Senin, Agustus 8

Tapi Keadaan,

Inilah yang membuatmu akan sulit menerimaku, keadaan.

Semua telah kau mengerti, namun saat kau harus resah pada keadaan yang membuatmu ragu untuk melangkah, pilihlah jalanmu. Kau memiliki cinta yang sesuai dengan keadaan, bukan dengan keadaanku. Ringkasnya seperti itu. Namun akan menyakitkan jika kemudian cerita itu hilang begitu saja, terhempas badai, terkubur diantara tumpukan dedaunan yang berguguran di musim semi, dan hancur melebur dalam dekapan tanah tempatmu berpijak.

Dan saat nafas pertama fajar berhembus bersama angin tentunya selalu kusadari, akan sulit bagimu menerima keadaanku.

Itu yang kusadari sejak awal, hingga aku tak pernah berniat untuk mengungkapnya. Namun semua berbeda saat kau mampu mengartikannya dan membalas tanyaku. Seperti bunga yang telah layu, namun kembali kau siram dengan air untaian rasamu. Harapan kecil bertebaran di langit malam mengalahkan bintang.

Aku selalu mengerti keadaanmu, terlebih dengan keadaanku sendiri.

Pernah kukatakan lebih awal, aku mungkin tak pantas. Sepertinya, itu yang kupahami malam ini. Saat kau tertidur lelap dengan membawa segala gundahmu, dan harapanku selalu ingin membawamu ke mimpi-mimpi indah yang tiap malam kau ceritakan.

Jika akhirnya kau mempermasalahkan keadaan, nantinya bebanlah yang kau munculkan sendiri untukmu. Aku tak pernah mempermasalahkan keadaan, hanya saja mungkin akan menjadi beban untukmu. Jika kemudian kau merasa ragu, hargailah keraguanmu untuk tetap menjalani keadaanmu yang saat ini indah. Tak perlu lagi risaukan untaian cerita-cerita aneh dariku.

Beban, jangan jadikan keadaan ini beban untukmu. Pilihlah harimu yang selalu menguatkan langkahmu, bukan seperti ini. Tanpa kau mampu yakinkan dirimu, bahwa ini cinta. Jelas, keadaan akan menjadi bebanmu. Kuakui, jika kau akan merasakan hal yang seperti ini.

Kau telah mengerti dengan apa yang kupikirkan sejak awal, sulit jika keadaan kemudian menjadi penghalang untukmu. Kuanggap itulah jawabanmu, dari sekian pertanyaan tentang rasa. Jika kau tak mampu, kupikir tak perlu kau paksakan. Sekali lagi kukatakan, kau telah memiliki keadaan yang indah dengannya, disini meskipun aku memiliki rasa untukmu, dan kau pun mungkin sama. Pilihlah yang menurutmu bisa menghadirkan damai dalam hatimu, jelaslah itu bukan aku dengan segala kekurangan yang kumiliki.

Sampai disini, aku telah bahagia. Kehidupan itu suatu tekad keputusan. Pintaku, setelah kau benar mampu memilihnya, aku masih akan tetap berada pada bangku tua di taman bintang bersedia mendengarmu dan melihatmu lesung pipimu pancarkan tawa dari jauh. Mungkin menanti atau sekedar memandangmu, saat kau telah bahagia. Aku tak perlu lagi berharap.

Beri aku keheningan dan aku akan mengatasi malam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar