Kamis, Agustus 4

Titik..,

Kembali aku dalam titik-titik yang nantinya akan menarik garis, menuju satu sumbu yang aku belum pahami namanya. Sekiranya aku tidak mampu menjadi garis, dan selamanya harusnya menjadi titik-titik kecil yang akan tertutup oleh tulisan-tulisan atau tertutupi oleh lembaran-lembaran kertas miliknya. Kecuali karena kau.

Tetap menjadi titik, tanpa kau yang menarik satu garis. Kemudian aku menusukkan sebuah jarum kecil pada kain hijau, jarum itu pemberian teman kecilku. Dari titik kecil itu, aku belajar dari jarum. Terus mencari tempat, terus membuat titik-titik. Tanpa ada benang, hanya akan menjadi titik saja. Bukankah titik itu nantinya akan menjadi garis?

Entahlah, aku bukanlah jarum yang menciptakan titik itu. Titik itu hadir dari sebuah dimensi. Yang kusebut itu "Dimensi Cinta".Jika selamanya harusnya menjadi titik, biarlah.

Kuanggap, itu yang terbaik dan paling terbaik untukmu. Aku masih belum yakin, mungkin aku hanya akan merasakannya sendiri. Kau tidak.

Kau tidak akan membalas, mungkin.

Dimensi Cinta

Kukenal kau dalam persinggahan

berteduh dari tetesan hadiah sang awan

kusapa senyummu untuk batin

sebab waktu melempariku kenangan


Kupetik mawar putih

sebagai isyarat untuk sumpah

biru gelap merasuk pribadiku

waktu kian berlari sangat kaku


pikiranku pecah menebar kesepian

hatiku tertelan dimensi perbedaan

tentang cinta yang meringkus ingatan

melelahkan langkah penuh ketenangan


kini, biar aku melalui hidup

menerjang atau terjebak dalam gelap

cintaku kubingkai dalam pikiran

menikmati tawamu dalam dimensi kenangan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar