Jumat, Juli 22

Rumput pun Berbohong...

Kupastikan kau nantinya akan bosan dalam menghadapi caraku yang sederhana dalam bercerita, aku sebenarnya bukanlah orang yang suka untuk bercerita namun kubiarkan inginku berkuasa sehingga aku mampu bercerita. Dalam ceritaku itu, aku hanyalah sebuah semut kecil yang nantinya jika kau sudah bosan, kau bisa memberiku jalan untuk mencari tempat baru yang bisa lebih tenang dan damai.

Aku tetaplah rumput yang meski diceritakan sebagai semut, tetaplah rumput sehingga aku lebih memilih untuk kau sebut rumput daripada semut. Kemarin malam, aku kedatangan tamu yang menjelaskanku arti dari sebuah pengorbanan untuk menikmati kekuatan tersembunyi dari cinta. Mau baca ceritanya?

Tapi, jika aku bercerita aku bisa malu pada semut merah yang berbaris di dinding.

Baik, sedikit saja. Tapi jelas aku tidak akan menceritakan kisah semut yang penuh dengan pengorbanan untuk memperjuangkan perasaannya.

Setiap perasaan memiliki kekuatan, benarkah demikian? Kemarin aku mendapatkan nasehatmu, pagi ini kucoba renungkan setiap perkataan-perkataan bijakmu padaku.

***
Engkau ada dan telah menangkan hatiku, hari-hari kemudian berbeda. Dimensi kian memutar balikkan logika yang telah tersimpan rapi dalam pikiranku. Jelas, aku telah merasa ada yang berbeda dengan sikapku terhadapmu. Sulit bagiku untuk mengatakan ini cinta, jarang aku merasakan cinta. Aku tak mudah untuk jatuh cinta, namun ketika aku terjatuh aku sulit untuk mencari yang lain.

Aku menuduh angin tidak mampu memberiku suatu harapan, aku mencaci tanah yang meumbuhkan rumput yang selalu berteman sepi, namun pada mentari pagi ini aku tegaskan bahwa aku telah terjebak dalam langkahku sendiri. Tetaplah bersinar, jika kau mampu menghanguskan akar-akar itu, bekerjasamalah dengan tanah yang siap membunuhku.

Hati terkadang berkata tak mampu, selesai atau tidak selesai. Jalanku kian melambat, dan dia semakin jauh. Meskipun aku menjadi semut, aku tak bisa mendapatkannya.

Yang kupercaya saat ini, kalau kau mencintai rumput yang berteman sepi. Datanglah memberinya sedikit ceritamu. Maafkan ketidakjujuranku, bagiku kaulah warna baru hari ini.

Kukatakn dengan sederhana di pagi yang nantinya kau hadiri, aku telah salah mengartikan sikapmu. Aku telah menjebak langkahku sendiri, dan kupikir tak mengapa jika aku tetap disini. Merasakan anging mamiri, melihat lukisan langit, dan ada awan yang kan meneduhkan perihku. Jangan ada Barubu yang mengganggu tarian rumput, cukup kau saja yang menggangguku.


Aku dalam bahagia yang tidak kau mengerti. Aku dalam sepi yang tidak pernah kau sentuh, aku tersenyum dalam ruang rindu yang mulai kujalani. Di balik awan, ada berkas cahaya yang menghubungkan rasaku dan rasamu, jika mendung lanjutkan saja menjadi hujan, rumput akan bahagia jika itu berubah menjadi air-air langit yang memberi bahagia pagi ini.

*Sepertinya pagi ini sepi mulai merindu pada hadirmu.

4 komentar:

  1. hmmm.. sungguh aku suka rangkaian kata demi kata dari tulisannya sob,, indah sekali...

    btw, blog baru ya?

    BalasHapus
  2. Blog baru mba...,makasih dah follw.! :D

    BalasHapus
  3. keren2, suka banget sama kata2 yang begini :D

    BalasHapus