Sabtu, September 24

Setelah Rindu malam ini,

Langit menyebutnya kehampaan yang bertahta
meskipun seluruh bintang merangkai rasi keseimbangan

kalaulah malam mengerti kedipan-kedipan cahaya bintang
terjawablah sudah setelah sebulan lalu waktu menyembunyikanmu

aku dan sebuah harap yang selalu kutitip padaNya
menantang hari yang mencoba menindas

untuk Rindu hari I

Ingatlah saat kau mengajakku melukis malam
aku beranjak menemuimu di penghujung mimpi-mimpi
saat aku tengah menikmati kesendirianku di bangku tua
dan kanvas yang kau berikan akan menjadi indah pada setiap malam
bintang pun harus mengakuinya, bahwa kau dan aku adalah satu

untuk Rindu hari II

Masihkah kau rindu?

Kuharap matamu selalu menatap langit
untuk mengikat hati yang tak ingin lepas
jagalah dalam senyum yang damai
sedamai sabda laut yang mengutarakan rindunya
untuk menyentuh taman langit
rindu yang abadi

untuk Rindu hari III

Kau bisa mengaduh pada gelombang
yang memasuki sudut rahasia langit
mengabarkan rindu pada samudra yang kusinggahi
aku mencarimu dalam titik-titik cahaya
menyatukan lukisan yang terpisah dalam gelap

untuk Rindu hari IV

jangan mencoba membunuh atau meringkus rindu itu
biarkan kisah menuturkan kata yang mengundangku
aku menemuimu di masa silam yang tak kau pahami
aku menemanimu di masa sekarang yang kau sadari
aku mendampingimu di masa depan yang harus kau rindukan

Untuk Rindu hari esok....

Langit masih menyebutnya kehampaan yang bertahta

Aku ingin kau tetap menemaniku melukis malam yang bertabur rindu
hingga esok mengizinkanku untuk mendampingimu selalu
setelah rindu-rindu itu dipertemukan

Sejatinya, kerinduanku adalah ketulusanku
ketulusanku adalah harapanku

aku telah mencintaimu dengan indah
sangat indah...

aku yakin akan mendampingimu di masa depan

dan kuharap kau merindukan hari itu

Harapnku kutitip padaNya,

untuk cin(T)a

Tidak ada komentar:

Posting Komentar