don’t wanna be someone who walks away so easily
I’m here to stay and make the difference that I can make
Our differences they do a lot to teach us how to use the tools and gifts
We got yeah we got a lot at stake
And in the end,
You’re still my friend at least we didn’t tend
For us to work we didn’t break, we didn’t burn
We had to learn, how to bend without the world caving in
I had to learn what I got, and what I’m not
And who I am
I won’t give up on us
Even if the skies get rough
I’m giving you all my love
I’m still looking up
I’m still looking up
I won’t give up on us
God knows I’m tough, he knows
We got a lot to learn
God knows we’re worth it
I won’t give up on us
Even if the skies get rough
I’m giving you all my love
I’m still looking up…

By:  Jason Mraz

"Menulislah"

Kabari aku, di hari kau merasa sulit untuk bisa memberi kabar.

Aku hanya terbiasa dengan hadirmu di setiap saat, hingga ketika kau hilang tiba-tiba maka semua menjadi ganjil. 

Semisal kemarin aku menyuruhmu menuliskan "tombol otomatis". Itu adalah caraku untuk mendamaikan perasaan yang menyerang tiba-tiba. 

"Menulislah"

Kau mesti ada, namun di kala kau tengah tak ada, aku bisa membacanya berulang-ulang. Aku bisa terdiam dalam waktu yang cukup lama, untuk berulang-ulang kali membaca hadiahmu. Sesekali aku ingin membaca tulisan yang memperlihatkan semua baik-baik saja. Sama ketika aku melihatmu video buatanmu berulang-ulang, aku meminta untuk dibuatkan yang beraroma lebih bahagia. Sebab, aku takut bayangan masa lalu hadir dari hadiahmu untukku. Visualisasi masa lalu itu menakutkan, namun untuk mengemas rinduku lebih rapi sebisa mungkin aku melihatnya atau membacanya berulang-ulang. Memandang paras wajah yang kau kirimkan, dan senyum demi senyum yang rajin kurangkai menjadi bahagia.

Menulislah, aku lebih senang membaca dari pada banyak berkata-kata. Aku lahir sebagai seorang pemalu, yang selalu ingin terlihat sempurna. Namun tak punya apa-apa dan tak bisa berbuat banyak. Jika aku menulis, aku bebas menciptakan diriku yang baru. Sedikit mencoba memperbaiki diri, disini duniaku. Aku ingin mengajakmu, mencariku di belantara kata yang kadang mengurungku.  

Sebisa mungkin aku mengemas rindu dengan rapi, namun yang kurasa lebih dari semuanya. Ceritamu, adalah cerita yang kupunya. Jika aku sepi disini, semoga kau merasa.

"apakah kau menghadiahkan sepetak tanah sepi untukku? Yang mungkin akan menjadi kuburanku hari ini"

Kamis, November 29

Angka 28

"Bisakah kau membagi waktu untukku? Saat kau tengah sibuk dengan harimu"

Kau pernah seminggu mengabaikan aku, disaat aku tengah ingin bercerita banyak. Bila itu terulang, aku akan menggulungnya dengan rapi dan membiarkannya menjadi hiasan ruang tamu di rumahku. Itu telah menjadi trauma untukku, aku menulisnya sebagai cara untuk melepas sedikit demi sedikit. Berharap menjadi obat untuk menyembuhkan semuanya.

Kadang kala kau disibukkan dengan banyak urusan. Dan aku punya banyak permintaan di saat bersamaan.


Tanggal ini menjadi tanggal yang menyenangkan, akan ada banyak cerita yang bisa kita lanjutkan. Maaf aku terlambat mengucapkan, itu karena pagi yang tiba-tiba kau hilangkan. Dengan pergi tiba-tiba, aku YANG SALAH.


Tapi sudahlah, 

+++

Aku membeli sebuah buku hari ini, tidak lain sebagai upaya menghadirkan bayanganmu lebih dekat di hadapanku. 

Buku itu adalah kumpulan puisi dari seorang penulis dari Amerika, aku tengah mencoba menuliskan sajak dalam bahasa yang berbeda. Bahasa berbeda namun rasa tetap sama, aku coba seperti itu namun cukup sulit. 

Biarlah, aku senang berjuang, semua akan menjadi tantangan yang bisa menjelaskan kita arti kemenangan melawan diri sendiri. 

Sekiranya, sudah cukup tiga kali tanggal 28 itu aku lewati tanpa kamu. 

Akan ada empat kali lagi hingga kau dan aku bersama-sama ke Toko Buku. 

Dua angka genap yang indah, sebagai tanda bahwa kita akan selalu di genapkan oleh Cinta dan Rindu yang terjaga. Jumlah 2 dan 8 melahirkan angka 10 yang menyempurnakan angka, kau sempurna. 

Untuk perasaanku, yang selalu terjaga untuk perasaanmu. 

Have a nice day..

Minggu, November 25

Hujan November

Disini aku sering menatap ranting yang telah menjatuhkan daunnya. Melihat kawanan burung yang hinggap di ranting lalu aku mencoba merekamnya dalam sebait sajak. Daun yang jatuh mengabarkan satu kata, lalu angin yang berhembus mengundang sebait sajak. Banyak hal yang membuat sajakku menjadi ingin hidup disini. Terlebih saat bayanganmu hadir bersama hujan, rasa untukmu menjadi pelengkap yang mengutuhkan seluruhnya. 

Di kamarku, aku menuliskan surat-surat kecil yang kusimpan di handphone atau kutuliskan di kertas kecil. Aku mendapatkan rasa yang ingin selalu bermain denganmu, tertawa mendegar candaanmu lalu memikirkan hal-hal sederhana hingga hal tersulit bersamamu. Mengatasnamakan rindu dalam hal ini, namun bagiku lebih dari itu. Ada banyak keinginan yang tak bisa dijelaskan oleh kata Rindu. 

"kadang aku sesak" katamu

aku tak ingin menamai rasa yang kumiliki sesak, meskipun seutuhnya rindu menghadiahkan rasa yang lebih sesak. Anggap ini cobaan termanis, yang kuanggap cobaan termanis sebelumnya jauh lebih sesak. Ceritamu pernah menjadi kumpulan sesak yang menusuk hingga jatung, aku tak bisa mengucapkan kata yang tepat. Namun saat ini, aku bahagia dengan rasa yang ada. Cobaan termanis jilid berapa? Semua hal tentangmu, kupilih untuk menjadi cerita paling indah dalam perjalanaku. 

"Kau hadir dan telah menangkan hatiku" petikan sebuah lagu.

Metamorfosis Rindu menghadirkan rasa yang jauh lebih. Kemarin aku senang berjalan saat hujan, melihat parade kemudian hujan turun, aku lebih memilih berjalan dalam hujan. Mencari bayangan-bayangan yang mungkin ada. Atau berharap hujan menghadiahkan banyak cerita lagi. Hujan seolah melemparkan pikiranku menuju perasaanmu. 

"Ketika hujan, rinduku membuncah" katamu

Menunggu hingga hujan membasahi tepi hati yang ingin menanti. Aku ingin hujan, setiap hari bila hujan bertandang maka aku akan menari dalam kata-kata. Tentunya, tepat saat hujan datang aku bisa menemukan irama untuk tarianku. Sekarang, aku juga selalu ingin meminta hujan pada langit. Sebab lewat hujan, aku akan menemukan beberapa genangan air di perjalanan menuju rumahmu.

Aku senang menatapnya dalam-dalam, sebab kadang senyum atau tawamu muncul tiba-tiba dalam genangan itu. Di perjalanan menuju rumahmu, mungkin rindu menggambarkan perasaanku. Hingga imajinasiku mampu menghadirkan senyum atau paras wajahmu yang indah.  

Sekarang, November tengah menghadiahkan beberapa hujan di Minggu pertama. Namun, semenjak kalimat penolakan itu hadir, aku tak tahu cara menyambut hujan dengan senyum. Seolah lupa pada segala hal sederhana yang telah hujan berikan. .  Kini, hujan menyimpan banyak kenangan tentang cerita kita. Dan membuat aku selalu percaya bahwa akan ada irama yang jauh lebih indah dari hari ini. Sebelum hujan, aku senang membacakan beberapa kalimat cinta yang kupetik dalam sajak-sajak sederhana yang kumiliki. Saat hujan, aku mulai membacakannya padamu. Dan selepas hujan, aku menulisnya kembali di buku  bersampul merah. Buku yang berisikan sajak-sajak sederhana, yang ingin kuhadiahkan di hari ulang tahun kau menemukan aku. 

Aku selalu menuliskan harapan padamu, saat hujan ataupun saat hujan pergi, kemudian aku juga menagih suara yang ingin kujadikan surat. Termasuk hujan pagi yang sebentar lagi pergi. Sebelum aku dan kau dipertemukan rintih-rintih rindu.

Tanpa aku bertanya, kupikir kau bisa merasakan apa yang kutuliskan. Terlebih sebab aku dan kau adalah insan yang mengagumi kehadiran hujan. Aku atau kau bisa jatuh cinta tepat saat hujan ketiga di bulan Agustus. Hingga aku merasa, hujan hadir sebagai pertanda bahwa kau dan aku akan punya banyak cerita. Seperti hujan yang punya banyak kesempatan untuk hadir di bumi ini. Membasuh hati yang kering dan teruka, lalu menjadikannya indah dan sejuk.

Maka, selama hujan masih ada. Perasaanku pun akan selalu terjaga. Begitu pun dengan perasaanmu.  Sebab, aku atau kau adalah kita yang selalu aku satukan dalam surat-surat sederhana untuk Tuhan, agar kita selalu bahagia BERSAMA membaca balasan surat dari Tuhan.

Rabu, November 14

BERSAMA, BERARTI

Memasuki ruangan baru yang kau sediakan membuat aku semakin sadar bahwa semua yang kau berikan BERARTI.




Tanpa banyak kata yang ingin kulontarkan, aku hanya ingin kau tahu setiap malam aku mengemas rinduku sebelum aku tertidur lelap. Berharap kau selalu menyapaku, di ruang baru ini, aku akan sedikit merasakan sesuatu yang berbeda. Mengemas rindu dengan rindu yang lebih banyak, jauh lebih banyak.Semoga Tuhan selalu menjagamu, dan kau menjaga kata-kata yang kutitipkan, bersama menjaga. 

"Berharap kau bisa sedikit bersabar... bersabarlah mengahadapi dirimu.." katamu"Baiklah"

aku atau kau adalah kita yang selalu kusatukan dalam surat-surat sederhana untuk Tuhan, agar kita selalu bahagai BERSAMA membaca balasan surat dari Tuhan. 

Kita Selalu, kau dan aku. :)

Selasa, November 13

Catatan Kecil


Di suatu malam ketika aku tengah menanti. Aku masuk dalam kamar yang telah kau susun beberapa buku, beberapa catatan, dan hiasan-hiasana yang menjadikan semua terlihat menyenangkan. Menelusuri lalu melihat satu per satu, mencoba meyakinkan bahwa kau juga pernah berdiam dengan tenang menunggu di ruangan itu. Tanpa sengaja aku melihat catatan yang kau tuliskan beberapa waktu lalu, 

Aku tersenyum membacanya, lembar demi lembaran aku buka. Hingga sampai pada titik yang tak bisa kulanjutkan, namun tetap kucoba lanjutkan membacanya. Aku senang membaca, sedih atau senang tulisan itu akan kubaca hingga aku mengerti isi dari semuanya.  

Di suatu malam aku mengirim surat, berkunjung dan duduk termenung menatap kotak-kotak surat. Berharap akan ada pesan yang kau kirim, aku kurang mengerti mungkin. Kurang perhatian dan tak memberikan sebuah hal yang kau inginkan. Atau dalam suratku terlalu banyak permintaan hingga aku tak pernah mendapatkan balasan. Aku menunggu, selalu menunggu. 

Kau mungkin sibuk dengan harimu yang sebentar lagi akan menjadi baru. Kejadian ini menginatkanku tentang peristiwa itu, seminggu kau disibukkan dengan urusanmu lalu aku tak bisa menyusun cerita darimu. Aku sendiri dan tak bisa melanjutkan paragraf di setiap cerita yang kutulis. 

Aku menulis cerita ini karena merasa sangat lemah untuk kau hiraukan. Memberiku waktu atau beberapa pargraf untuk bisa menenangkan aku disini. Di ruangan yang penuh dengan tanya yang menyatu. Di tambah dengan hari yang selalu aku khawatirkan. 

Aku membendungnya, perasaan yang mungkin menyulitkanmu.

Saat ini, aku masih takut melihat hari setelah kau menuju mimpi barumu. Takut kau hiraukan dengan kesibukan barumu, meski aku coba untuk terbiasa seperti itu. Bisakah kau membantuku sedikit saja, kalau pun tidak kuharap kau mengirimiku paragraf yang rindu. Bukan sekedar kata yang melayang begitu saja. 

Aku merasa, aku terlalu lemah.

Belum bisa tenang, bagaimana jika aku seperti ini? 

Mungkin inilah ketakutanku, ketika kau memilih jalan baru yang kemudian lupa untuk mengirimkan surat untukku. Malam ini aku menahan rasa itu, namun saat menemukan catatan kenanganmu yang kau buka kembali aku tak bisa menahannya.

Aku kalah dengan diriku sendiri, 

Surat yang kutunggu sejak kemarin tak juga datang, surat lamamu malah membuatku sedikit tenggelam dalam ketakutan, lagi dan lagi.

Aku juga takut kau mengeluh dengan semua tingkahku, 

Maaf jikalau kata ini pun tak beraturan, mungkin karena suratmu belum datang sejak kemarin. Seolah kau membiarkanku berdiri di gurun, lalu menunggu turun hujan. Entah kapan?

Maaf, ini salahku.

Kau mengeluh dengan tingkahku, maaf.

Satu hal yang paling kutakutkan adalah kebosananmu menghadapi pikiranku yang kaku. Dan banyak hal, lagi dan lagi, aku membuat keningmu berkerut. 

Minggu, November 11

Pesta

di suatu pesta
kubiarkan pandanganku menatap
kursi kosong

sementara riuh terus bergelantungan
pada senyum para tamu

perasaan ingin berbincang padamu
hadir tiba-tiba

kupandangi kursi itu dalam-dalam
menempatkan rindu bersandar
setelah waktu mengizinkannya berlayar

di pesta ini, aku terbungkam sepi
setelah aku pahami,
aku tak pernah menyukai pesta,
kecuali pesta kata-kata bersamamu

dimanapun itu, kadang aku berbincang
bersama rindu yang sendu,
mewakiliki ketiadaanmu


kemarin telah kusediakan ruangan yang beraroma hijau,
agar kau tak menggalau
telah kusediakan alunan harmonika, lagu kesukaanmu


aku bebas mengatur pestaku sedemikian rupa
dan aku tak pernah lupa bermain harmonika

aku bebas mengatur pestaku sedemikian rupa
untukmu apalagi.

di pestaku, aku selalu bermain harmonikaa
harmonika
harmonika
harmonika
berharap suatu saat kau kuajak untuk menikah

Charlottetown, 11 November 2012

Sebait Cerita

Ceritaku penuh dengan tanya yang mulai mengusikmu. Di tengah kau tertawa lepas, di tengah kau menikmati hari dan menyusun serangkaian mimpi-mimpi barumu. Tak lain ceritaku hadir hanya untuk membuatmu memahami jikalau aku membutuhkan ceritamu, agar melahirkan kata "Cerita Kita". 

Aku kadang bertanya-tanya, apa aku bisa melahirkan Cerita Kita?

Apa aku dan kau bisa saling bertukar cerita, di tengah jalan dan tempat yang berbeda?

Sementara aku selalu ingin mendengar, namun aku takut mengganggu pestamu. Dalam pestamu, pertanyaanku terkubur hidup-hidup. Aku mesti belajar untuk mempertahankan keinginan untuk bisa lebih menenangkan diri sendiri. 

Ceritaku penuh dengan keinginan, yang mungkin membuatmu lupa satu per satu karena jumlah yang terlalu banyak. Aku tak pernah ingin menjadikan cerita ini milikku sendiri, 

Selalu, keinginan untuk bersama meski kau tak bisa ada disini, atau aku ada di sampingmu.

Di tengah keramaian, aku menulis bait-bait rindu untukmu. 


Sabtu, November 10

Wujudkan Segera

Hari itu kau mengabarkannya lewat pesan. Dan mataku berfokus pada baris-baris yang kau tulis, di saat mataku baru saja terpejam cukup lama, sekitar 5 sampai 6 jam. Senang mendengar kabar itu, akhirnya kau berhasil dengan pencapain yang hebat. Bersyukurlah, 

Namun, cerita yang sering membuatmu bosan tiba-tiba hadir kembali. Mungkin karena kondisi yang cukup sulit untuk ditenangkan. Perihal jalan yang akan kau pilih setelah ini, hari itu, aku merasa bahagiaku sedikit diselimuti ketakutan-ketakuan yang tiba-tiba. Kupikir ini karena perasaan tengah mekar hingga menakar apa saja yang ada. Maaf aku tak mampu untuk lebih berani hari itu, di pikiranku sekumpulan bayangan datang mengacau. Hingga aku sedikit menggalau, :)

Kau tahu mungkin, perihal langkah yang kadang kau pilih berdasarkan pilihan orang lain. Di saat kondisi ini, aku tak bisa menemani dan kadang hilang tanpa kabar. Hingga kutulis surat ini, aku sedikit lebiih tenang. Sebab ini hanyalah pikiran, namun semoga kau bisa kuat untuk hal itu. 

Beberapa postingan kuselipkan kata "KUAT", berharap kau menjadi jauh lebih tangguh. Jalan yang kau pilih semoga tak membuat aku melakukan hal yang aneh. Aku tak banyak bicara, sebab aku paham kau selalu bisa mengerti dengan apa yang ada dalam pikiranku. Tanpa perlu kujelaskan panjang lebar dengan sedikit kata yang berulang. 

Sekali lagi selamat, dan teruslah berjuang bersama. Denganku, denganmu, dan semua harapan yang lahir dari perbincangan sederhana. Sesederhana apapun itu, patut untuk diwujudkan. #optimism

"Kita bisa menjadi lebih KUAT"


Jumat, November 9

Menangkan Dirimu

Sesuatu yang tak nampak belum tentu berarti tak ada, begitupula sebaliknya. Sesuatu yang nampak belum tentu ada. Partikel kehidupan selalu berpisah, atau bertemu untuk menciptakan suatu zat baru atau menguatkan zat tersebut. Jarak dari satu partikel ke partikel lainnya sangatlah dekat, semua yang ada di ruang ini adalah sekumpulan materi yang terhimpun dari partikel yang ada. Sekumpulan energi yang menyergap suatu kondisi, melahirkan bentukan atau perubahan baru. 

Saat kau membaca tulisan ini, tak ubahnya aku tengah duduk di sampingmu sambil membacakan berlembar-lembar sajak rindu. Kau mungkin tak melihatku secara fisik, namun saat aku menuliskan surat ini, ada partikel yang kuselipkan di setiap huruf yang ada. Kubiarkan mereka bebas lepas untuk bertemu dengan matamu, hingga masuk dalam pikiran dan perasaanmu. Sekiranya aku ada di sampingmu dalam kondisi seperti ini, namun bukan tidak mungkin, tulisan ini bisa sebanding dengah hadirku. Aku menulisnya dalam keadaan yang sama denganmu, "keinginan yang membuncah" seperti itu. 

Tarikan nafasmu menguatkan hadirku, setiap kali pandanganmu fokus pada baris-baris haru yang ingin menggenggam tanganmu. Kau bisa menghirup aromaku dengan merasakan lewat perasaanmu yang tengah bimbang dengan hari ini. Kebimbanganmu akan semakin membuatku terasa begitu berarti, bahwa kau telah sepenuhnya merasakan energi yang kutitipkan padamu selama ini. Perihal perasaan, aku berani mengatakan bahwa telah terhubung jembatan yang kokoh untuk mempertemukan titik-titik energi kita. Kusebut itu, "Ketulusan".

Aku ingin kau menjadi jauh lebih kuat setelah membaca serangkain kata dalam surat ini. Kau bisa menjadi lebih dari apa yang kuduga, berikan yang terbaik untuk diriku dan orang sekitarmu. Dari dirimu aku belajar untuk terus berjuang lebih tangguh, dan berusaha mengalahkan ketakutan pada diriku sendiri. 

"Menangkan dirimu, dari dirimu sendiri"

#Optimism ^^v

Rabu, November 7

Harapan Ki(T)a

"Begitu hebatnya rasa yang Tuhan sedang titipkan,
untukku, untukku, untukku,
padamu, padamu hanya padamu" (Lyla, 2012)


Keinginan untuk selalu ada dan bisa bersamamu dalam kondisi apapun.Kusebut selalu.

Kutulis yang sekiranya bisa memulihkan penat disini, kadang kala jarak menghadiahkan rasa yang begitu sulit untuk kuberi nama. Melebihi rasa yang sering kau sebutkan dalam chat, atau pun pesan yang kutitipkan. Tak terasa, sebentar lagi kau akan melangkahkan mimpi barumu. Maaf tak sempat menemanimu dalam meretas asa yang selama ini kau hiraukan. Tinggal menghitung hari, selanjutnya kau bersiap untuk berjalan lebih bebas. Bebas dalam artian, kau akan memilih jalan selanjutnya. Yang menurutmu terbaik untuk kau tempuh, 

Selamat atas perjuangan yang telah kau lalui, meskipun kita sadar bahwa apa yang kita perjuangkan belum maksimal. Kau dan aku, (baca:kita) mesti bersiap untuk lebih mengejar harapan dengan tekad yang jauh lebih kuat dibanding sebelumnya. Kita mesti berterus terang pada dunia bahwa ada harapan yang bisa menjadi cahaya dalam gelap. Aku penuh dengan ketakutan, namun dengan harapan yang terus kubiarkan bersinar, maka aku semakin kuat dan jauh lebih kuat. 

Kebahagiaan  yang dinanti itu, akan datang. #optimism

Bukan kau atau aku, tapi kita.

Jumat, November 2

Bertemu

Sekiranya berat, namun biarkan saja jemari itu mengalirkan rindunya. Entah akan melahirkan berapa cerita atau rasa dalam untaian kata yang selalu kunanti. Seperti yang kau rasa dan apa yang telah Tuhan titipkan.

Matic merahku, dan spion itu. Kabar mereka baik, dan juga menanti.

Sekiranya, aku berniat mengajakmu bermain-main bersama mereka di hari yang telah lama kau nanti. Setelah kurang lebih empat tahun kau menjamah impianmu, dan akan berlanjut ke impian selanjutnya. Kau melangkah, namun aku masih disini. Tak bisa menemanimu di hari yang telah lama kau nanti, keinginan itu telah lama jauh sebelum aku mendapatkan tempat disini. Sebab jelas terlihat, kau yang melangkah lebih dulu dan akan selesai sedikit lebih awal dariku. 

No problem for me, keinginan itu mesti kujalankan. Tunggu setelah aku dan kau dipertemukan disuatu tempat, yang menjadi tempat favorit kita berdua. Semoga kau tetap menunggu hari itu, 

*** 

"Bagaimana rasa menunggu?"

Aku berusaha menghindar dari pertanyaan itu, sebab aku tak pernah bisa menjawab apa yang kau rasakan saat melontarkan pertanyaan seperti itu. Aku bersalah sejak awal, sejak aku mengajarmu untuk rajin menunggu. Hingga aku takut jika faktanya suatu hari kau berani menjawab untuk lelah menunggu. 

Berbagai cara aku coba jalankan, agar kau tetap tersenyum. Dengan tingkahku yang sedikit membosankan, dan kau mulai mengeluarkan pertanyaan yang sulit untuk kujawab.

Maaf, 

Jawaban dengan kata "maaf" pun tak pantas kulontarkan ketika kau merasakan sesuatu yang membuat kau melontarkan pertanyaan itu. Namun aku tak punya pilihan lain, 

aku ingin kau menunggu, dan aku berusaha untuk bertemu hari bahagia dalam waktu secepat mungkin. Aku berusaha, 

lontarkan pertanyaan itu, dan aku tetap menjalankan keinginanku bertemu hari bahagia.

Maaf, 

apapun yang kau lontarkan, jalanku telah kau pahami, dan semoga Tuhan mengizinkan semua itu. 

Sekali lagi,

Tunggu setelah aku dan kau dipertemukan disuatu tempat, yang menjadi tempat favorit kita berdua. Semoga kau tetap menunggu hari itu, 

Selasa, Oktober 30

Tentang Lagu

Aku tak pernah menempatkan irama dengan indah, sama ketika aku menyusun kata-kata dalam bait pusiku. 

Aku tak pernah bisa menjelaskan perasaan, dengan pikiran perasaan itu kadang tertutupi dan kemudian berubah menjadi apa yang pikiran inginkan. Tak bisa tertata rapi, 

Aku menyusun beberapa bait lagu dalam hati yang sendu, di hantui pikiran yang seolah kau akan pergi karena bosan dengan tempat yang mulai lapuk dengan waktu. Aku lakukan, dan aku ceritakan semua yang ada pada malam sepi hingga jemari kubiarkan bersentuhan dengan senar gitar lalu mencari nada untuk sebuah surat yang kujadikan lagu. 

Lagu itu, 

entah kau rasakan atau tidak? 

Setelah aku posting dan share kepada beberapa ruang membuat aku selalu optimis untuk semakin bisa berkarya untukmu, berkarya karena kau berbagi energi positif untukku. 

Perasaanku kemudian terbentur oleh pikiranmu, apakah perasaanmu juga?

Setiap kali mereka bertanya, tentang nada yang terdengar rindu. 

Aku selalu menjawab karena rindu untuknya telah menjadikan semuanya menjadi lebih dekat. Aku berusaha untuk terus melakukan apa yang bisa mendekatkan aku dan kau nantinya. 

Aku berusaha menyelesaikan semua rencana-rencana kecil untukmu, yang entah akan kau terima atau terbentur lagi dalam pikiranmu, atau juga perasaanmu. 

Usaha-usahaku mungkin tak terlihat begitu meyakinkan, tak terlihat istimewa menurutmu. 

Karena aku telah berubah? 

Aku selalu mengubah perasaanku terhadapmu, menjadi lebih kuat dan kuat setiap harinya. Terlebih ketika kau menyebutku seperti ini. 

Aku menyimpan bahagia untukmu, bila saatnya kuberi, kumohon terima. 

Aku hanya ingin bercerita pada orang lain, bahwa aku telah bahagia bersamamu. Selalu bisa yakin, dan selalu bisa memberikan hal baru.

2016, entah aku akan jadi apa. Optimis itu ada, kumohon bantu aku untuk mendapatkan itu.

Di mimpiku, aku telah berada di rumah sederhana dan siap memberikan isi dari bahagia yang telah kusimpan UNTUKMU. Ibarat sebuah tabungan bahagia, dan berbagai cerita yang mesti kita lanjutkan menjadi lebih indah. 

apakah perasaan spesial itu telah hilang dari perasaanmu?

ataukah hanya dalam pikiranmu, 

jika kau merasa setelah membaca tulisan ini pikiran dan perasaanmu masih merasa sama, bahwa lagu itu tak spesial lagi. Maka itu berarti, perasaanku telah gagal tersampaikan untuk perasaanmu.






Sabtu, Oktober 27

Kala - FIERSA BESARI


Berdiri di atas gamang
Menanti waktu memihak
Sunyi yang tak mau pergi
Hati berlari memelukmu

Tanganku kosong, genggamlah
Pundakku kuat, rebahlah
Sampai kapan kau membeku?
Sembunyi di rasa sakitmu

Coba kau cari siapa yang mampu menunggumu Akulah orang itu, akulah orang itu
Dan bila ada yang ingin tua bersamamu
Akulah orang itu, akulah orang yang kau cari
Di sisi gelap merindu
Terbata untuk memulai
Biar kubasuh perihmu
Meski tak berbalas apapun
Coba kau cari siapa yang mampu menunggumu Akulah orang itu, akulah orang itu
Dan bila ada yang ingin tua bersamamu
Akulah orang itu, akulah orang yang kau cari
Terhempas, membias
Dan tak tentu arah, kau terus pergi
Memberi harapan
Menafikkan lagi dan lagi
Coba kau cari siapa yang mampu menunggumu Akulah orang itu, akulah orang itu
Dan bila ada yang ingin tua bersamamu
Akulah orang itu, akulah orang yang kau cari


Sabtu, Oktober 20

Kursi Roda

Tak ada banyak kabar yang kuperdengerkan, kemudian aku terdiam lama. 

Aku memintamu untuk mendorong kursi rodaku mendekat di depan akuarium ruang tamu kita, saat itu aku tak lagi bisa berkata apa-apa. Selain menunjuk ke arah akuarium sebagai bahasa yang mungkin akan segera kau pahami. 

Aku ingin melihat beberapa ikan kecil warna -warni datang mendekat, atau menjauh dan berusaha bersembunyi dari kehadiranku. Saat itu, aku kadang kesulitan untuk tertawa lepas dan nafasku pun mulai sedikit melemah. Tak sekuat dulu, saat aku menunggu dan menjemputmu dengan motor merahku. 

Entah berapa lama aku akan merepotkanmu di kursi roda sederhana ini, sebab aku tak bisa menghibur lagi. Memainkan harmonika, menyulap beberapa kata menjaadi puisi, atau bercerita sudah lenyap termakan waktu. 

Aku ingin kau mengajakku bermain-main, tapi aku tak bisa mengatakannya. Aku ingin kau mengajakku berputar keliling perpustakaan atau di deretan lemari buku yang kita punya. Aku ingin seperti itu, sambil kau tetap tersenyum seperti biasanya. 

Keriputku ternyata lebih cepat darimu, tubuhku lebih rentah dari tubuhmu. Aku sangat lemah, 

Bila musim telah berganti, doa-doa kulantunkan dalam hati untuk Tuhan. Berharap kau atau aku masih bersama, waktu akan selalu menggoda. 

Aku duduk di kursi roda sambil tersenyum dan selalu melihat matamu dalam-dalam. Aku takut jika di matamu terlihat keluh yang akan membuatku merasa bersalah. 

Aku ingin menyentuh sesuatu, tanganmu mungkin. 

Aku ingin mendegarmu bercerita, lalu kau sedikit tertawa. 

Aku tak mengerti mengapa, kondisi jadi seperti ini. Lemah dan seolah hanya menjadi boneka yang bergerak jika tertiup angin. 

Disaat itu tiba, aku ingin kau tetap membiarkan semua yang kau miliki tetap seadanya. 

Aku merepotkan, di beberapa hari terakhir di kursi rodaku. Kuharap kau tak pergi dengan teman-temanmu, dan meninggalkan sendiri di depan akuarium. 

Aku bahagia, dalam diam ataupun suasana yang lainnya. Jikalau kau masih selalu ada, 

dalam kondisi apa pun, 

ini cerita tentang harapan di masa yang akan datang, ketika aku lebih tak berdaya menghadapi waktu. 

di kursi rodaku, aku menjadi anak-anak yang tak bisa menyampaikan keinginanku secara langsung.


di sebuah rumah sederhana, Maret 2084



Perihal Rintih-Rintih Rindu

hujan lalu pergi, kemudian aku menagih

suara yang ingin kujadikan surat, 

lalu, hujan pagi sebentar lagi pergi

sebelum aku dan kau dipertemukan rintih-rintih rindu

ini,
perihal suara rintik-rintik hujan

Melampaui

Pertanyaanku selalu hadir untukmu, kadang kala aku takut untuk banyak bertanya. 

Kadang aku merasa tak pernah bisa mengendalikan beberapa rasa ingin tahu yang kemudian cemas sendiri. 

Suatu hari kau pernah bilang padaku, 
"percaya saja, semua akan baik-baik saja" katamu
  
di pagi ini aku bangun lebih pagi, menunggu kabar tentangmu. Aku memilih berlama-lama, dan tak ada kabar sama sekali. 

Mungkin seperti ini yang kau rasakan kemarin, aku juga selalu merasa. 

Mungkin aku harus selalu percaya, tanpa mesti membiarkan cemas itu tumpah dan tak tahu bagaimana menghilangkannya. Aku menulis sebagai upaya untuk menyelamatkan semua rasa yang ada, mungkin berada pada posisi ini atau berada pada posisimu membuat rasa sulit unutk diduga, khawtir berlebih, senang berlebih dsb. 

Sekarang sepertinya aku yang dihinggapi perasaan berlebih, 

Aku mulai cemas, dan mencari jejakmu. Selalu seperti itu, bisakah kau sedikit saja membantuku untuk lebih tenang? 


Perasaanku, mengerti dengan keadaan. 

Cermin Luas

Aku atau pun kau tak pernah tahu tentang hari yang akan datang. Maka, harapan hadir untuk membuatnya selalu terlihat, terdengar, dan terasa sangat indah. 

Aku atau pun kau telah berjanji bersama, 

"Saling mendoakan, saling percaya, dan saling menjaga" pesanku beberapa waktu lalu

Aku selalu percaya, bahwa jika aku menjaga maka kau pun akan menjaga. Dan ketika aku mulai berpikir untuk ingkar, maka kau pun mungkin akan ingkar. Maka, tak sedikit pun kucoba untuk ingkar dari jalan yang telah kupilih.  Siklus pikiranku akan seperti itu, berharap kau bisa menjaga terlebih untuk diriku sendiri. 

Pernah suatu ketika kau kemudian menegurku, mengingatkanku bahwa aku terlalu banyak memberi harapan atau janji, kemudian aku tak bisa menepatinya. Hari itu aku masih ingat dengan jelas, aku senang kau mengingatkanku akan hal itu. 

Di hari-hari selanjutnya, aku mulai mencoba untuk sedikit diam berusaha agar tak mengecewakanmu lagi. Dan hari ini, aku punya sedikit cerita tentang harapan. 

Di persinggahan baru ini, aku berada di tempat yang menyenangkan. aku bertemu dengan perasaanku yang sebenarnya. Perasaan yang sangat lemah dan tak berdaya sama sekali. Ketika dipertemukan dengan beberapa rupa yang terlihat sendu karena ditinggalkan, dibiarkan hidup dengan orang yang tak di kenal sebelumnya. Aku membayangkan banyak hal, termasuk melihat bayangan yang selalu kuharapkan. 

Kita tetap tertawa di balik jendela, meski diwajahmu atau diwajahku terlihat keriput yang mengepung. Kau tetap menemaniku dan membiarkan aku bercerita walau kadang membosankan. Kau tetap mendengarkan keinginan-keinginanku  yang aneh. Kau tetap menegurku, dan selalu menjaga rasa itu. 

Aku menahan bulir air mata, agar tak terlihat orang lain. Aku punya keinginan besar untuk mewujudkan keadaan itu, selalu bisa. Kau mungkin bisa sedikit membayangkan rasa bahagai yang menderu ketika membayangkan dan berada dalam atmosfer seperti itu. Kadang aku tertawa melihat mereka, sesekali merasa sedih. Mereka akan mengajarkanku untuk lebih kuat dari sebelumnya. Jauh lebih dari apa yang kau duga sebelumnya. 

Kondisi ini pun sebenarnya membuatku telah merasa kuat, ditambah dengan rupa-rupa mereka. Aku seperti melihat cermin yang sangat luas. 

Bantu aku untuk menjaga kata-kata ini, menjadi rangkain peristiwa yang nyata. 

Bahwa kita akan menua bersama. Lepaskan resahmu bila aku akan mati muda, takdir selalu memberi yang terbaik. Menyengkan bisa menulis perasaan, dan harapan. Akan lebih menyenangkan saat kita benar-benar menemukan harapan itu lahir dalam kenyataan. 

"Tak ada yang akan mati, kita akan berpindah tempat dari persinggahan pertama ke persinggahan selanjutnya" 

"Harapan selalu bisa terjaga, lalu menjadi kekuatan untuk menyulam kenyataan" 

"Jagalah dengan rasa yang telah ada, aku yakin kita bisa. Lindungi rasa itu"

"Kuatlah untuk rasaku yang semakin kuat untukmu" 








Minggu, Oktober 14

Keluarga


Kupeluk keinginanmu untuk memlukmu sangat erat.

Aku ingin sedikit bercerita tentangmu, tentang apa yang kualami beberapa hari terakhir ini. Saat sepasang kekasih yang telah merajut tali kasih dalam waktu yang lama datang menjemput. Aku tak pernah mengenal mereka sebelumnya, kecuali saat perkenalan di tempat yang kemarin. Mengenal mereka dari beberapa kalimat, di atas selembar kertas A3 dengan warna tulisan hijau. Dan saat melihat kertas itu, aku langsung mengambil kamera dan mengambil gambarnya. Sebagai harapan agar inilah yang menjadi tempatku. Dan akhirnya, ya.

Kau tahu apa yang terlintas di benakku saat pertama melihat mereka.?

Aku melemparkan jauh imajinasiku ke masa dimana kau dan aku telah bersama, dalam ruang yang jauh lebih dalam. Entah mengapa, setiap kali aku melihat mereka aku mengingat masa-masa itu. Jauh dalam-dalam pikiranku menjamah ruang yang tak bisa terjamah. Aku serasa mengenal kehidupan yang seperti ini.
Aku merasa sangat kuat, dan percaya akan semua yang pernah kukatakan padamu.

Ada banyak kesamaan yang kita miliki. Mereka juga pecinta buku, pagi ini aku dan mereka berkunjung ke beberapa toko. Dan kulihat mereka mencermati deretan buku dengan sangat tajam. Mereka berdua,mencintai buku. Mereka tertawa, dan saling menjaga. Aku ingin seperti itu, bahkan lebih dari itu.

Aku mengenal mereka secara batin, mungkin Tuhan tengah mengajarkanku untuk hidup seperti mereka. Bahkan lebih dari mereka lakukan.

Terlebih rumah yang kau impikan, aku kembali membuka catatan kecil yang kita tulis bersama di taman kota. Rumah itu, seperti rumah yang aku tempati hari ini. Sederhana namun serasa sangat luas dan menyenangkan.
Mereka juga senang berkeliling dunia, aku melihat foto-foto mereka. Saat menjeleajah beberapa negara yang ada. Menyenangkan bisa bersama mereka.

Aku berharap kau masih akan selalu menjaga dan kuat disana. Jika aku kuat disini, kau juga mesti lebih kuat disana.

Disaat hari dimana aku harus berpisah dengan keluarga ini, bisa kupastikan aku menitihkan air mata. Kejadian yang sama ketika malam aku berpamitan denganmu akan kembali terulang.

Kuatlah dengan rasa yang menguatkan.

Jika setetes air matamu mencoba keluar, biarkan ia mengalir menyentuh dua belah pipimu.
Setelah itu, kuatkan semuanya.

Disini, aku tengah belajar untuk membuatmu menjadi lebih bahagia denganku.
Berkeluarga, #optimism

Rabu, Oktober 10

Kata dan Gula

Teruntuk kata yang kau lahirkan dari hati. Dalam diam kata-katamu tertanam rapi tanpa pernah aku pahami sedikit pun. Maafkan segala hal yang luput dari semua tingkahku, dari semua kabar tanpa tanya yang memperlihatkan bahwa aku tengah memperhatikanmu. 

Sejujurnya, sebelum kita mengalami kondisi seperti ini. Aku selalu ada di dekatmu, hampir menikmati seluruh jam dalam sehari. Perhatianku, atau segala hal yang saat ini kau rindukan ada pada saat- saat kita bersama. Entah, hari ini aku salah menempatkan sikap atas hari yang seperti ini. Satu hal yang mungkin menjadi kesalahanku, dan kemudian aku tersadar setelah membaca rentetan kalimat yang kau tuliskan. Sebelumnya, aku mencoba untuk hanya bertanya kabar dan bagaimana? Sekedar bertanya, tak lebih dalam. Kupikir dengan itu kau bisa sedikit bebas, dan merasa bahwa aku telah percaya padamu. Sebab kau tahu, bahwa kadang aku banyak tanya dan permintaan yang tak jelas hingga aku merasa aku telah mengurungmu dalam keinginan yang kadang kau tak pahami.  

Perhatian itu, MAAF. Aku sadar aku salah, dengan kesibukan yang ada hari ini. Dengan kondisi seperti ini, aku masih bisa untuk selalu memberimu kabar. Terlebih untuk perhatian, tegur aku kala kau tak mendaptkan apa yang kau inginkan. Aku akan mengambilkan gula, hingga teh hangat yang kau sedu kembali manis. Aku berharap agar kau tak menyuruh orang lain untuk memberi gula. 

Disini, aku tengah berusaha untuk lebih dekat denganmu. Jarak akan membuat rasa itu semakin kuat, jauh lebih kaut. 

Esok, aku mulai menuju persinggahan baru. Entah ada wifi atau tidak. Namun ketahuilah, disini aku selalu berpikir untuk segera memilikimu seutuhnya. 

Semoga beberapa harapan dalam surat ini, bisa menjadi gula.
:D

Kamis, Oktober 4

Karena Cinta

Hari ini... Adalah lembaran baru bagiku
Ku disini... Karna kau yang memilihku
Tak pernah kuragu akan cintamu
Inilah diriku dengan melodi untukmu

Reff :
Dan bila aku berdiri tegar sampai hari ini
Bukan karna kuat dan hebatku
Semua karena cinta, semua karena cinta...
Tak mampu diriku dapat berdiri tegar, terima kasih cinta

Inilah diriku dengan melodi untukmu

Dan bila aku berdiri tegar sampai hari ini
Bukan karna kuat dan hebatku
Semua karena cinta, semua karena cinta...
Tak mampu diriku dapat berdiri tegar, terima kasih cinta

Dan bila aku berdiri tegar sampai hari ini
Bukan karna kuat dan hebatku
Semua karena cinta, semua karena cinta...
Tak mampu diriku dapat berdiri tegar, terima kasih cinta

Terima kasih cinta...

Aku Rindu...


Sejauh mana langkah ini akan pergi?

Sejauh mana mimpi itu akan memberi kita kabar kemenangan?

Sejauh mana kita mendapatkan apa yang belum kita dapat hari kemarin?

Sejauh usaha kita untuk mencapainya.

Kita memasuki lembar yang baru dan mencoba untuk belajar menuangkan kata rindu di dalamnya. Aku mulai menuliskannya, menulis, menulis, dan menulis. Aku kenal denganmu lewat kata, dan aku akan menjagamu dengan kata, dan lebih dari kata.

Usaha yang akan kita lakukan adalah langkah yang mesti untuk kita raih. Ada banyak lembaran yang mesti kita tulisi dengan kata demi kata. Selama kau masih selalu ada, dan bisa menjaga semuanya, mimpi, harapan, tekad, dan niat positif, yakin saja...., “Kita Bisa”

Seperti perjalanan malam ini, sedikit lagi aku akan tiba di sebuah persinggahan yang dulunya kubaca dari sebuah buku. Aku juga akan mengalaminya, kau orang pertama yang selalu membuat saya yakin untuk bisa merasakan apa yang telah dirasakan orang-orang dengan mimpi menjadi penulis. Aku jadi penulis, dan kau jadi penulis. Kita kurangi berbicara, dengan lontaran kata yang kadang tak perlu diucapkan di hari yang senang mengganggu, atau kita terjebak waktu dan berlalu dengan jejak yang tak pernah berarti.

Kita akan selalu, selalu menjalani lembaran demi lembaran yang akan kita hadapi.
Sebelum beranjak tidur, aku kembali sedikit membayangkan saat pertama kau menuliskan formulir pendaftaraan itu.

“Kau menuliskannya dengan cinta ya?” J

Tak perlu kau jawab, kecuali senyummu tiba-tiba datang.
Tulisan yang kau berikan cinta, akan kubalas dengan cerita demi cerita.
Aku percaya, tahap demi tahap akan dapat kita lalui. Pikiran kadang mengajak kita untuk mundur dan berhenti. Tapi, dengarlah perasaan itu, keinginan dan kekuatan mimpi yang ada.

“Berusahalah dan terus berjuang, bersama kita bisa!!!”

Untuk semua yang kau berikan, akan kutuliskan cerita-ceritaku dengan hati untuk hati yang senantiasa menanti. J

Aku rindu...

Senin, Oktober 1

Optimislah


Selamat Pagi...,
Pagi ini ada waktu yang lebih panjang dari kemarin, aku dan beberapa orang yang berada di persinggahan ini, senang dengan itu.

Aku menulis, sejak beberapa hari yang lalu namun belum sempat mengirimnya dan memperlihatkan padamu.

Dan pagi ini, anggap ini adalah surat pertama dariku. Untuk mendekatkan rasa yang ditantang jarak agar tetap menatap masa dengan lebih tenang.

Seminggu yang lalu, aku menulis beberapa paragraf, mencoba untuk menerangkan ketakutan demi ketakutan yang akan terjadi. Namun kuurungkan niatku untuk melanjutkannya, setelah aku percaya pada waktu dan pada dirimu yang selalu berusaha menyatu.   Dan akan setia pada kata-kata yang kau lukiskan dalam kanvasmu.

Kita mulai melakukan peran kita masing-masing, yang pasti kita tetap menjaga apa yang telah kita jalani. Pahami dan temukan semua yang selama ini kita belum temukan.

Kupikir malam itu adalah malam terakhir kita bertemu di tahun ini, tahun 2012. Seperti tweetmu, kita akan bertemu di tahun berikutnya. Inilah warna baru yang mesti kita jalani dengan mengambil hikmah dari setiap episode yang akan kita jalani. Malam itu, maaf atas beberapa kata yang tak sempat untuk kuucapkan padamu. Bahkan aku terlihat begitu lemah dan tak mampu menguatkan, kau yang menguatkan malam itu. Aku kalah, dan belajar darimu.

Beberapa kalimat ingin kusampaikan malam itu, namun tak bisa untuk kuungkapkan dengan jelas. Aku masih terkurung di ruang yang murung, hingga kau berulang kali memanggilku lalu aku tersenyum. Di setiap senyum yang kulahirkan malam itu, kutitipkan harapan. Kita tak pernah tahu apa yang terjadi hari esok, nanti atau beberapa jam kemudian, dengan itulah harapan hadir dan membuatku selalu optimis.

“Saling mendoakan, saling percaya, dan saling menjaga”

Kemarin aku menemukan kalimat dari seseorang teman yang berargumen dalam kelas, aku mencatatnya kemudian membacanya berulang-ulang.

“Kita punya ketakutan masing-masing, namun ketakutan itu dapat dihilangkan dengan adanya rasa percaya”

Selamat beraktivitas hari ini,

Kau mengerti aku. Selalu mengerti, semua pengertianmu itulah yang takkan pernah membuatku berhenti untuk merindu kala kita berada pada posisi seperti ini.

Namun, nikmati saja. Disinilah kita saling menjaga, saling bertitip harapan pada kalimat yang selalu akan mengerti dengan keinginan kita.

Oiya, saya lupa. Bahagia di minggu kemarin salah satunya dengan terbitnya tulisan duet kita. Ini langkah awal, #optimism.

“Mimpi itu sangat mudah diraih”, kata seorang kawan dengan rasa optimis.  

Kita akan Terus menulis...., menulis bersama. 

Senin, September 17

Berani Itu Ajaib

Aku tak pernah berani memperkenalkan perempuan kepada ibuku, kecuali kau.

Apakah kau pernah mengerti kenapa aku punya keberanian itu?

Tak lain karena kau sendiri yang mengajarkanku. Hingga aku kemudian menyatakan bahwa berani itu ajaib.

Dan beberapa minggu terakhir ini, aku sering melontarkan tiga kata itu. Meski aku belum bisa menjelaskan mengapa berani itu kusebut ajaib.

***

Aku punya banyak janji di masa depan, yang entah akan kutepati atau tidak. Kau rajin tersenyum saat mendengarnya, bahkan tak jarang kau tertawa. Bahkan kau mungkin sudah pernah merasa kecewa dengan sikapku yang kadang memberikan janji namun teringkari oleh berbagai hal.

Saat ini, aku tak berani berjanji apa-apa kepadamu. Aku mulai belajar untuk berjanji kepada diriku sendiri. Karena aku sadar, dengan aku berjanji pada diriku sendiri otomatis kau akan lebih tenang. Janji itu adalah keberaniaan, yang mesti menjadi penerang dalam ruang yang pernah gelap gulita.

Beberapa hari terakhir ini, aku sering melontarkan pertanyaan yang tak berkualitas. Tak jarang alismu berkerut, wajahmu kusam, senyummu terbenam oleh kecewa yang kuundang sendiri. Bukan bermaksud untuk membuat seperti itu, hanya saja aku tengah berusaha untuk menenangkan diriku. Perasaan ini, baru pertama kali kualami. Debaran yang suaranya kadang hadir di malam yang kemudian membangunkanku tiba-tiba. Kau, serasa ingin pergi dan aku tak punya kekuatan untuk menahan.

Setiap kali perasaan itu datang, aku membaca tulisan-tulisan yang kau tujukan untuk hatiku. Perasaanku kuat untuk selalu bersamamu.

Kupikir, ini hanyalah efek dari waktu yang mengundang peristiwa. Perasaan ini, bukan lagi perasaan yang biasa.

Aku ingin kau menemaniku untuk senantiasa merawat rindu setiap kali jarak menghadirkannya, atau waktu menuntutnya.

Akupun demikian, senantiasa akan menuturkan rindu dalam kata. Agar lebih menenangkan dan menyenangkan.

Beberapa hari yang lalu, aku egois karena memintamu untuk selalu bersama.

Maafkan permintaan itu, tak ada maksud untuk mengganggu aktivitasmu. Seolah hanya aku yang ingin menang sendiri, tanpa membiarkanmu bebas.

Beberapa hari yang lalu, aku masih rajin bertanya tentang jalan demi jalan, arah demi arah. Lalu kau menegur dengan nada yang sedikit tinggi. Kau sering menegurku, dan aku senang dengan caramu.

Aku hanya ingin bilang, jika beberapa hari kedepan aku terlihat aneh. Itu adalah caraku untuk mengeja waktu yang mulai melemparkan resah.

Dimana kau?

Kau dimana?

Aku berterima kasih atas segala hal yang kau berikan.

Caramu menemaniku, selalu membuatku rajin merindu.

***

Ketika ibuku kemudian mulai bertanya, bagaimana jika dia meninggalkanmu (menikah dengan orang lain?) ?

Aku menjawabnya dengan acuh, sebab aku paham betul bahwa kau telah memantapkan ruang itu untukku. Aku juga sudah tak pernah berpikir jikalau kau akan seperti itu.

Bukan bermaksud tak peduli, namun aku telah menempatkan harapan pada hati yang kau hadiahkan. Aku berani mengatakan kepada ibuku, bahwa kaulah perempuan yang akan menjadi menantu yang baik baginya.

Pilihanku selalu baik, terlebih memeilihmu.

Aku berani, karena berani itu ajaib. Jika kau belum mengerti tentang tiga kata itu. Akan kujabarkan padamu, di satu jam setelah acara resepsi pernikahan kita selesai.

#optimism

Rabu, September 12

Jejak Bahagia


Mengikuti berbagai kegiatan dan menemukan hal-hal baru adalah hadiah Tuhan yang tak terhingga. Di beri kesempatan untuk menginjakkan kaki ke beberapa tempat menjadi pengalaman tersendiri yang bisa membuat kita belajar banyak hal untuk memperbaiki pribadi. Berkunjung dari satu persinggahan ke persinggahan baru, menikmati udara yang berbeda, desiran angin di berbagai tempat selalu berbeda di telinga.


Aku menikmati segalanya dan selalu bersyukur. Tuhan selalu memberi hadiah untuk kita. Bahkan dalam kejadian terburuk pun selalu ada bingkisan yang bisa kita buka dan pelajari dengan lebih bijak.

Beberapa tahun yang lalu, aku selalu merasa perjalanan ini adalah jejak-jejak kesepian. Di setiap persinggahan kadang aku mengeluh, kesendirian kadang mengundang sedih dan beberapa orang melihatku tertatih.

Aku menikmati dan tersenyum. Dan beberapa orang menilai aku tersenyum dalam luka.

***

Sekarang, kau telah berani untuk mengambil keputusan. Maafkan untuk segala hal yang telah kujalani dan yang telah kuberikan. Yang membuatmu masih terkesan ragu, tidak menjanjikan, tidak ada konsisten, kadang aku berubah, masih dipahamkan berulabg kali, kadang masih sulit percaya, dan berbagai hal yang telah membuat wajahmu kusam.

"Niscaya, kamulah..."

Aku menuliskannya diatas hamparan doa yang wajib kita sentuh bersama. Disana ada persinggahan  yang Tuhan sediakan untuk kita.

Keyakinan itu semakin keras, menggilas pesimis.

Kita punya jejak bahagia, dan akan selalu bahagia.

Kita adalah kita, sepasang hati yang terpaut dalam beberapa untaian kata.

Kau pasti mengeri...

Selasa, Agustus 28

Telah Berusia

Kemarin masih terekam jelas dari ingatanku, setelah semua berlalu dengan warna yang penuh dengan suka duka. Hari ini menjadi masa yang paling aku tunggu, tentang hari yang menjadi penanda akan usia hubungan kita berdua. Sebelumnya aku selalu mengira bahwa hari ini tak akan pernah ada, hari dimana aku merdeka dengan segala risau masa lampau. Aku terjajah dengan pikiran yang samar-samar suka memperdengarkan gelisah pada pikiranku. Sesekali aku merasa akan tersesat dengan alur yang kadang kala ingin melihat aku putus asa dan berhenti di jalan yang sebenarnya masih sangat panjang.

Hari ini aku mulai merasakan bahwa yang selalu kau katakan benar adanya. Sebelum dan sesudah hubungan kita berusia, semua telah bertutur tentang perasaan yang nantinya akan selalu saling menguatkan. Kita senang melempar sejarah, lalu menangkapnya dengan cerita yang mengundang kita untuk bertukar senyum lalu kemudian bertukar tawa.

28 Agustus 2011, setahun yang lalu kita sepakat untuk menjadi sebuah partner kerja. Aku enggan mengira ini adalah hubungan yang bernama pacaran. Berdasarkan catatan sejarah yang pernah kualami, pacaran hanyalah rentetan peristiwa yang penuh dengan dusta kemudian berakhir nestapa. Semua akan berlalu dengan sangat singkat. Maka, aku selalu menyebutmu sebagai seorang partner yang akan setia. Hubungan yang spesial, teristimewa dan akan kujalani sekali dalam hidupku.

Kemarin aku kembali mengingat peristiwa demi peristiwa yang kemudian membawa kita bermuara pada perasaan yang sama. Beberapa orang sempat pesimis dengan masa yang akan kita hadapi. Lalu beberapa orang juga optimis bahkan senang melihat masa yang telah kita jalani, dan masa yang akan selalu kita nanti untuk disambut dengan ceria. Kita akan selalu berterima kasih pada mereka yang rajin bercerita tentang apa yang dilihat dari perjalanan sepasang hati kita. Dua hari yang lalu, kita sempat berseteru hingga bukan lagi tawa yang hadir. Saling bertanya lalu beradu mengadu namun semua dapat terlewati.

Esok akan menjadi harapan, dan akan selalu kita dambakan. Untukmu, dan semua apa yang ada dalam pikiran dan perasaanmu, tetaplah menjaga masa. Semua telah berusia, jelas akan lebih baik dari sebelumnya.

"Percayalah", katamu.

Dan aku kemudian percaya, meski kadang kau ragu bahwa aku percaya.


“Terima kasih atas semua yang kau berikan dan selalu menguatkan”

Salam dari partnermu,

si pecemburu yang senang berburu senyum di paras wajahmu.

Jumat, Agustus 24

Perjalanan

Suatu hari kau bertanya tentang kabar yang belum pernah kupikirkan sebelumnya. Keadaan tentang harimu yang selalu menemani hadirku ataupun sebaliknya. Lalu kabar dimana semua tak seperti biasanya. Aku sulit menjelaskannya, hingga aku merasakan apa yang kau rasakan.

Di perjalanan pagi tadi dengan menempuh jarak sekitar 164 km, aku mulai merasakan kegamangan yang hendak tiba ataupun kadang kau menyembunyikannya. Entah aku salah memahami atau tidak, namun perjalanan pagi tadi mengundang aku bertamu di kabar yang kau pernah pertanyakan.

Kemudian suatu hari, engkau mengeluarkan pernyataan yang menjadi pertanyaan bagiku.

Benarkah kabar yang dulu kau tanyakan, tentang kabar yang membuatmu resah kemudian kau damaikan begitu saja?

Dengan santainya kau berkata, “dulu saya cuma pusing, tidak stabil” singkatnya seperti itu.

Diperjalanan, awan mendung, kemudian bulir tetesan air dari langit jatuh dengan iramaNya. Sesekali bulir itu menepuk dua belah pipiku. Hingga aku tak mampu membedakan air yang datang menepuk dan air yang jatuh dari pelupuk mataku sendiri.

“Aku benar-benar kembali pada pertanyaan yang lama kau hiraukan”

Bila aku berada pada posisimu, pertanyaan yang sama akan kulontarkan. Namun akan sulit untuk kudamaikan sendiri.

Kesalahanku karena aku tak sempat menjamah benak yang kau himpun, maaf.

Apa yang kupikirkan dalam perjalanan tadi, kembali bisa aku rasakan saat tiba di kamarku. Lalu terulang kembali, kupikir hari ini adalah hari merasakan kegamanganmu bila waktu itu telah tiba.

Mungkin karena aku yang terlalu khawatir, namun kenyataannya, aku sulit menjamah kabar yang pernah kau pertanyaankan. Semoga esok aku selalu bisa meredam apa yang selalu memberontak, yang kadang menghiraukan namun sebenarnya bisa menjadi damai.

Aku telah merasakan hari yang kau sering pertanyakan. Maaf ketika aku kadang gagal menjamah segala hal yang muncul tiba-tiba di benakmu.

Selalu, aku akan selalu menghadiahkan apa yang kau damba dari benak masa lalu, sekarang dan di masa yang tak bisa tertebak namun akan selalu kita jalani bersama. #optimism