Selasa, Agustus 2

Tentang Tanyamu dan Tanyaku,

Malam masih menyampaikan pesan yang seharusnya kau mengerti, tentang bulan sabit dan para bintang yang senantiasa setia pada indahnya langit.

Baiklah, mungkin setelah kau membaca postingan-postinganku, mungkin kau akan merasakan dan mengerti apa yang ada dalam pikiranku saat ini. Kau akan kebingungan melihat hariku yang aneh, dan tidak pernah terpikirkan olehmu sebelumnya.

Semua tidak pernah seperti ini, di benakmu aku bukanlah siapa-siapa yang tiba-tiba harus bersembunyi dalam bahagiamu sendiri. Benarlah para pendahulu, jika harus mengatakan bahwa cinta mematikan logika.

Kau akan bertanya sendiri, entah dengan dirimu sendiri atau orang lain. Jika kau mampu mengerti dengan tulisanku, tak perlu ragu.

Semua benar, kau itu adalah mahluk yang tidak kupahami hadirmu dalam beberapa hari ini. Waktu tidak pernah memberi alasan kuat, mengapa menghadirkanmu dalam setiap detik. Aku yang setia menunggu jawaban darinya, memberi alasan dan sepatah kata penyemangat. Itu cukuplah.!

Aku ingin mengatakannya, dan bertanya secara jujur padamu. Namun nantinya akan percuma, aku sudah cukup mengerti. Ini tentang kesadaran cintaku dalam mencintaimu, masih tentang posisiku yang tak pantas, masih dari hadirku yang tak bermakna, masih dari kekuranganku yang merepotkan. Semua menyatu mendukung kebisuanku. Dan setiap malam, yang biasa kulakukan hanya meniup teh hangat yang kubuat untuk menghargai sepiku di malam hari, hangatnya sungguh menenangkan pikiranku.

Kau masih bertanya? Apakah ini aku?

Tak perlu, yakin saja.

Orang yang kumaksud adalah kau yang saat membaca ini merasakan hal yang berbeda dengan orang lain. Caraku mengenalmu adalah sesuatu yang sungguh menyenangkan, namun tidak pernah berharap lebih meskipun nyatanya aku harus merasakan rasa yang tidak pernah kuharapkan. Sungguh ini cinta, yang hadir tanpa alasan.

Kau,

Jika saja aku bertanya, bisakah kau menjawabnya dengan ya?
Jika saja aku berharap, bisakah kau menghargai harapanku?
Jika saja aku ingin menunggu, bisakah kau menyambutnya?

Sulit jika kau seperti itu, aku bukan dia yang membuat harimu penuh senyum, malam yang penuh rindu, dan dia pula yang mengurai setiap sepimu. Bukan aku, yang hari ini hanya bisa duduk termenung memandang sabit malam ini.

Sebelum kau tertidur, lihatlah sabit. Andaikan dua titik yang terpisah dari ujung sabit itu adalah kau dan aku, maka aku ingin berada disana hingga purnama. Berharap bertemu denganmu. Aku tersenyum.

Maaf, jika selama ini harus merepotkan atau postingan ini membuatmu jengkel. Tapi, aku pun belum memastikan, kau baca atau tidak pernah, yang harus kau pahami adalah seluruh tulisan blog ini terinspirasi dari kau. Dari caramu menganggapku ada, caramu menilaiku, serta caramu menanggapi inginku.



Inginku sederhana, jika saja saat kau membaca postingan ini kau mengerti dengan jelas apa yang kurasa, tentang apa yang saat ini kujalani, kuingin kau melukiskan perasaanmu lewat kata-kata. Kau bisa titip pada bintang-bintang, atau membiarkan anging mamiri mendekapnya sebelum kau jelaskan padaku. Cukup isyarat sederhana, jawab saja! Adakah harapan untukku atau aku harus menghentikannya. Kupikir rumput akan membantuku, memulihkan hati, menerima isyarat, dan menghargai jalanmu.

Sungguh, aku telah jatuh cinta pada senyummu yang sederhana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar