Jumat, Agustus 12

Purnama

Bulan kini berani menyebut dirinya Purnama, langit malam tidak mungkin kelelahan lagi mengurung gelapnya setelah Purnama tiba . Aku telah risau setelah bayangmu menjauh tak pernah lagi memberi pertanda akan kehadiranmu. Malam semakin setia menyelimuti hati yang nantinya akan kupersembahkan padamu (mungkin), tapi perlahan waktu akan menyadarkanku betapa lemahnya harapku.

"Tak pernah terbalas"

Sadarku, aku tak mampu melepasmu tapi tak mungkin juga aku selalu mengganggumu saat sadarku yakinkan bahwa seutuhnya kasihmu untuknya bukan untukku. Jangan sampai hanya menjadi beban untukmu jika hadirku mengusik mimpimu untuk kembali bersamanya.

Selagi bulan masih purnama, panjatkan doamu untuk kembali bahagia bersamanya.

Sadarku, kau yang aku mau.



Kau yang selalu aku rindu dalam bingkai sepinya waktuku. Aku mencintaimu sebagai pelengkap kematian indahku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar