Selasa, Desember 27

Gundah

Diamkan aku pada malam yang tenang, ajari aku tentang senyum yang terluka.

Kala aku menjadikan masalah itu raja dalam pikiranku, maafkan aku telah mengusik damaimu. Kuharap, kau masih mengerti dan memaafkanku malam ini.

Sebelum pagi membawanya ke hari yang lebih mengusik pikiranku.

Setelah malam menguburnya bersama gelap, dan biarkan aku menghiasi harimu dengan caraku yang sederhana.

Mungkin sederhana, ataukah tidak berarti sama sekali.

Namun, aku dan sebuah kesederhanaan akan menutup sepimu yang telah cukup letih menemanimu.

Saatnya aku yang menuturkan kata-kata yang indah dan bisa membuatmu lebih baik. Tapi, jika itu berbeda dengan inginmu atau inginku, Maafkan!

Aku menjadi salah dalam kesalahan yang telah kuselipkan di sudut senyum yang layu. Aku menitipkan harapan pada angin yang berlalu, kerap aku mudah mengerti dengan semua harimu. Aku kalah dengan ego yang tak bisa kupahami.

Maafku pada senyum yang telah kau palsukan,

Maafku pada kata-kata yang tak berdosa,

Maafku pada diam yang menggundahkanku,

Maafkan segalanya,

Untuk malam yang selalu kau lukiskan dalam mimpiku.

Kuharap senyummu menjadi harap yang sangat bermakna malam ini,


Sejatinya, aku menanam gundah yang harum malam ini.

Padamu, bisakah kau menggagalkan tanaman itu?

1 komentar: