Senin, Agustus 8

Harapan? Adakah?

Selepas semua kata yang terlahir dari rasa, dan apa yang ada dipikiranku saat itu. Aku sepertinya lebih terjatuh dalam cerita yang membingungkan, cerita yang awalnya tidak pernah kuharap seperti ini, ini salahku yang harus membawamu pada tempat yang dipenuhi dengan hal yang tak biasa. Sejujurnya semua bukanlah khayal, melainkan semua adalah inginku.

Tentunya, kau mengerti apa yang aku maksud. Tapi, saat kau mengira bahwa ada dalam dunia khayal aku lebih dari itu, pertama aku hanya ingin menuliskan apa yang aku rasakan tanpa bermaksud untuk membiarkan kamu memahami semuanya. Yang kupikir, aku tak akan pantas menjadi sesuatu dalam ruang-ruang cintamu. Kuprediksikan hanya akan berakhir sepi dan sedih jika kau mengetahuinya.

Sekarang, aku yang bertanya!

Benarkah saya tidak bermimpi melihat apa yang kau lukiskan? Sungguh, ini membawaku dalam dunia khayal, bisa-bisa saya akan memasuki ruang schizoprenia. Ego dan superego tidak lagi berfungsi dengan baik, interpretasi kata per kata membawaku berkhayal.

Yang kutahu, nantinya aku bertepuk sebelas tangan.

Semoga saja kau tak memberiku harapan yang aneh, seperti ingin tapi tak ingin.

*Lebih mendekat dan kau menjauh, kuharap tidak
menepikan hadirku pada labirin hatimu, kuharap tidak
kau mengerti hari itu dan saat aku mengharap lebih
sebelum deru angin menghempaskan semua
kuharap kau tetap menjaga apa yang ada dalam harapku
katakan saja...
jika kau tak mampu, benarlah prediksiku beberapa bulan yang lalu
bila harapku kau tinggalkan,
tersenyumlah....
harapan terkahirku, bila kau pergi
ingin melihat lesung pipimu
lukiskan senyummu yang sederhana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar