Selasa, November 1

Seketika,

Terima Kasih atas kesabaran itu. Tetaplah untuk menemaniku merangkai harapan baru yang sempat terkubur. Bantu aku memahami apa yang belum aku pahami sebelumnya. Aku mencintai cinta yang telah hadir. Akulah ruang untuk ruang yang ada di dimensimu. Seketika, aku bisa terdiam sepi.

Dan maafkan aku yang sejatinya telah membuatmu harus berusaha beradaptasi dengan situasi yang rumit. Posisimu hari ini dan keadaan yang terkadang menyulitkanmu membuatku kadang merasa bersalah. Kadang aku menyalahkan diriku sendiri. Satu hal yang memberiku titik harapan adalah “kau” yang masih mampu tersenyum dengan keadaan yang menyudutkanmu, dan menggiringmu pada masalah yang berbeda dari sebelumnya. Seketika, kau bisa terdiam sepi.

Hari yang tak pernah kuharapkan hadir adalah saat kau menyerah dengan semua ini. Sadar atau tidak, kau telah membangun sebuah harapan yang kuat di dalam dimensiku. Suatu ketika, engkau berniat untuk meninggalkan itu, maka satu persatu kepingan-kepingan harapan itu akan terbang, pecah dan bertebaran. Hitamkan semua warna yang telah kau hadiahkan di setiap hari yang kusyukuri. Seketika, kau dan aku bisa terdiam sepi.

Sekali lagi terima kasih, aku tak akan memintamu untuk bertahan pada kondisi yang rumit. Suatu saat ketika kau menyerah, kembali aku akan tetap mendukung keputusanmu. Aku hanya ingin kau untuk merasakan harapan-harapan yang telah kubingkai dengan damai. Jika kau masih ingin bermain pada harapan itu, tetaplah optimis untuk menemukan bahagia yang sebenarnya.

Inginku

Maaf,

Berbahagialah dengan pilihanmu

Pilihanmu itu jangan sampai menjadi beban

Maaf, maaf, maaf,

Sesulit apapun itu, aku akan selalu disampingmu

Kuharap kau tak mengundang kelelahan

Tak melahirkan keputus asaan, dan tak berusaha memecahkan harapan itu

Aku terlahir bukan untuk menjadi beban,

Suatu saat jika aku telah menjadi beban, pilihlah jalan yang baru

Inginku, kau ada pada bahagia

1 komentar: