Rabu, Agustus 24

Kututurkan kata dalam Puisi

Puisi terakhir untuknya mungkin terlihat sangat abstrak untuk dipahami, namun sebenarnya pesan yang ingin saya sampaikan hanyalah sederhana. Hanya saja, saat saya menuliskannya kata demi kata lahir tanpa pernah saya menginginkannya. Di taman kata, mungkin ada bunga yang aromanya telah mengantarkan huruf-huruf itu hadir mengetuk pintu alam bawah sadarku sendiri. Mereka berani dan kuat untuk bertahan dalam ruang pikiranku yang sepi.

Terciptalah satu tanya yang mestinya bisa kujawab sendiri, namun saat harus kututurkan lewat mulutku sendiri nantinya akan berbeda. Makna tidak akan ada jika itu terjawab dari dalam hati saya sendiri, kuingin dia yang menjawabnya secara nyata dan jelas. Andaikan hidup bisa terus bermain andai-andai, mungkin aku akan selalu mengatakannya, "Andai.....!" Tapi kata itu bukanlah kata yang indah untuk menggambarkan bahagia, melukiskan kesyukuran dan merasakan indahnya rasa yang Tuhan titipkan.

Kau menturkan kata, namun belum membuatku yakin. Pikirannya masih berbeda dengan apa yang pernah dituliskannya, iniah yang saya khawatirkan. Saat saya salah mengartikan kata atau sikapnya selama ini. Hari pun mungkin akan melupakan tanyaku dan menerangkan semuanya bahwa selama ini mungkin aku yang salah. Kupikir dia telah memiliki rasa yang sama dengan saya, namun sebenarnya tidak. Masih ada dia, orang yang selalu terjaga dalam hatinya yang sepertinya selalu akan ada dan masih selalu untuk dia. Ini bukan salahnya tapi salahku yang telah salah dalam memaknainya.

Apa yang kuharap mungkin hanya sebatas cahaya kecil baginya yang sebentar lagi akan dia tiup, agar cahaya itu meredup dan asapku tidak mengganggunya lagi. Di taman kata, sepertinya aku akan duduk lama di bangku itu untuk menyusun kembali kata yang telah retak. Kepingan-kepingan kecil harus kususun sedemikan rupa. Aku tak yakin dengan semuanya, namun untuk saat ini aku mencari kepingan-kepingan kecil itu, jika tidak kutemukan biarlah hatiku tak lagi utuh, kepingan ini akan kuberikan untuknya. Aku hanya pelengkap bukan melengkapkan.

*Memiliki cinta dan dimiliki sangatlah indah, namun memiliki pun sudah cukup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar