Minggu, November 20

Pesan Sore itu

Itu bukan ceramah sebenarnya, namun sinyal yang kuat untukmu. Sekaligus tamparan batin untukku. Untungnya aku imut dan mampu senyum kembali. ^^

Membaca pesan yang kau kirim sore itu, menghujam jantungku. Tepat dengan istilah yang selalu kau ucapkan, tentu akan lebih tepat lagi jika saya kombinasikan dengan “TERSENYUM DALAM LUKA”. Bisa saya bayangkan, waktu akan menjadi kejam dan rasa akan mati seketika. Tak ada yang bisa disalahkan kecuali saya sendiri. Saat hari itu tiba, mungkin di atas rumput yang hijau, akan kurebahkan harapku, aku terbaring lemah menatap langit yang biru.

Tak perlu membayangkan itu.

Sejatinya, aku ingin menemanimu. Pagi, siang , sore, malam, kapan pun engkau mau. Bahkan saat kau tertidur, aku ingin selalu ada. Aku akan ada saat kau terbangun, mendekapmu seolah esok aku akan pergi. Disetiap hangat jemarimu, kutitipkan rasa yang harus kau pahami. Aku ingin merangkum kisah ini dengan satu kata, kata yang saat ini kau pikirkan. Tak perlu kutuliskan disini. Ungkapkan saja dihati dan pikiranmu. Hubungkan pikiran dan perasaanmu pada ruang yang hampa. Akan kau temukan aku menantimu disebuah ruang yang selalu kau pertanyakan.

Dan kini kuharap kau mengerti, walau sekali saja aku tersenyum. Tak perlu lagi aku bersembunyi dari ke-aku-anku. Tak perlu lagi aku mengingkari rasa sakitku, atau bahkan rasa sakitmu. Inilah kejujuran, bahwa rasa memang misteri. Terkadang pedih, namun apapun itu terimalah. Disegenap ruang jiwaku, tanpa harus aku berdusta. Aku ingin kau percaya denganku. Di dini hari yang sepi, aku bermain harmonika, mengirimkan pesan untuk pagi yang akan membangunkanmu.

Aku takkan pernah melepasmu, namun tak juga akan kupaksakan untukmu menantiku. Setitik pengertian akan selalu memayungimu. Kembali, jika esok mengubah waktu menjadi kejam maka aku akan lepaskan segenap jiwaku. Tanpa harus ku berdusta, kau akan memahamiku.

Dan kuharap kau menemuiku di ruang yang selalu kau pertanyakan, walau sekali senyum saja kuharap kau pahami. Cinta adalah kerelaan, pengorbanan, bahkan air mata.

*Cintaku adalah cin(T)a

2 komentar: