Jumat, Desember 16

Cin(T)a menguatkanku

Meskipun sore tadi kurang menyenangkan, namun aku telah menemukan sesuatu yang berbeda. Sebelum awan hitam menggumpal di langit aku telah menemukannya, kemudian hujan mencoba kembali menjelaskan dalam setiap tetesannya. Sejauh ini aku selalu merasakan itu, saat bersamamu dimana aku mampu melupakan setiap sepi.

Yang kupahami saat ini adalah cinta mampu memberi energi lebih. Kehadiran dan kerinduan selalu menakarkan sebuah arti yang menjelma dalam singgasana pikiranku. Dimensi yang telah kucoba ciptakan mampu melampaui batas dari segala yang kupikirkan sebelumnya. Biarkan aku terus disini, apapun pilihan yang waktu berikan, nafasku ingin kubiarkan berhembus dalam sebuah rasa yang begitu dalam menelusuri jiwa yang selalu mendamba ketulusanmu. Tak peduli dengan apa yang mereka katakan tentang kita. Cerita ini adalah dimensi kita, dan akan kujalani.

Aku telah letih mengurai masa lalu, pencarian sebelumnya selalu kuhentikan sendiri. Kali ini berbeda, aku tak akan pernah menghentikannya, meskipun kau mencoba berhenti. Bagiku, kematian akan tiba saat kau mengabaikan dimensi atau mencoba untuk berpindah dimensi lain. Entah kematian itu apa, mungkin kekososngan yang telahir dari kekosongan, dan kekosongan itu sendiri yang nantinya akan mengisi kekosonganku sendiri.

Namun sejauh ini, aku percaya tentang segala apa yang kau katakan dan lakukan untuk menjelaskan cinta yang putih. Sekiranya, aku akan selalu percaya dengan hari-hari yang akan kita lalui, adapun masalah persepsi adalah hal yang wajar. Ketidakstabilan emosi dan kematangan berpikir kadang tidak hadir di saat waktu yang dibutuhkan. Tulisan ini menjadi pengungkapan rasa bersalahku dalam memahami hatimu, salah saat menerima perhatianmu, dan salah dalam menyampaikan pesan yang ambigu.

Disaat kondisi raga mungkin terasa lelah, satu hal yang kusampaikan sore itu bahwa hadirmu telah menguatkan batinku. Bahwa cin(T)a telah menguatkanku,

Namun aku gagal menyampaikannya. Sekali lagi, maaf untuk sore yang menjadikan semuanya agak berbeda.

*mataku enggan terpejam, meskipun malam dan rasa kantuk membentangkan selimutnya di langit malam, selalu kupandangi Nokia 1202 itu, berharap satu pesan darimu datang menyapa. Kuingin kau menjadi indah, dan cerita ini akan menjadi indah saat aku benar-benar memilikimu. Tuhan akan mendengar pintaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar