Kamis, September 15

Menyakitkan apa?

Cinta itu sendiri yang akan menyakiti cinta!

Serumit apapun masalah hari ini, dan seberat apapun kaki ini melangkah aku masih tetap tersenyum untuk cin(t)a. Selalu indah, untuk hari yang menjadi lebih berarti karena telah memiliki namun mungkin tidak dimiliki. Menentukan bahagia hanyalah tertanam pada ruang yang mengosongkan prasangka buruk, kepercayaan telah mengindahkan apa yang mereka anggap tak indah dan akan menyakitkan dengan indah pula.

Terlebih saat menyadari artiku pada cinta yang telah mencintai, di saat aku belum memberi apa-apa dan tak tahu harus memberi apa agar cinta itu bisa lebih berarti dan dimiliki. Ataukah cinta itu hanya akan menjadi masalah, dan mengganggu ruang bahagianya. Semua ini tertahan pada langkah yang kian meruntuhkan harapan, dan jika mereka menganggap semua akan menyakitkan. Peringatan atau apa yang mereka ingin katakan, tentang kepedihan yang mampu lebih indah dari senja yang berhias pelangi. Lembayung merambat pada warna yang bersiap menjauhkan semuanya dari apa yang tidak kuharapkan datang.

Tentang hadirku yang mereka anggap hanya akan berujung sedih dan menyakitkan adalah mimpi yang indah. Bagi aku yang mungkin disakiti oleh waktu yang selalu rapi dengan dokumen rahasianya, tetap kunantikan hari itu. Dan tetap kuharapkan hari itu terhapus olehNya. Kemungkinan terburuk memungkinkanku untuk mengatakan cinta akan menyakiti cinta. Dia pernah bercerita tentangnya, yang telah lama menghilang dan memberikannya ruang yang begitu indah. Awalnya kuingin dia mampu menempatkan cintanya pada ruang yang selalu di rindukannya. Namun, itu berbeda.

Aku abnormal, manusia yang abnormal. “Katakan kepedihan itu bahagia, saat melihat dia bahagia dengan orang yang telah ditunggu jauh hari sebelum kusebut hadirku adalah cinta”.

Jelas akan menyakitkan melihat orang yang dicintai lebih memilih cinta yang lain, namun satu sisi kebahagian itu saat aku menyadari bahwa hadirku adalah masa-masa indah menantikan dia kembali.

Seandainya saja esok dia kembali, aku takkan heran jika dia jauh lebih memilihnya. Dan kuharap dia juga tak heran saat aku sepakat dengan keputusannya. Yang kupahami di hari-hari kemarin, kau menyimpan ruang yang terindah untuknya. Berharap dia datang dan menjadi warna yang menyatukan mimpi demi mimpi memasuki kenyataanmu.

Sampai kapan dia bertahan?
Sampai kapan Tuhan mengizinkanku?

Cintaku akan menyakitkan cinta, kuanggap bahagianya menjadi indah tanpa menyentuh pedihku. Bila saja waktu itu datang, aku bersiap menarik nafas yang panjang dan mengatakan, “Temukanlah cintamu di hatinya, yang jauh lebih berarti.” Kerelaan itu akan menjadi bahagia tersendiri untuk diriku yang mendamba hadirmu dalam setiap mimpiku.

*Jika hari itu tiba, perlahan aku menguburkan harap.

Terinspirasi dari ceritanya dan kata mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar