Rabu, September 28

Secarik Kertas Rindu

Waktu telah menempatkan rindu pada ruang yang terjaga. Aku pun merasakan itu, apa yang kemarin belum sempat terucap. Aku telah rindu pada hari dimana aku mampu memiliki. Namun itu bukanlah sesuatu yang mudah. Aku harus belajar akan percaya, bagaimana cara untuk mempercayai semua yang kau harapkan. Tidak untuk membuat hari ini sesulit roda yang tak lagi berputar, namun hanya ingin mengalirkan cerita ini bagai air pegunungan yang mencari titik-titik dimana dia akan menenangkan dan menyejukkan tanah yang selalu damai dengan bumi.

Ketika aku harus menerima badaiku sendiri, aku akan tetap berdiri menghadapi. Disaat mungkin kau tengah menyusun langkahmu yang nyata daripada aku. Aku tidak akan pernah kalah dengan mereka, mereka yang tidak mengerti. Saat ini aku bukanlah seorang peragu, yang hanya menikmati gerimis mengantarkan senja semakin terluka.

Mereka yang menganggap cerita ini hanyalah rekayasamu adalah ruang dimana aku belajar untuk setia pada kepercayaanku sendiri. Aku mengenalmu dalam detik yang menyenangkan, dan aku tidak ingin pergi saat menit mulai menyebut dirinya berkuasa mengalahkan detik yang mendekatkan hatiku pada hati yang kau miliki. Mereka yang menganggap cerita ini hanyalah rekayasamu adalah hari yang menguji ketulusanku, saat itu semua benar maka aku telah melukiskan ketulusanku pada secarik kertas putih hadiah dari musim semi.

Aku rindu pada hari dimana orang-orang itu mengerti apa yang ingin kau sampaikan. Namun jika kerinduan itu harus terobati oleh waktu yang lama, biarlah.Secarik kertas rindu kiranya akan kukirim pada hari yang akan menjaga harapanku.

*Yakinku, rekayasa itu tak pernah ada. Namun, jika hari mengirimkan warna yang berbeda dari harapku. Maka aku pun akan menuliskan rasaku pada secarik kertas sepi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar