Rabu, Agustus 10

Bangku Tua

Menantimu bukanlah hal yang membosankan, bukan pula hal yang melelahkan. Masih duduk terdiam memandangi hamparan warna bunga yang tumbuh dengan indah, menyaksikan kupu-kupu biru terbang melintasi untaian semerbak harum bunga, tercium damai menaungi hati. Di bangku tua ini, selalu kutuliskan sajak-sajak sederhana yang bisa menemaniku. Sekiranya esok atau lusa, sajak itu menjelma menjadi hadirmu yang nantinya akan jauh lebih mengindahkan taman ini.

Dari kabarmu yang setiap malam kunanti, ada kabar yang kurindukan datangnya. Ada pesan yang kuharapkan menyapa rasa kekhawatiranku, aku masih menunggu itu. Entah sampai kapan kabar itu akan tiba dalam malamku. Sebelum bulan menyebut dirinya purnama, seuntai rasa kusimpan dalam sepinya malam dengan berteman bintang-bintang yang selalu setia. Kuharap rasaku atau rasamu mampu setia dalam satu ruang yang kusebut itu cinta.

Sebelum mataku terpejam menyusuri mimpi, seraya kupanjatkan doa unutknya. Begitupun untuk nasib sajak-sajak sahabat setia yang selalu santun mengajakku berharap di bangku tua menunggumu datang. Tanpa sajak itu, aku akan mati dalam kekosongan rindu yang tak terbalas. Dan jika nantinya, kau tak datang maka sajak itulah yang kuanggap mewakili hadirmu yang bahagia.

Kepada sajak-sajak sederhana, hadiah kesepian dan kesunyian terselip dari kata demi kata yang kuhidupkan dalam kertas putih. Pena kehidupan mengajarkanku untuk tetap bertahan menghadapi masalah yang silih berganti menghadang. Tak perlu menyalahkan keadaan yang akan sulit, ini adalah pilihan untuk terbebas dari masalah itu.

Hidup selalu adil, alam begitu damai menjalankan waktu mengurai sepi. Kau datang menulusuri ruang yang sebelumnya kujaga, jika bukan kau, mungkin aku tak pernah akan betah seperti ini. Jika bukan kau yang menginginkanku pergi, aku takkan pergi. Sajakku pun selalu senang berada disini, dan aku masih ada di bangku tua esok pagi.


*Jatuhkanlah rasamu pada sepinya hatiku...!

2 komentar: