Rabu, September 28

Secarik Kertas Rindu

Waktu telah menempatkan rindu pada ruang yang terjaga. Aku pun merasakan itu, apa yang kemarin belum sempat terucap. Aku telah rindu pada hari dimana aku mampu memiliki. Namun itu bukanlah sesuatu yang mudah. Aku harus belajar akan percaya, bagaimana cara untuk mempercayai semua yang kau harapkan. Tidak untuk membuat hari ini sesulit roda yang tak lagi berputar, namun hanya ingin mengalirkan cerita ini bagai air pegunungan yang mencari titik-titik dimana dia akan menenangkan dan menyejukkan tanah yang selalu damai dengan bumi.

Ketika aku harus menerima badaiku sendiri, aku akan tetap berdiri menghadapi. Disaat mungkin kau tengah menyusun langkahmu yang nyata daripada aku. Aku tidak akan pernah kalah dengan mereka, mereka yang tidak mengerti. Saat ini aku bukanlah seorang peragu, yang hanya menikmati gerimis mengantarkan senja semakin terluka.

Mereka yang menganggap cerita ini hanyalah rekayasamu adalah ruang dimana aku belajar untuk setia pada kepercayaanku sendiri. Aku mengenalmu dalam detik yang menyenangkan, dan aku tidak ingin pergi saat menit mulai menyebut dirinya berkuasa mengalahkan detik yang mendekatkan hatiku pada hati yang kau miliki. Mereka yang menganggap cerita ini hanyalah rekayasamu adalah hari yang menguji ketulusanku, saat itu semua benar maka aku telah melukiskan ketulusanku pada secarik kertas putih hadiah dari musim semi.

Aku rindu pada hari dimana orang-orang itu mengerti apa yang ingin kau sampaikan. Namun jika kerinduan itu harus terobati oleh waktu yang lama, biarlah.Secarik kertas rindu kiranya akan kukirim pada hari yang akan menjaga harapanku.

*Yakinku, rekayasa itu tak pernah ada. Namun, jika hari mengirimkan warna yang berbeda dari harapku. Maka aku pun akan menuliskan rasaku pada secarik kertas sepi.


Sabtu, September 24

Setelah Rindu malam ini,

Langit menyebutnya kehampaan yang bertahta
meskipun seluruh bintang merangkai rasi keseimbangan

kalaulah malam mengerti kedipan-kedipan cahaya bintang
terjawablah sudah setelah sebulan lalu waktu menyembunyikanmu

aku dan sebuah harap yang selalu kutitip padaNya
menantang hari yang mencoba menindas

untuk Rindu hari I

Ingatlah saat kau mengajakku melukis malam
aku beranjak menemuimu di penghujung mimpi-mimpi
saat aku tengah menikmati kesendirianku di bangku tua
dan kanvas yang kau berikan akan menjadi indah pada setiap malam
bintang pun harus mengakuinya, bahwa kau dan aku adalah satu

untuk Rindu hari II

Masihkah kau rindu?

Kuharap matamu selalu menatap langit
untuk mengikat hati yang tak ingin lepas
jagalah dalam senyum yang damai
sedamai sabda laut yang mengutarakan rindunya
untuk menyentuh taman langit
rindu yang abadi

untuk Rindu hari III

Kau bisa mengaduh pada gelombang
yang memasuki sudut rahasia langit
mengabarkan rindu pada samudra yang kusinggahi
aku mencarimu dalam titik-titik cahaya
menyatukan lukisan yang terpisah dalam gelap

untuk Rindu hari IV

jangan mencoba membunuh atau meringkus rindu itu
biarkan kisah menuturkan kata yang mengundangku
aku menemuimu di masa silam yang tak kau pahami
aku menemanimu di masa sekarang yang kau sadari
aku mendampingimu di masa depan yang harus kau rindukan

Untuk Rindu hari esok....

Langit masih menyebutnya kehampaan yang bertahta

Aku ingin kau tetap menemaniku melukis malam yang bertabur rindu
hingga esok mengizinkanku untuk mendampingimu selalu
setelah rindu-rindu itu dipertemukan

Sejatinya, kerinduanku adalah ketulusanku
ketulusanku adalah harapanku

aku telah mencintaimu dengan indah
sangat indah...

aku yakin akan mendampingimu di masa depan

dan kuharap kau merindukan hari itu

Harapnku kutitip padaNya,

untuk cin(T)a

Minggu, September 18

Seperti Malam

Dan Malam
membungkam pagi yang masih beristarahat
memenangkan para bintang yang memejamkan sedihmu
dan langit melukiskan kegundahannya

Dan Bintang
meringkus tubuh raksasa titipan para dewa
sementara jari-jari langit tengah merajut kesalahan masa lalu
menumbuhkan kesepian yang meragu

Dan Angin Malam
melibas kepalsuanku yang bertahta dalam labirin yang bertirai
merusak jejak yang kuindahkan di balik awan hitam malam ini
ini atau itu, dan indahnya malam

Dan Kau,
cemburu pada Indahnya malam!

Bintang akan berpesta saat rerumputan mengundangnya
hadir menyatukan segalanya dalam malam
yang kian menenangkan...

Malam ini,

Bukan Diriku

Jangan biarkan gitar itu merebahkan badannya, kemudian jemariku menyapa sinarnya dan bernyanyi lagu ini.!

Bukan Diriku
oleh: Samson

setelah kupahami
ku bukan yang terbaik
yang ada di hatimu
tak dapat kusangsikan
ternyata dirinyalah
yang mengerti kamu
bukanlah diriku

kini maafkanlah aku
bila ku menjadi bisu
kepada dirimu

bukan santunku terbungkam
hanya hatiku berbatas
tuk mengerti kamu
maafkanlah aku

reff:
walau kumasih mencintaimu
kuharus meninggalkanmu
kuharus melupakanmu
meski hatiku menyayangimu
nurani membutuhkanmu
kuharus merelakanmu

dan hanyalah dirimu
yang mampu memahamiku
yang dapat mengerti aku

ternyata dirinyalah
yang sanggup menyanjungmu
yang lama menyentuhmu
bukanlah diriku

kembali reff

*Semoga kau mengerti aku dan perasaan ini.!!!

Kamis, September 15

Menyakitkan apa?

Cinta itu sendiri yang akan menyakiti cinta!

Serumit apapun masalah hari ini, dan seberat apapun kaki ini melangkah aku masih tetap tersenyum untuk cin(t)a. Selalu indah, untuk hari yang menjadi lebih berarti karena telah memiliki namun mungkin tidak dimiliki. Menentukan bahagia hanyalah tertanam pada ruang yang mengosongkan prasangka buruk, kepercayaan telah mengindahkan apa yang mereka anggap tak indah dan akan menyakitkan dengan indah pula.

Terlebih saat menyadari artiku pada cinta yang telah mencintai, di saat aku belum memberi apa-apa dan tak tahu harus memberi apa agar cinta itu bisa lebih berarti dan dimiliki. Ataukah cinta itu hanya akan menjadi masalah, dan mengganggu ruang bahagianya. Semua ini tertahan pada langkah yang kian meruntuhkan harapan, dan jika mereka menganggap semua akan menyakitkan. Peringatan atau apa yang mereka ingin katakan, tentang kepedihan yang mampu lebih indah dari senja yang berhias pelangi. Lembayung merambat pada warna yang bersiap menjauhkan semuanya dari apa yang tidak kuharapkan datang.

Tentang hadirku yang mereka anggap hanya akan berujung sedih dan menyakitkan adalah mimpi yang indah. Bagi aku yang mungkin disakiti oleh waktu yang selalu rapi dengan dokumen rahasianya, tetap kunantikan hari itu. Dan tetap kuharapkan hari itu terhapus olehNya. Kemungkinan terburuk memungkinkanku untuk mengatakan cinta akan menyakiti cinta. Dia pernah bercerita tentangnya, yang telah lama menghilang dan memberikannya ruang yang begitu indah. Awalnya kuingin dia mampu menempatkan cintanya pada ruang yang selalu di rindukannya. Namun, itu berbeda.

Aku abnormal, manusia yang abnormal. “Katakan kepedihan itu bahagia, saat melihat dia bahagia dengan orang yang telah ditunggu jauh hari sebelum kusebut hadirku adalah cinta”.

Jelas akan menyakitkan melihat orang yang dicintai lebih memilih cinta yang lain, namun satu sisi kebahagian itu saat aku menyadari bahwa hadirku adalah masa-masa indah menantikan dia kembali.

Seandainya saja esok dia kembali, aku takkan heran jika dia jauh lebih memilihnya. Dan kuharap dia juga tak heran saat aku sepakat dengan keputusannya. Yang kupahami di hari-hari kemarin, kau menyimpan ruang yang terindah untuknya. Berharap dia datang dan menjadi warna yang menyatukan mimpi demi mimpi memasuki kenyataanmu.

Sampai kapan dia bertahan?
Sampai kapan Tuhan mengizinkanku?

Cintaku akan menyakitkan cinta, kuanggap bahagianya menjadi indah tanpa menyentuh pedihku. Bila saja waktu itu datang, aku bersiap menarik nafas yang panjang dan mengatakan, “Temukanlah cintamu di hatinya, yang jauh lebih berarti.” Kerelaan itu akan menjadi bahagia tersendiri untuk diriku yang mendamba hadirmu dalam setiap mimpiku.

*Jika hari itu tiba, perlahan aku menguburkan harap.

Terinspirasi dari ceritanya dan kata mereka.

Kamis, September 8

Jemarimu

"Terakhir, kuharap kau mampu mengubah semuanya!"

Hari yang kemudian membiasakan cerita ini berjalan dengan sangat teliti. Memperhatikan setiap sudut ke sudut yang nantinya bisa meniupkan angin biru membahana menguasai reruntuhan rasa yang dulu terdengar membosankan (baca: menyedihkan). Semua telah terbantahkan jikalau kau mengurai satu per satu sepiku. Kau tetaplah rindu yang mengenang hadirnya rindu, aku percaya dalam setiap pijakan nafasmu tersebut kedamaian jika bersama rasa.

Malam ini kemudian indah, saat jemari berbicara bersama jemari yang saling merindu. Di tengah keramaian tawamu, aku semakin tenggelam menuju dasar ruang yang kau beri warna. Kau memungkinkan aku untuk mengubur kesepianku,

"Terakhir, kuingin kau mampu mencintaiku sepenuh hati!"

Semudah apa atau sesulit apa hari esok? Kau mampu memenangkan kesederhanaanku untuk bertemu bahagia. Bahagia yang sederhana,

Aku bisa sepanjang waktu menemanimu, sebab aku telah memutuskan untuk itu. Kecuali hari esok kau mampu temukan ruang sederhana yang mampu memberimu semuanya, aku tidak akan menahanmu, jika kau ingin kembali ataukah kau merasakan sesuatu yang harus kuterima dengan senyum, aku telah membebaskan rasa yang kau miliki, percaya bahwasanya sebebas apapun itu, kau akan tetap di ruang hatiku. Aku percaya dengan janjimu..., :)

Sepanjang waktu...

Jemariku mungkin merindukan jemarimu...
Matamu mungkin merindukan matamu...

bukan mungkin, tapi Ya.!!!

Kuyakin kau bisa sepenuh hati dan sepanjang waktu., mencintaimu adalah jalan yang menyenangkan. Tersenyumlah untuk hari esok yang lebih bahagia...

Aku mencintai Cin(T)a...

Jumat, September 2

Psikologismu Itu Sendiri.

Kemudian memandangi awan yang bertopeng kegelapan, sepertinya bintang mengusir setitik cahaya di pusaran angin yang mencoba menutup bulan sabit. Terpanggillah tanya pada suatu malam yang berhiaskan sepi, sebelum kau yakin untuk memilih mengisi ruang sederhana untuk mengubah semuanya, menjelma dalam kumpulan huruf yang bersenandung dalam kalimat berirama sendu.

Aku bukanlah sesuatu yang berarti, tapi kuharap kau mampu memberikan arti untuk cinta. Tidak semudah apa yang kau ungkapkan, sekiranya cerita ini akan menjadi beban saat kau belum memiliki keberanian. Berterima kasihlah pada ketakutan yang nantinya akan membuatmu berani secara perlahan, ini hanyalah permainan sederhana dari kondisi psikologismu. Di batas waktu yang tidak pernah kutentukan, dan tak bisa aku prediksikan, kau akan seperti ini. Mungkin...

Selalu, namun bagiku cukuplah seperti ini. Pertanyaanmu malam ini cukup hanya untuk hari ini saja, semoga aku tak akan membaca atau mendengar pertanyaan seperti itu lagi. Aku tidak pernah terbebani dengan masalah ini. Itulah yang menurutmu baik, dan kupikir memang seperti itulah seharusnya. Keadaan hari ini sudah kupertimbangkan, risiko itu adalah hadiah untuk hari yang selalu dilewati dengan kecerian tanpa berhenti melewati satu masalah.

Kau bisa menghidupkanku meski hanya di ruang yang sederhana, tanpa harus memberiku sesuatu. Kau bisa mencerahkan pagiku meski hanya di ruang sederhana, tanpa harus menjelaskan sesuatu. Yang kupahami, kau telah memberiku kepercayaan hari ini. Kepercayaan yang sejati adalah saat kau mampu memberi dan menjaga apa yang kau sebut kepercayaan itu sendiri. Aku selalu menunggumu untuk percaya dengan apa yang ingin kurasakan, apa yang sebenarnya ingin kurasakan akan kau pahami jika kau benar-benar menyambut rasa yang kuberikan. Namun, saat kau menganggap ini hanyalah beban, aku memilih abadi dalam penantian.

Kau berani melawan ketakutan, kau bisa memenangkan permainan psikologismu sendiri. Hari ini, biarkan semua mengalir dengan sederhana. Jika kemudian esok kupahami kau sulit atau bahkan tak mampu untuk melaluinya, tentu akan ada jalan yang lebih baik dibanding semua yang kita anggap baik.

*cin(T)a

Kamis, September 1

Aku, Kau, dan cin(T)a

Sepertinya aku memberimu apa yang tidak pernah ingin aku berikan pada siapapun, hingga waktu menepikan semuanya. Bukanlah sebuah kesalahan jika kuanggap kau satu warna yang berharga hari ini, maaf bukan hari ini tapi untuk beberapa waktu kedepan (baca: selamanya). Selang waktu berganti semua akan menjelaskan langkah demi langkah yang menguatkan semua yang ingin kugapai bersama rasa yang kau persembahkan.

Semua tidak sertamerta mendamba sebuah bahagia yang nyata, namun aku ingin kau mampu merasakan senyum yang kutitahkan bahagia di dalamnya. Kisaran beberapa detik lagi aku masih merumuskan hidup dalam imajinasiku, aku tidak ingin menjabarkan kesedihan dalam harimu. Cinta akan selalu berpihak pada hati yang tulus mencinta, cinta akan terus bertahan tanpa merasa terusik oleh waktu, asalkan cinta selalu kau hadiahkan kesetian terhadap cinta itu sendiri. Hadiahkan aku kesetian di setiap pergantian umurku, dan kuhadiahkan lebih di setiap pergantian harimu.

Kuharap kau masih menyimpan bunga yang kupetik di dunia imajinasiku, semoga bunga itu masih terjaga dan tak layu dalam waktumu. Semua tidak kupersembahkan pada hadirmu melainkan kepada hatimu, sebelum kau menyadari atau meyakini bahwa aku telah benar-benar mencintaimu dalam dimensi yang jauh berbeda yang ada dalam pikirmu. Apakah aku bergurau? Tentu tidak, aku yakin dengan apa yang aku tuliskan di saat kau mungkin tengah tertidur lelap setelah seharian kau memberiku cerita baru dalam perjalanan menit yang rapuh.

Secepatnya aku ingin kau pergi jika kau mulai ragu dengan pilihanmu untuk memilih cerita ini, aku tidak akan bermain pada ruang yang terkadang dipenuhi kepalsuan. “Yakinlah” untuk bertahan, dan aku mengabadikan kisahmu pada lembaran putih yang tidak akan ternodai oleh salahmu, kau bisa saja menghindar namun aku telah memilih untuk tetap disini, terperangkap dalam indahmu. Kau tidak akan pernah kusalahkan atas apa yang telah terjadi di hari esok. Kuharap kau mampu mengajarkanku apa yang disebut Ketulusan.

Terimalah apa yang harusnya kau terima, ajarkan aku apa yang nantinya aku akan abaikan. Berikan aku harapanmu, berikan aku sepenuhnya, kelak aku akan menjaga dan melindungi semuanya. Hari esok kusiapkan untuk membuatmu tersenyum bahagia dalam bingkai yang jauh lebih berwarna.

Angin akan selalu menghempaskan luapan emosi negatif maupun positif manusia di muka bumi ini, esok pun selalu melahirkan situasi yang menciptakan cerita seperti itu. Tidak dapat dipastikan bahwa perjalanan ini akan selalu berjalan dengan indah, namun kuharap kau selalu setia pada apa yang kau impikan denganku. Jaga mimpi itu, sebab angin bisa saja mencurinya tanpa kau sadari. Tuhan akan menjawab doaku, saat kau mampu bertahan dalam perjalanan yang nantinya berujung senyum bahagia.

*Di hatimu, izinkan aku melabuhkan hidupku.