Rabu, Agustus 24

Kututurkan kata dalam Puisi

Puisi terakhir untuknya mungkin terlihat sangat abstrak untuk dipahami, namun sebenarnya pesan yang ingin saya sampaikan hanyalah sederhana. Hanya saja, saat saya menuliskannya kata demi kata lahir tanpa pernah saya menginginkannya. Di taman kata, mungkin ada bunga yang aromanya telah mengantarkan huruf-huruf itu hadir mengetuk pintu alam bawah sadarku sendiri. Mereka berani dan kuat untuk bertahan dalam ruang pikiranku yang sepi.

Terciptalah satu tanya yang mestinya bisa kujawab sendiri, namun saat harus kututurkan lewat mulutku sendiri nantinya akan berbeda. Makna tidak akan ada jika itu terjawab dari dalam hati saya sendiri, kuingin dia yang menjawabnya secara nyata dan jelas. Andaikan hidup bisa terus bermain andai-andai, mungkin aku akan selalu mengatakannya, "Andai.....!" Tapi kata itu bukanlah kata yang indah untuk menggambarkan bahagia, melukiskan kesyukuran dan merasakan indahnya rasa yang Tuhan titipkan.

Kau menturkan kata, namun belum membuatku yakin. Pikirannya masih berbeda dengan apa yang pernah dituliskannya, iniah yang saya khawatirkan. Saat saya salah mengartikan kata atau sikapnya selama ini. Hari pun mungkin akan melupakan tanyaku dan menerangkan semuanya bahwa selama ini mungkin aku yang salah. Kupikir dia telah memiliki rasa yang sama dengan saya, namun sebenarnya tidak. Masih ada dia, orang yang selalu terjaga dalam hatinya yang sepertinya selalu akan ada dan masih selalu untuk dia. Ini bukan salahnya tapi salahku yang telah salah dalam memaknainya.

Apa yang kuharap mungkin hanya sebatas cahaya kecil baginya yang sebentar lagi akan dia tiup, agar cahaya itu meredup dan asapku tidak mengganggunya lagi. Di taman kata, sepertinya aku akan duduk lama di bangku itu untuk menyusun kembali kata yang telah retak. Kepingan-kepingan kecil harus kususun sedemikan rupa. Aku tak yakin dengan semuanya, namun untuk saat ini aku mencari kepingan-kepingan kecil itu, jika tidak kutemukan biarlah hatiku tak lagi utuh, kepingan ini akan kuberikan untuknya. Aku hanya pelengkap bukan melengkapkan.

*Memiliki cinta dan dimiliki sangatlah indah, namun memiliki pun sudah cukup.

Senin, Agustus 22

Menuturkan Kata

Kusaksikan malam terasa mendamba
pada seruan angin yang menumpahkan pintanya
samar-samar terdengar mengusik batas mahligai
menuturkan kata
kupastikan dawai mengutus nada pertama
isyaratkan gelombang mengutus makna
kebingunganlah aku dalam garis tak terjamah
mentaati detik sementara kau memberontak

menuturkan kata
kembali awan menutup langit malam
dari setiap bintang dengan cahayanya
semua terhenti dan menuturkan kata
nada telah terurai oleh malam itu sendiri
sementara dawai sebentar lagi akan putus
sebelum sempat kunyanyikan
karena kau ikut menuturkan kata

telah berlangsung dan kau tak menyadari
kututurkan kata
sebagai persembahan untuk rasa
sebagai perisai untuk hati yang rapuh

kata apapun itu,
semua tak berdosa pada keadaan
salahkan aku
yang mungkin salah memaknai tutur katamu

Kamis, Agustus 18

Kesadaranku Mencintainya

Setelah kusadari hari itu, dan kucoba untuk menguatkan diri dari semua yang tidak pernah kupahami tentang rasa. Kubuktikan pada diriku sendiri, kujelaskan untuk bahagianya, dan kuterdiam dalam kegundahanku. Semua telah jelas, ini cinta. Namun dari semua yang kupahami, aku hanyalah kekosongan di ruang yang tengah menganggap dirinya sepi. Kehadiranku telah salah dan menganggunya, itu pikirku.

Akhirnya, aku telah salah untuk bertahan. Setelah hari-harimu akan bahagia dengannya.
Akhirnya, aku telah sadari tentang rasa yang harusnya berkorban untuk melihatmu terus bersamanya.
Akhirnya, semua akan berakhir kecuali kau yang mengubah pikirku.

Tak ingin bermain logika, namun pada akhirnya semua tak dapat dipungkiri. Pilihan dan keadaan tak menempatkan semuanya menjadi indah.

Lupakan saja jika semua semakin membuatmu terbebani, dan izinkan aku untuk terus melanjutkan tulisan ini selamanya. Tak menunggu kau merasakan, namun memahami. Sebab kusadari, apa yang kau rasa tidak ada untuk rasaku


Sabtu, Agustus 13

Sementara Purnama

Setelah malam ini, kuingin
cahaya malam ini, kuindahkan
sementara Purnama masih menemui langit malam
mendamba kesunyian menerangi diamnya
berulang mungkin terulang lagi
kau tetap

awan masih menanti purnama
dan aku bersandar di gapura
pandanganku menepikan gelap
sementara Purnama masih terus membuatmu diam
berulang, dan terulang lagi
kau tetap

gapura tidak merasakan
dengan rahasia penuh terkubur
menjelang waktu yang mendiamkanmu
sementara purnama telah mengerti kehadiran awan
berulang, dan masih akan terulang
kau tetap

dinding gapura retak
sementara purnama telah mengerti

dan aku masih bersandar pada gapura
mendamba purnama tertawa menyinari sepi


Jumat, Agustus 12

Purnama

Bulan kini berani menyebut dirinya Purnama, langit malam tidak mungkin kelelahan lagi mengurung gelapnya setelah Purnama tiba . Aku telah risau setelah bayangmu menjauh tak pernah lagi memberi pertanda akan kehadiranmu. Malam semakin setia menyelimuti hati yang nantinya akan kupersembahkan padamu (mungkin), tapi perlahan waktu akan menyadarkanku betapa lemahnya harapku.

"Tak pernah terbalas"

Sadarku, aku tak mampu melepasmu tapi tak mungkin juga aku selalu mengganggumu saat sadarku yakinkan bahwa seutuhnya kasihmu untuknya bukan untukku. Jangan sampai hanya menjadi beban untukmu jika hadirku mengusik mimpimu untuk kembali bersamanya.

Selagi bulan masih purnama, panjatkan doamu untuk kembali bahagia bersamanya.

Sadarku, kau yang aku mau.



Kau yang selalu aku rindu dalam bingkai sepinya waktuku. Aku mencintaimu sebagai pelengkap kematian indahku.

Rabu, Agustus 10

Bangku Tua

Menantimu bukanlah hal yang membosankan, bukan pula hal yang melelahkan. Masih duduk terdiam memandangi hamparan warna bunga yang tumbuh dengan indah, menyaksikan kupu-kupu biru terbang melintasi untaian semerbak harum bunga, tercium damai menaungi hati. Di bangku tua ini, selalu kutuliskan sajak-sajak sederhana yang bisa menemaniku. Sekiranya esok atau lusa, sajak itu menjelma menjadi hadirmu yang nantinya akan jauh lebih mengindahkan taman ini.

Dari kabarmu yang setiap malam kunanti, ada kabar yang kurindukan datangnya. Ada pesan yang kuharapkan menyapa rasa kekhawatiranku, aku masih menunggu itu. Entah sampai kapan kabar itu akan tiba dalam malamku. Sebelum bulan menyebut dirinya purnama, seuntai rasa kusimpan dalam sepinya malam dengan berteman bintang-bintang yang selalu setia. Kuharap rasaku atau rasamu mampu setia dalam satu ruang yang kusebut itu cinta.

Sebelum mataku terpejam menyusuri mimpi, seraya kupanjatkan doa unutknya. Begitupun untuk nasib sajak-sajak sahabat setia yang selalu santun mengajakku berharap di bangku tua menunggumu datang. Tanpa sajak itu, aku akan mati dalam kekosongan rindu yang tak terbalas. Dan jika nantinya, kau tak datang maka sajak itulah yang kuanggap mewakili hadirmu yang bahagia.

Kepada sajak-sajak sederhana, hadiah kesepian dan kesunyian terselip dari kata demi kata yang kuhidupkan dalam kertas putih. Pena kehidupan mengajarkanku untuk tetap bertahan menghadapi masalah yang silih berganti menghadang. Tak perlu menyalahkan keadaan yang akan sulit, ini adalah pilihan untuk terbebas dari masalah itu.

Hidup selalu adil, alam begitu damai menjalankan waktu mengurai sepi. Kau datang menulusuri ruang yang sebelumnya kujaga, jika bukan kau, mungkin aku tak pernah akan betah seperti ini. Jika bukan kau yang menginginkanku pergi, aku takkan pergi. Sajakku pun selalu senang berada disini, dan aku masih ada di bangku tua esok pagi.


*Jatuhkanlah rasamu pada sepinya hatiku...!

Senin, Agustus 8

Tapi Keadaan,

Inilah yang membuatmu akan sulit menerimaku, keadaan.

Semua telah kau mengerti, namun saat kau harus resah pada keadaan yang membuatmu ragu untuk melangkah, pilihlah jalanmu. Kau memiliki cinta yang sesuai dengan keadaan, bukan dengan keadaanku. Ringkasnya seperti itu. Namun akan menyakitkan jika kemudian cerita itu hilang begitu saja, terhempas badai, terkubur diantara tumpukan dedaunan yang berguguran di musim semi, dan hancur melebur dalam dekapan tanah tempatmu berpijak.

Dan saat nafas pertama fajar berhembus bersama angin tentunya selalu kusadari, akan sulit bagimu menerima keadaanku.

Itu yang kusadari sejak awal, hingga aku tak pernah berniat untuk mengungkapnya. Namun semua berbeda saat kau mampu mengartikannya dan membalas tanyaku. Seperti bunga yang telah layu, namun kembali kau siram dengan air untaian rasamu. Harapan kecil bertebaran di langit malam mengalahkan bintang.

Aku selalu mengerti keadaanmu, terlebih dengan keadaanku sendiri.

Pernah kukatakan lebih awal, aku mungkin tak pantas. Sepertinya, itu yang kupahami malam ini. Saat kau tertidur lelap dengan membawa segala gundahmu, dan harapanku selalu ingin membawamu ke mimpi-mimpi indah yang tiap malam kau ceritakan.

Jika akhirnya kau mempermasalahkan keadaan, nantinya bebanlah yang kau munculkan sendiri untukmu. Aku tak pernah mempermasalahkan keadaan, hanya saja mungkin akan menjadi beban untukmu. Jika kemudian kau merasa ragu, hargailah keraguanmu untuk tetap menjalani keadaanmu yang saat ini indah. Tak perlu lagi risaukan untaian cerita-cerita aneh dariku.

Beban, jangan jadikan keadaan ini beban untukmu. Pilihlah harimu yang selalu menguatkan langkahmu, bukan seperti ini. Tanpa kau mampu yakinkan dirimu, bahwa ini cinta. Jelas, keadaan akan menjadi bebanmu. Kuakui, jika kau akan merasakan hal yang seperti ini.

Kau telah mengerti dengan apa yang kupikirkan sejak awal, sulit jika keadaan kemudian menjadi penghalang untukmu. Kuanggap itulah jawabanmu, dari sekian pertanyaan tentang rasa. Jika kau tak mampu, kupikir tak perlu kau paksakan. Sekali lagi kukatakan, kau telah memiliki keadaan yang indah dengannya, disini meskipun aku memiliki rasa untukmu, dan kau pun mungkin sama. Pilihlah yang menurutmu bisa menghadirkan damai dalam hatimu, jelaslah itu bukan aku dengan segala kekurangan yang kumiliki.

Sampai disini, aku telah bahagia. Kehidupan itu suatu tekad keputusan. Pintaku, setelah kau benar mampu memilihnya, aku masih akan tetap berada pada bangku tua di taman bintang bersedia mendengarmu dan melihatmu lesung pipimu pancarkan tawa dari jauh. Mungkin menanti atau sekedar memandangmu, saat kau telah bahagia. Aku tak perlu lagi berharap.

Beri aku keheningan dan aku akan mengatasi malam.

Harapan? Adakah?

Selepas semua kata yang terlahir dari rasa, dan apa yang ada dipikiranku saat itu. Aku sepertinya lebih terjatuh dalam cerita yang membingungkan, cerita yang awalnya tidak pernah kuharap seperti ini, ini salahku yang harus membawamu pada tempat yang dipenuhi dengan hal yang tak biasa. Sejujurnya semua bukanlah khayal, melainkan semua adalah inginku.

Tentunya, kau mengerti apa yang aku maksud. Tapi, saat kau mengira bahwa ada dalam dunia khayal aku lebih dari itu, pertama aku hanya ingin menuliskan apa yang aku rasakan tanpa bermaksud untuk membiarkan kamu memahami semuanya. Yang kupikir, aku tak akan pantas menjadi sesuatu dalam ruang-ruang cintamu. Kuprediksikan hanya akan berakhir sepi dan sedih jika kau mengetahuinya.

Sekarang, aku yang bertanya!

Benarkah saya tidak bermimpi melihat apa yang kau lukiskan? Sungguh, ini membawaku dalam dunia khayal, bisa-bisa saya akan memasuki ruang schizoprenia. Ego dan superego tidak lagi berfungsi dengan baik, interpretasi kata per kata membawaku berkhayal.

Yang kutahu, nantinya aku bertepuk sebelas tangan.

Semoga saja kau tak memberiku harapan yang aneh, seperti ingin tapi tak ingin.

*Lebih mendekat dan kau menjauh, kuharap tidak
menepikan hadirku pada labirin hatimu, kuharap tidak
kau mengerti hari itu dan saat aku mengharap lebih
sebelum deru angin menghempaskan semua
kuharap kau tetap menjaga apa yang ada dalam harapku
katakan saja...
jika kau tak mampu, benarlah prediksiku beberapa bulan yang lalu
bila harapku kau tinggalkan,
tersenyumlah....
harapan terkahirku, bila kau pergi
ingin melihat lesung pipimu
lukiskan senyummu yang sederhana

Minggu, Agustus 7

Surat Tua


Kupandangi deretan kata pada surat tua
di bawah terik matahari waktu itu kuantarkan
rentang waktu sebulan lalu menyesatkan
jalanan sepi menari berkisahkan perih
suratku bila kau simpan di atas meja akan mencair
sepasang kalimat bercerai berai menagih tinta yang melahirkannya
pada sore yang biasa, mungkin kusadari

Pada meja yang kian berdebu
surat masih rapi tak tersentuh,
tinta bukan lagi ayah dari kelahiran kata-kata
kertas bukan lagi sandaran hangat
untuk sore yang biasa, mungkin kusadari

Debu kian bergembira menemani surat
berbaring lemah tak berdaya menanti angin
angin...
hembuskan saja hadirmu agar surat itu jatuh
berbaring rapi dan damai dalam tumpukan kertas lainnya
dalam tempat sampah peristirahatan kertas kusut

untuk sore yang biasa, mungkin kusadari

Jawablah...

Maaf, jika kemudian jawabanku membuatmu sedikit kecewa. Tidak bermaksud seperti itu, hanya saja aku tak pernah mengira kalau kau masih mempertanyakan semua itu. Kupikir kau telah mengerti dengan semua ini, terlebih dengan semua postinganku akhir-akhir ini. Kumohon cepatlah untuk mengerti semua ini, jikalau kau tak kunjung mengerti biar aku yang berdiri menantimu disini. Aku bisa menunggumu di ujung pelangi, saat seluruh perasaanku kusandingkan melalui indahnya warna yang tuhan ciptakan.

Terlebih jika kau belum mengerti dan memahami aku disini, entah apa yang harus aku lakukan saat kau masih bertanya tentang ini. Harus apa, dan bagaimana? Katakan saja, jika itu yang bisa membuatmu mengerti maka akan kulakukan. Awalnya kupikir aku hanya sebatas menulis, menulis, dan menulis apa yag tak tersampaikan. Hingga kau memahami apa yang kurasakan.



Kau telah memahami saat ini, sedikit banyaknya kalimat yang bisa kau artikan. Itu belum bisa menyamai perasaan yang mungkin saja hanya membekukan inginku. Jika saja aku bisa menemuimu hari ini, aku ingin kau menjawab tanyaku.

Bisakah kau diam hanya di hatiku?

Sabtu, Agustus 6

Bodoh,

Sejauh ini kau masih ragu? Kuharap tidak,

Hanya saja aku yang masih kebingungan dengan hadirku sendiri, yang nantinya akan membuatmu merasa terbebani. Aku tahu kamu terlalu baik dalam menghargai setiap hariku, namun kau mungkin tidak akan ragu dengan keputusanmu sendiri menghadapi hari-hari yang sulit bersamaku. Sebentar lagi mungkin kau akan membiarkan aku pergi, melepas dan melihat semuanya terbang bebas mengikuti angin. Bebas sebebas angin menghuni seluruh alam yang selalu indah memberi pelajaran sarat makna.

Bukan tidak ingin pergi, namun seperti yang kukatakan sebelumnya. Aku tidak pernah menyesali ruang ini, terjebak selama apapun akan kusyukuri. Katamu anugrah, baiklah kukatakan seperti itu juga. Yang kupikirkan hanyalah harimu saat esok kemudian menitipkan sedihnya,akan ada beban dalam setiap harimu. Jika demikian, sungguh ini cobaan termanis dalam hidup.

Tersenyumlah, walaupun hari ini sulit untuk dihadapi percaya saja bahwa aku akan memberimu yang terbaik, dan memberikan apa yang terbaik untukmu meskipun tidak baik bagiku. Sudah saatnya aku buktikan kalau pisces itu orang yang siap berkorban. :)
Ini bukan akhir, bukan awal, hanya saja rasa biru telah menemuiku setiap kali memikirkan bebanmu.

Dalam malam yang selalu melukiskan gelapnya, pada bintang yang terus berbagi sinarnya, aku membisu. Sulit memaknai tindakanku, bodohkah ini? Saat membiarkan seseorang yang dicintai harus pergi dengan cinta yang lain, sementara disini aku pun menyimpan rasa yang lebih dari yang dia pahami. Jika harus berdiam seperti ini, melewati malam demi malam akan membiarkanku hilang dalam gelapnya. Jadilah malam, tenggelamkan aku dalam gelapmu.

Aku memang bodoh, belum mengerti apa-apa, kecuali satu yang kupahami.
Para rumput akan bertahan disampingmu, meskipun hadirnya hanya akan menganggumu.


*Aku telah mencintai cintamu...

Jumat, Agustus 5

Taman Bintang

Aku mendengar suara-suara dedaunan saling berbisik membicarakan kepergian angin. Namun sebenarnya, angin tidak pernah pergi meninggalkan tempat ini. Biarkan aku seperti itu.

Tidak percaya lagi akan semua ranting-ranting yang patah karenanya, ada cerita yang masih belum dijelaskan. Menggambarkan hari-harimu yang indah, namun terkadang harus membuatku terdiam penuh.

Kulalui hari yang terlihat sulit namun tidak bagiku, masalah hanyalah pada saat kau harus meyakinkan dirimu sendiri. Kau mungkin hanya terjebak, bukan karena sesuatu rasa yang mampu membuatmu bertahan, bahagia dan tersenyum saat memandangi bulan. Terpikir olehku, akan semua tentangmu. Bumi masih selalu berputar pada porosnya, begitupun dengan perasaanmu, tentunya masih selalu berada pada poros yang menguatkanmu, mengartikan keberadaanmu dan keyakinanmu.

Bisa saja kau ingin pergi dari posisimu saat ini, maaf. Tidak pernah aku bermaksud untuk membawamu ke tempat ini, saat kau harus kehilangan keyakinanmu sendiri. Keraguanmu selalu indah bagiku, semua terkesan begitu damai.

Benarkah aku tidak berada dalam indahnya khayalku sendiri, atau mungkin saja hari ini aku masih menikmati khayalku sendiri. Apakah selama ini yang kudengar dari para bintang malam itu benar, benarkah semua itu? Mungkin saja hanya harapan yang menciptakan ceritanya sendirinya, tidak pernah menjadi cerita kita.

Sebatas apa yang kuharapkan, hanya sampai pada khayalku sendiri. Malam ini, saat kusaksikan bulan menanti purnamanya, aku bertanya pada bintang yang kemarin memberiku kabar bahagia. Benarkah hari itu dia? Jika bukan, sungguh indah khayalku malam itu.

Seberapa lama kau akan bertahan disana, jika kau masih menunggu yakinmu.

Sementara aku masih bertanya, apakah ini nyata? Waktu begitu indah melukiskan hari-hariku bersamamu, Sungguh ini nyata? Apakah kau merasa terjebak?

Kau harus tahu, aku selalu siap untuk berdamai pada kenyataan. Sesulit dan sepahit apapun itu, kabarnya kau semakin bahagia dengannya. Mengapa aku harus ada jika hanya menggangu bahagiamu, menyita waktumu dengannya. Yang kuinginkan hanyalah melihatmu tersenyum, saat lesung pipimu melukiskankan bahagiamu.

Di batas asaku hanya ingin kau bahagia jalani hidupmu, aku akan selalu mencoba berikan yang terbaik untuk kau miliki, untuk hari-harimu. Namun semua akan berakhir, aku tidak akan berhenti menyimpan rasa itu. Namun saat kutahu hadirku hanya mengusikmu, sewajarnya aku menjauh dan mencari taman bintang. Di taman bintang itu, aku duduk di bangku tua berteman sepi memandang senyum bahagiamu dengannya.

*di bangku tua itu, nantinya kutuliskan mimpiku


About Your Book

Do you still remember that post? The posts that make me know about you, I may not be familiar to you if it were not for these postings. I have not had time to read this book, but there are lessons to understand the story. About the faithful who are sincere, and his love story that is so enchanting readers every times you read this book. The book, written with a heart will surely get to the hearts of readers, sounds easy but difficult to do.

The heart is the the key to finding answers anxiety when you start writing, what you feel would present itself, such as BJ Habibie, who writes beautifully of his love, and without any problems and obstacles he was able to create such an amazing work for people not understand the meaning of the tears of separation.

Give a million tears and longing for inspiration has always been a weapon to deliver it word for word. All will be visible with all its beautiful and sincere presence.

Back in a room that is very difficult to understand, I hope you still remember and agree that because of this post I know you. I'm sure, not only BJ.Habibie are able to write his story, I will be like that.

For you, I will write it.

Can I borrow your book?

*Habibie and Ainun

Poetry Habibie for Ainun

Ainun… Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.

Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.

Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada,aku bukan hendak megeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.

mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan,

Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,

kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.

selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku,

selamat jalan,calon bidadari surgaku ….

BJ.HABIBIE


Kamis, Agustus 4

Mengadu pada Awan

Pagi kemudian akan mengantarmu pada hari yang selalu memberimu pertanyaan, memberi apa yang belum kau dapatkan di hari kemarin. Disini aku bisa melihat hijaunya rumput-rumput saat aku melangkahkan kakiku di jalan setapak menuju suatu tempat, tempat aku menuliskan pagiku, tempat aku menghirup udara kebebasan, menikmati hari dan mensyukuri pemberianNya. Di tempat ini, beralaskan rumput. Tempat aku memandangi awan yang silih berganti menciptakan hadirnya sendiri.

Dan,
Saat ini, Tuhan menitipkan rasa yang berbeda dari sebelumnya. Sendiri, kucoba artikan semua itu sebelum aku bertanya pada rumput-rumput sepi. Hari ini akan selalu menjadi satu sejarah untuknya, saat aku mengadu pada awan yang senantiasa meneduhkan panasnya suasana. Ini masih selalu tentangnya,



Kepadanya,

Kunantikan kau menyambut apa yang belum kau sambut, meski akan lama atau bisa saja tak kan pernah kau sambut. Selalu ada harapan untuk memiliki, namun tidak jika aku hanya menjadi beban untukmu. Dengan segala apa yang kumiliki, aku tak pernah menyesal berada disini. Ini risiko yang harus kuterima, bahkan aku akan tetap disini. Semua tidak akan menyiksa, semua tidak salah.

Sulitnya hanyalah saat aku harus berdamai dengan kenyataanmu, kau bersamanya, masih dengannya, dan selalu dalam kenangan-kenangan indahmu. Belum tentu aku bisa menjadi lebih baik. (jika saja kau menjadi kekasihku bukan kekasihnya. :D) Maaf, jika harapku berlebih, tak perlu kau pikirkan.

Aku tidak akan memintamu untuk membalasnya, apa yang kumiliki sekarang bukanlah cobaan, namun kuanggap ini adalah salah satu warna dalam lukisan hidup yang Tuhan hadiahkan padaku. Dengannya mungkin kau bahagia, denganku belum tentu. Sungguh, senyum telah cukup melahirkan bahagiaku.

Pagi ini, aku masih di tempatku mengadu pada awan. Menurutmu, haruskah cinta memiliki?

Pikirku...

Selamat Pagi..., :D

Kuhadiahkan setangkai bunga yang kupetik diruang imajinasiku sendiri. Bunga itu indah, namun senyummu lebih indah pagi ini. :D

Kau akan terlihat cantik jika sebelum membaca ini, kau tersenyum.
Aku tahu, "Kau cantik hari ini, kemarin, esok dan seterusnya" :D


Baiklah, kurasa semua jelas.

Kau hanya akan mengerti saat kau pun merasakannya. Dan sepertinya, kau pun merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Jika kusebut ini cinta, entah apa yang ada dibenakmu? Dari semua cerita tentang rindu, cerita tentang sepi dan cinta, namamu selalu kutuliskan dalam kumpulan huruf yang selalu kau tanyakan. Langkahku mungkin hanya sampai disini, setelah kau mengerti apa yang aku rasakan. Aku masih bingung...

Aku tidak pernah menginginkanmu pergi, bahkan aku menginginkanmu. Lebih dari apa yang kau pikirkan, untuk saat ini biarkan semua tetap berjalan sepeti biasa, hingga kudengar kabar kau sendiri. Saat itu, akan ada sedikit keberanian untuk memanggilmu membantuku mengurai sepi.

Kau bukan seseorang yang berada dalam ruang sepi, kau punya seseorang yang kau anggap dia memberimu warna. Dan sangat jelas bagiku, orang itu jauh lebih baik dari aku yang saat ini masih berada pada titik-titik rendah. Kutarik nafas panjang, kupikir kau akan bahagia bersamanya tidak dengan manusia seperti aku.

Tanyaku kau jawab, saat malam menutup hariku di ruang khayal. Biar saja aku tenggelam dalam khayal, selalu hadirmu kutunggu. Kau bisa rasakan apa yang aku rasakan. Bagiku itu pun sudah cukup, kau dalam ruang istimewa saat ini. Biarpun kau tidak akan menemuiku, biarpun kau tidak mengindahkan hadirku, biarpun kau memilih dia, aku tetap disini. Menunggu kau beriku satu kesempatan...

Pintaku., tetaplah bersamanya. Tak perlu risaukan rasaku. Ini salahku jika harus terjebak sepi di jalan yang kupilih. Aku tetap akan mendengar masalahmu jika kau ingin bercerita, bahagia itu dari senyum sederhanamu. Jika dia yang memberimu warna dan senyum, kenapa harus kau tinggalkan? Bukankah akan lebih indah jika kau bersama dia,

All is well (3 idiots)

Aku mencintaimu, ketika hamparan rindu menerpa relung putih. Tempatku mengubur rahasia hatiku sendiri.

Titik..,

Kembali aku dalam titik-titik yang nantinya akan menarik garis, menuju satu sumbu yang aku belum pahami namanya. Sekiranya aku tidak mampu menjadi garis, dan selamanya harusnya menjadi titik-titik kecil yang akan tertutup oleh tulisan-tulisan atau tertutupi oleh lembaran-lembaran kertas miliknya. Kecuali karena kau.

Tetap menjadi titik, tanpa kau yang menarik satu garis. Kemudian aku menusukkan sebuah jarum kecil pada kain hijau, jarum itu pemberian teman kecilku. Dari titik kecil itu, aku belajar dari jarum. Terus mencari tempat, terus membuat titik-titik. Tanpa ada benang, hanya akan menjadi titik saja. Bukankah titik itu nantinya akan menjadi garis?

Entahlah, aku bukanlah jarum yang menciptakan titik itu. Titik itu hadir dari sebuah dimensi. Yang kusebut itu "Dimensi Cinta".Jika selamanya harusnya menjadi titik, biarlah.

Kuanggap, itu yang terbaik dan paling terbaik untukmu. Aku masih belum yakin, mungkin aku hanya akan merasakannya sendiri. Kau tidak.

Kau tidak akan membalas, mungkin.

Dimensi Cinta

Kukenal kau dalam persinggahan

berteduh dari tetesan hadiah sang awan

kusapa senyummu untuk batin

sebab waktu melempariku kenangan


Kupetik mawar putih

sebagai isyarat untuk sumpah

biru gelap merasuk pribadiku

waktu kian berlari sangat kaku


pikiranku pecah menebar kesepian

hatiku tertelan dimensi perbedaan

tentang cinta yang meringkus ingatan

melelahkan langkah penuh ketenangan


kini, biar aku melalui hidup

menerjang atau terjebak dalam gelap

cintaku kubingkai dalam pikiran

menikmati tawamu dalam dimensi kenangan

Selasa, Agustus 2

Tentang Tanyamu dan Tanyaku,

Malam masih menyampaikan pesan yang seharusnya kau mengerti, tentang bulan sabit dan para bintang yang senantiasa setia pada indahnya langit.

Baiklah, mungkin setelah kau membaca postingan-postinganku, mungkin kau akan merasakan dan mengerti apa yang ada dalam pikiranku saat ini. Kau akan kebingungan melihat hariku yang aneh, dan tidak pernah terpikirkan olehmu sebelumnya.

Semua tidak pernah seperti ini, di benakmu aku bukanlah siapa-siapa yang tiba-tiba harus bersembunyi dalam bahagiamu sendiri. Benarlah para pendahulu, jika harus mengatakan bahwa cinta mematikan logika.

Kau akan bertanya sendiri, entah dengan dirimu sendiri atau orang lain. Jika kau mampu mengerti dengan tulisanku, tak perlu ragu.

Semua benar, kau itu adalah mahluk yang tidak kupahami hadirmu dalam beberapa hari ini. Waktu tidak pernah memberi alasan kuat, mengapa menghadirkanmu dalam setiap detik. Aku yang setia menunggu jawaban darinya, memberi alasan dan sepatah kata penyemangat. Itu cukuplah.!

Aku ingin mengatakannya, dan bertanya secara jujur padamu. Namun nantinya akan percuma, aku sudah cukup mengerti. Ini tentang kesadaran cintaku dalam mencintaimu, masih tentang posisiku yang tak pantas, masih dari hadirku yang tak bermakna, masih dari kekuranganku yang merepotkan. Semua menyatu mendukung kebisuanku. Dan setiap malam, yang biasa kulakukan hanya meniup teh hangat yang kubuat untuk menghargai sepiku di malam hari, hangatnya sungguh menenangkan pikiranku.

Kau masih bertanya? Apakah ini aku?

Tak perlu, yakin saja.

Orang yang kumaksud adalah kau yang saat membaca ini merasakan hal yang berbeda dengan orang lain. Caraku mengenalmu adalah sesuatu yang sungguh menyenangkan, namun tidak pernah berharap lebih meskipun nyatanya aku harus merasakan rasa yang tidak pernah kuharapkan. Sungguh ini cinta, yang hadir tanpa alasan.

Kau,

Jika saja aku bertanya, bisakah kau menjawabnya dengan ya?
Jika saja aku berharap, bisakah kau menghargai harapanku?
Jika saja aku ingin menunggu, bisakah kau menyambutnya?

Sulit jika kau seperti itu, aku bukan dia yang membuat harimu penuh senyum, malam yang penuh rindu, dan dia pula yang mengurai setiap sepimu. Bukan aku, yang hari ini hanya bisa duduk termenung memandang sabit malam ini.

Sebelum kau tertidur, lihatlah sabit. Andaikan dua titik yang terpisah dari ujung sabit itu adalah kau dan aku, maka aku ingin berada disana hingga purnama. Berharap bertemu denganmu. Aku tersenyum.

Maaf, jika selama ini harus merepotkan atau postingan ini membuatmu jengkel. Tapi, aku pun belum memastikan, kau baca atau tidak pernah, yang harus kau pahami adalah seluruh tulisan blog ini terinspirasi dari kau. Dari caramu menganggapku ada, caramu menilaiku, serta caramu menanggapi inginku.



Inginku sederhana, jika saja saat kau membaca postingan ini kau mengerti dengan jelas apa yang kurasa, tentang apa yang saat ini kujalani, kuingin kau melukiskan perasaanmu lewat kata-kata. Kau bisa titip pada bintang-bintang, atau membiarkan anging mamiri mendekapnya sebelum kau jelaskan padaku. Cukup isyarat sederhana, jawab saja! Adakah harapan untukku atau aku harus menghentikannya. Kupikir rumput akan membantuku, memulihkan hati, menerima isyarat, dan menghargai jalanmu.

Sungguh, aku telah jatuh cinta pada senyummu yang sederhana.

Pagi ini Untukmu

Kuawali pagi dengan menuliskan namamu dalam sebuah catatan kecil yang kusimpan di samping kamus besar Bahasa Indonesia kamarku, agar saat aku kehabisan kata-kata, langsung saja aku bertanya pada kamus. Yang kulakukan adalah memanfaatkan apa yang aku rasakan pagi ini dan kutulis apa yang kurasakan. Meskipun terkadang aku harus bingung sendiri melihat apa yang kutulis, entah berubah jadi tulisan singkat atau menjadi cerpen. Yang jelas, kusempatkan untuk menulismu dalam gelombang rasa yang semakin berbahaya.


Kuajarkan pada diriku sendiri untuk menjadi rumput, mengertilah tentang rumput!

"Kenapa harus seperti ini dan begitu?" tanyaku dalam hati.

Pertanyaan yang nantinya akan menjawab hari yang cerah untuk hidup yang kian menikam. Berat namun inilah hidup yang harus dijalani. Termasuk dengan hadirmu, harusnya aku tidak menambahkan namamu dalam catatanku. Namun , aku sendiri tidak mengerti dengan hari ini.

Kau mungkin bisa menjelaskan, tapi sejauh ini kau hanya terus bermain-main dan tidak memberi sedikit jawaban. Atau bisa jadi, aku yang salah dalam memperhatikan hari-harimu.

Penggalan puisi KG mungkin bisa mewakili perasaanku pagi ini.,

Kusucikan bibirku dengan api suci untuk
berbicara tentang cinta
Tetapi saat bibirku kubuka untuk bicara,
kudapati diriku diam membisu
Aku biasa mendendang lagu cinta, sebelum
aku memahaminya
Tetapi ketika aku mengerti,
Segala kata dari mulutku jadi tak bernilai
Dan nada-nada cinta dalam dada jatuh ke
dalam keheningan yang dalam
Wahai manusia, di masa lalu padaku kalian
bertanya tentang rahasia dan misteri cinta
Lalu aku jawab dan puaslah engkau
Tetapi kini, cinta itu menghiasiku
dengan baju kebesarannya
Maka giliranku padamu bertanya
tentang jalan-jalan cinta clan keajaibannya
adakah diantara kamu yang dapat menjawabku?

Senin, Agustus 1

Kutuliskan RasaKu,

Ada kalanya kita harus mundur, harapan kemarin dan bahagia kemarin mungkin bukanlah yang terbaik untuk kita. Tuhan selalu memberikan yang terbaik, dan saya selalu merasakan hal tersebut. Hidup ini selalu indah, tak ada yang buruk. Jika saja kau bisa menemaniku untuk mengurai sepi dan berbagi cerita disini. Tapi, sudahlah.!!!

Kemarin teman mengingatkan apa yang pernah aku sampaikan padanya sendiri, tepat saat dia galau dengan cintanya. Pesan saya saat itu, "Jika memang bahagiamu disana, perjuangkan saja!". Kalimat yang dulu aku sampaikan akhirnya dia dengar, dan hari ini dia sudah mendapatkan itu. Sewaktu sang teman ini melihat postingan saya yang serba galau, dia juga memberi semangat saling menguatkan. Sekaligus mengingatkan apa yang pernah saya ucapkan.



Aku tersenyum, senang punya teman sepertimu. Kupanggil kau HIU.., hewan favoritnya lumba-lumba tapi karena kupikir kau harus lebih hebat dari lumba-lumba, kupanggil saja kau HIU. Jangan marah nah...., :D Penghormatan tertinggi kupersembahkan padamu....

Terima Kasih telah mengingatkan kalimat itu. Tapi masalahnya, kau tidak mungkin mengganggu orang yang telah bahagia. Aku tidak akan pernah mencoba seperti itu, jika dia telah punya tempat sendiri cukuplah aku yang merasa sepi tanpa harus mengusik hari-harinya. Semuanya salah saya, yang harus menyimpan rasa pada ruang yang telah termiliki.

Postingan ini untuk menjawab pertanyaanmu, kenapa harus diam? Aku diam karena itulah yang terbaik, kalau bisa ingin kutanam sepiku, nantinya akan berbuah bahagia. Di Dimensi yang berbeda, kau akan mengerti.

Kesalahan ini tidak perlu dia mengerti, mungkin hanya butuh waktu untuk bertahan atau pergi jauh.

Menurut harus apa? Ceritamu sudah indah, maaf harus berbagai galau lagi....