Jumat, Agustus 5

Taman Bintang

Aku mendengar suara-suara dedaunan saling berbisik membicarakan kepergian angin. Namun sebenarnya, angin tidak pernah pergi meninggalkan tempat ini. Biarkan aku seperti itu.

Tidak percaya lagi akan semua ranting-ranting yang patah karenanya, ada cerita yang masih belum dijelaskan. Menggambarkan hari-harimu yang indah, namun terkadang harus membuatku terdiam penuh.

Kulalui hari yang terlihat sulit namun tidak bagiku, masalah hanyalah pada saat kau harus meyakinkan dirimu sendiri. Kau mungkin hanya terjebak, bukan karena sesuatu rasa yang mampu membuatmu bertahan, bahagia dan tersenyum saat memandangi bulan. Terpikir olehku, akan semua tentangmu. Bumi masih selalu berputar pada porosnya, begitupun dengan perasaanmu, tentunya masih selalu berada pada poros yang menguatkanmu, mengartikan keberadaanmu dan keyakinanmu.

Bisa saja kau ingin pergi dari posisimu saat ini, maaf. Tidak pernah aku bermaksud untuk membawamu ke tempat ini, saat kau harus kehilangan keyakinanmu sendiri. Keraguanmu selalu indah bagiku, semua terkesan begitu damai.

Benarkah aku tidak berada dalam indahnya khayalku sendiri, atau mungkin saja hari ini aku masih menikmati khayalku sendiri. Apakah selama ini yang kudengar dari para bintang malam itu benar, benarkah semua itu? Mungkin saja hanya harapan yang menciptakan ceritanya sendirinya, tidak pernah menjadi cerita kita.

Sebatas apa yang kuharapkan, hanya sampai pada khayalku sendiri. Malam ini, saat kusaksikan bulan menanti purnamanya, aku bertanya pada bintang yang kemarin memberiku kabar bahagia. Benarkah hari itu dia? Jika bukan, sungguh indah khayalku malam itu.

Seberapa lama kau akan bertahan disana, jika kau masih menunggu yakinmu.

Sementara aku masih bertanya, apakah ini nyata? Waktu begitu indah melukiskan hari-hariku bersamamu, Sungguh ini nyata? Apakah kau merasa terjebak?

Kau harus tahu, aku selalu siap untuk berdamai pada kenyataan. Sesulit dan sepahit apapun itu, kabarnya kau semakin bahagia dengannya. Mengapa aku harus ada jika hanya menggangu bahagiamu, menyita waktumu dengannya. Yang kuinginkan hanyalah melihatmu tersenyum, saat lesung pipimu melukiskankan bahagiamu.

Di batas asaku hanya ingin kau bahagia jalani hidupmu, aku akan selalu mencoba berikan yang terbaik untuk kau miliki, untuk hari-harimu. Namun semua akan berakhir, aku tidak akan berhenti menyimpan rasa itu. Namun saat kutahu hadirku hanya mengusikmu, sewajarnya aku menjauh dan mencari taman bintang. Di taman bintang itu, aku duduk di bangku tua berteman sepi memandang senyum bahagiamu dengannya.

*di bangku tua itu, nantinya kutuliskan mimpiku


2 komentar: