Rabu, Juli 27

Untukmu, Aku Berbohong


Ada kalanya aku bersembunyi dalam tiap senyum yang kulahirkan di depanmu. Meskipun kau menganggapnya biasa saja, sementara aku tersenyum hanya untuk menegarkan hati yang terabaikan oleh hadir sepi tak teruraikan, sebelum sepi menjadi raja di pertemuan kita, aku ingin kau mengerti. Kemanapun seruan angin berhembus meneriakkan kebebasannya, tetap aku merasa dalam lilitan kepalsuan yang sejati. Jadikan saja aku angin itu, dan kau yang menggenggam derita ini.

Biar aku berbohong, tatap matamu tetap menyiksa batin yang tergerus oleh dimensi waktu yang menyakitkan. Aku tidak mengungkapnya, biar aku berbohong saja, agar kau tak terusik. Jurang dengan hitamnya menanti walau indahnya di persimpangan jalan tempat aku menemanimu menunggunya terdengar memilukan. Seseorang yang kau anggap pengurai sepimu, penghapus sedihmu, dan pemberi warna setiap pelangi-pelangi hidupmu.Dia yang kau tunggu, sempurna dan hebat.

Tak habis pikir akan begini jadinya, bermain dengan awan yang terus berkelana meninggalkan teduhku dan di balik pohon besar itu, aku merindukanmu. Sekiranya angin menahanmu agar awan tetap meneduhkan hari-hariku yang sepi, bukan rindu namun aku selalu melihat ke langit, menunggu awan bercerita bersama teman-temannya. Hingga sepakat menurunkan tetesan hujan yang aku rindukan.

*Semoga esok ada hujan agar kita menikmati hari yang penuh dengan kecewa.

"Belajar Berbohong dan Kau Percaya!!! Kau Percaya bahwa aku tidak mencintaimu?"


Jawabmu...., apa jawabnya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar